Pelatih kepala Timnas Inggris, Thomas Tuchel, memanggil kembali Trent Alexander-Arnold dan Cole Palmer ke skuad untuk pertama kalinya sejak Piala Dunia. Bek kanan Real Madrid dan penyerang Chelsea itu sebelumnya sempat dicoret dari rombongan yang dibawa ke turnamen musim panas di Amerika Utara, sebuah keputusan yang menuai banyak pertanyaan. Kini keduanya masuk lagi ke skuad Timnas Inggris untuk empat pertandingan Nations League pada jeda internasional panjang yang dimulai setelah laga-laga klub akhir pekan ini.
Pemanggilan ini menandai babak baru bagi kedua pemain sekaligus menegaskan bahwa Tuchel tidak benar-benar menutup pintu bagi siapa pun yang sempat ia tinggalkan. Posisi Tuchel sendiri selalu menjadi sorotan karena ia baru menangani Inggris menjelang Piala Dunia 2026, dan kegagalan di semifinal melawan Argentina membuat gaya bermain serta pilihan pemainnya jadi bahan perdebatan publik. Dengan empat laga Nations League yang menanti, ia dituntut membuktikan bahwa rotasi skuadnya berjalan sesuai rencana.
Skuad Timnas Inggris Kembali Terbuka untuk Alexander-Arnold dan Palmer
Alexander-Arnold, 27 tahun, terakhir kali memperkuat Inggris saat ia masuk sebagai pemain pengganti pada kemenangan 1-0 atas Andorra pada Juni 2025. Laga itu menjadi cap ke-34 bagi bek kanan tersebut, dan setelahnya namanya tak lagi muncul dalam daftar pemanggilan. Bersama Real Madrid musim ini, ia sudah tampil lima kali dengan tiga di antaranya sebagai starter dan mencatatkan satu assist.
Sementara itu, Palmer, 24 tahun, terakhir bermain untuk Inggris pada kekalahan 1-0 dari Jepang dalam laga persahabatan pada Maret. Catatan statistiknya bersama Chelsea musim ini terbilang produktif dengan empat gol dan dua assist dari enam pertandingan. Angka-angka inilah yang membuat Tuchel akhirnya menariknya kembali ke dalam skuad.
Tuchel menyebut kedua pemain tidak pernah melakukan kesalahan apa pun hingga layak dicoret permanen. Menurutnya, pencoretan sebelumnya murni soal pilihan pemain yang berbeda, bukan penilaian buruk terhadap kualitas mereka. Kini, dengan kompetisi baru yang dimulai, kondisi skuad berubah dan pintu kembali terbuka lebar.
Alasan di Balik Pencoretan Sebelumnya
Keputusan Tuchel meninggalkan Alexander-Arnold dan Palmer dari skuad Piala Dunia menjadi salah satu topik paling kontroversial sepanjang turnamen. Saat itu, Tuchel memilih pemain-pemain lain yang dianggapnya lebih sesuai dengan rencana permainan yang ingin ia terapkan. Ia bahkan secara terbuka menegaskan bahwa keputusan itu diambil dengan sadar dan bukan karena ada masalah pribadi dengan kedua pemain.
Dalam konferensi pers kali ini, Tuchel menjelaskan bahwa situasi sudah berbeda karena kini memasuki kompetisi baru. Sejumlah pemain di beberapa posisi mengalami cedera, sementara yang lain justru dalam kondisi lebih siap. Faktor kebugaran dan performa di level klub menjadi pertimbangan utama sebelum ia menyusun daftar pemain.
Khusus soal Palmer, Tuchel menilai penyerang Chelsea itu sudah kembali menemukan bentuk terbaiknya. “Cole sudah kembali punya angka, assistnya kembali, gol-gol penentunya kembali, itu sebabnya dia ada di skuad,” ujar Tuchel. Ia juga menyebut Palmer punya sesuatu yang ingin dibuktikan, dan hal yang sama berlaku untuk Alexander-Arnold.
Untuk Alexander-Arnold, Tuchel menegaskan bahwa ia memanggilnya sebagai bek kanan, meski pemain tersebut sempat dimainkan di lini tengah saat Real Madrid mengalahkan Inter Milan di Liga Champions awal bulan ini. “Dia memulai dengan baik di dua posisi untuk Real Madrid, dan dia datang sebagai bek kanan untuk kami,” katanya. Menurut Tuchel, nama Alexander-Arnold sebenarnya tidak pernah benar-benar keluar dari daftar pertimbangan tim.
Pesan Tegas Tuchel: Nominasi Bukan Jaminan Tempat
Meski memanggil kembali keduanya, Tuchel langsung memberi peringatan keras bahwa pemanggilan bukan jaminan apa pun. Ia menegaskan satu-satunya cara mempertahankan tempat adalah tampil, karena persaingan di dalam skuad berjalan ketat. “Dia harus tampil, itu saja. Ini kompetisi,” ujarnya menegaskan.
