Penulis: copacobana99 – Penulis spesialis sepak bola dan analisis taruhan olahraga, fokus pada data, gaya main tim, dan dinamika turnamen besar. Rutin membedah Piala Dunia, Liga Champions, dan liga top Eropa untuk membantu kamu mengambil keputusan lebih terukur di dunia prediksi dan parlay.
Kalau di level klub Paris Saint-Germain datang ke Eropa sebagai juara bertahan dengan musim yang naik-turun, di turnamen piala dunia 2026 kamu juga akan melihat beberapa negara datang dengan label serupa: “masih juara bertahan” atau “masih generasi emas”, tapi performanya tidak selalu stabil. PSG musim 2025-26 tetap menyimpan inti juara, 10 dari 11 starter final Liga Champions musim lalu masih bertahan, namun cedera membuat banyak di antara mereka jarang mencapai 60% menit bermain musim ini. Di sisi serangan, Ousmane Dembélé dan Désiré Doué bahkan baru mencatat sekitar 35–36% menit bermain sebelum 2026 bergulir, dan itu mengubah ritme tim secara signifikan. Kondisi serupa berpotensi muncul di negara-negara kuat Piala Dunia yang datang dengan skuad bintang, tapi banyak pemain kuncinya baru pulih atau belum ritmis.
Format Turnamen Piala Dunia 2026: 48 