Tuchel mengaku memahami mengapa banyak pihak mempertanyakan keputusannya memanggil kembali Alexander-Arnold setelah sang pemain tidak ikut ke Piala Dunia. Namun ia tetap berpegang pada keputusan lamanya dan menyatakan kini saatnya bagi pemain tersebut memperjuangkan tempatnya. Ia menyebut Alexander-Arnold selalu mengatakan siap bertarung untuk posisinya, terutama di Timnas Inggris.
Pesan serupa ia sampaikan kepada Palmer. Menurut Tuchel, mendapatkan tiket kembali ke skuad adalah satu hal, tetapi tampil untuk Inggris adalah hal yang sama sekali berbeda. “Cole perlu menaikkan levelnya saat datang dan menunjukkan angka-angka seperti itu untuk mendapatkan tempatnya, mempertahankan kausnya, dan menjustifikasi pemanggilan ini,” jelasnya.
Dalam wawancara dengan BBC Radio 5 Live, Tuchel menyebut pesan ini berlaku untuk semua pemain, bukan hanya Alexander-Arnold. Ia mengingatkan bahwa tidak ada yang tahu kapan kesempatan berikutnya bermain untuk Inggris akan datang. Karena itu, ia meminta para pemain tampil maksimal dengan sikap yang benar. “Kalau kalian datang ke pemusatan latihan, ini bukan sekadar jeda internasional, ini jendela internasional,” tegasnya.
Wajah yang Absen dan Nama yang Kembali Dipanggil
Di luar kembalinya Alexander-Arnold dan Palmer, Tuchel juga memanggil sejumlah nama yang sebelumnya sempat mengisi skuad pra-Piala Dunia. Gelandang Bournemouth, Alex Scott, serta pemain sayap Liverpool, Rio Ngumoha, kembali masuk daftar. Nama Dominic Calvert-Lewin juga disertakan setelah tiga golnya di kompetisi tertinggi Inggris membantu Leeds United bertengger di peringkat ketiga Premier League.
Tuchel turut memilih bek kiri Newcastle United, Lewis Hall, bek tengah Everton, Jarrad Branthwaite, pemain Arsenal Myles Lewis-Skelly yang bisa bermain sebagai bek kiri atau gelandang, serta kiper Brighton, Jason Steele. Sebaliknya, lima pemain yang ikut ke Piala Dunia harus absen, yaitu Dean Henderson, Jordan Henderson, Reece James, Djed Spence, dan John Stones. Tuchel menjelaskan bahwa mereka tidak dipanggil karena alasan cedera.
Selain Phil Foden dari Manchester City yang kembali diabaikan, sejumlah nama besar lain juga tidak masuk daftar. Mereka adalah Morgan Gibbs-White dari Nottingham Forest, Adam Wharton dari Crystal Palace, dan Harry Maguire dari Manchester United. Absennya nama-nama ini menunjukkan bahwa Tuchel tengah melakukan perombakan bertahap pada komposisi skuadnya.
Empat Laga Nations League Menanti
Laga-laga Nations League ini akan menjadi penampilan pertama Inggris sejak Piala Dunia 2026, di mana mereka tersingkir di semifinal oleh Argentina. Saat itu Inggris sempat unggul 1-0, tetapi kebobolan dua gol di akhir pertandingan. Mantan kapten Inggris, Wayne Rooney, menilai tim “runtuh” dan menjadi terlalu pasif, yang menurutnya berawal dari sang pelatih dan keputusan-keputusan yang ia ambil.
Meski gagal melaju ke final Piala Dunia pria pertama dalam 60 tahun, Inggris menutup turnamen dengan kemenangan dramatis 6-4 atas Prancis pada laga perebutan medali perunggu. Inggris bahkan sempat memimpin 4-0 di babak pertama sebelum Prancis mencetak empat gol balasan. Hasil itu menjadi salah satu pertandingan paling menghibur sepanjang turnamen.
Jadwal Inggris dimulai dengan menjamu juara Piala Dunia, Spanyol, di Wembley pada Sabtu, 26 September. Setelah itu mereka bertandang ke Republik Ceko pada Selasa, 29 September, lalu ke Kroasia pada Sabtu, 3 Oktober. Republik Ceko kemudian kembali bertandang ke Inggris pada Selasa, 6 Oktober untuk menutup rangkaian laga.
Daftar Lengkap Skuad Timnas Inggris
Kiper
- Jordan Pickford (Everton)
- Jason Steele (Brighton)
- James Trafford (Leeds United)
Bek
- Trent Alexander-Arnold (Real Madrid)
- Jarrad Branthwaite (Everton)
- Trevoh Chalobah (Como)
- Marc Guehi (Manchester City)
- Lewis Hall (Newcastle United)
- Ezri Konsa (Arsenal)
- Tino Livramento (Newcastle United)
- Nico O’Reilly (Manchester City)
- Jarrell Quansah (Bayer Leverkusen)
Gelandang
- Elliot Anderson (Manchester City)
- Jude Bellingham (Real Madrid)
- Myles Lewis-Skelly (Arsenal)
- Kobbie Mainoo (Manchester United)
- Cole Palmer (Chelsea)
- Declan Rice (Arsenal)
- Alex Scott (Bournemouth)
Penyerang
- Dominic Calvert-Lewin (Leeds United)
- Eberechi Eze (Arsenal)
- Anthony Gordon (Barcelona)
- Harry Kane (Bayern Munich)
- Rio Ngumoha (Liverpool)
- Marcus Rashford (Manchester United)
- Morgan Rogers (Chelsea)
- Bukayo Saka (Arsenal)
Refleksi Piala Dunia dan Keinginan Berkompromi dengan Chaos
Tuchel mengaku semakin banyak merenungkan perjalanan Inggris di Piala Dunia dan mulai mengubah pandangannya soal gaya bermain. Ia menilai timnya perlu lebih memanfaatkan kekuatan para pemain, seperti yang terlihat pada babak kedua melawan Kroasia dan babak pertama melawan Prancis. Menurutnya, pendekatan itu memberi nilai lebih sekaligus membangun kedekatan dengan para penggemar, seperti yang tercermin di Premier League.
Ia mengakui bahwa sepak bola tanpa kendali kadang sulit dicerna seorang pelatih, terutama jika melihat hasil 6-4 melawan Prancis. Namun ia menyadari bahwa pertandingan itulah yang justru dibicarakan penggemar sebagai salah satu pengalaman paling menyenangkan. Karena itu, Tuchel menyebut mungkin dirinya perlu berkompromi dengan keinginannya mengontrol permainan dan menerima lebih banyak chaos. “Kami akan menyesuaikan gaya, tetapi selalu dengan menempatkan kekuatan pemain sebagai prioritas utama,” ujarnya.
Soal kritik terhadap pergantian pemain defensifnya setelah kekalahan dari Argentina, Tuchel tampak tidak terlalu mempersoalkannya. Ia menilai 99,9 persen penggemar tidak membicarakan soal pergantian pemain atau hal-hal taktis. Menurutnya, yang dibicarakan penggemar adalah di mana mereka menonton laga melawan Meksiko, energi babak kedua melawan Kroasia, atau betapa menegangkannya menyaksikan laga kontra DR Kongo. “Itulah gunanya Piala Dunia, menghubungkan orang dan memberi mereka pengalaman yang tak terlupakan. Itu membuat saya bangga,” katanya.
Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) telah melakukan evaluasi terhadap kampanye Piala Dunia Inggris, yang oleh Tuchel digambarkan sebagai proses yang kadang menyakitkan dan emosional. Meski begitu, ia merasa mendapat dukungan penuh dari para atasannya selama turnamen berlangsung. Ia menegaskan tidak pernah ada keraguan, baik dari dirinya maupun dari mereka, bahwa kerja sama akan dilanjutkan.
Dukungan Tuchel untuk FA di Tengah Tekanan terhadap FIFA
Salah satu momen spesial yang dikenang Tuchel adalah kemenangan 3-2 atas tuan rumah bersama, Meksiko, di Stadion Azteca, meski Inggris harus bermain dengan 10 orang selama sebagian besar babak kedua setelah kartu merah Jarell Quansah. Sebelum laga itu, Tuchel mengaku berbicara dengan para atasannya yang menyatakan memahami bahwa apa pun bisa terjadi di sebuah pertandingan sepak bola. “Itu momen yang indah bagi saya sebagai pelatih,” tuturnya.
Sejak Piala Dunia, Presiden FIFA Gianni Infantino menghadapi tekanan yang meningkat setelah kegagalan rencana menjual sebagian saham kompetisi kepada investor swasta. Ia juga disorot karena cara penangguhan hukuman penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun, dicabut. Balogun sempat dikartu merah saat timnya mengalahkan Bosnia-Herzegovina di babak 32 besar, tetapi tetap diizinkan bermain melawan Belgia di babak 16 besar, padahal ia seharusnya menjalani larangan satu pertandingan. Hal itu terjadi setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, meminta FIFA meninjau kembali keputusan tersebut.
FA telah menarik dukungannya terhadap pencalonan kembali Infantino dan memintanya merilis seluruh dokumen terkait kedua kontroversi itu. Tuchel menyatakan bahwa karena ia mendapat dukungan dari para atasannya, hal minimal yang bisa ia lakukan adalah mendukung mereka. Ia menegaskan memberikan dukungan penuh atas sikap FA tersebut dan bersyukur masih bisa berbicara soal sepak bola, bukan politik olahraga.
Dengan komposisi skuad yang baru dan gaya bermain yang mungkin lebih terbuka, empat laga Nations League ini akan menjadi ujian awal bagi arah baru yang ingin dibangun Tuchel bersama Timnas Inggris.
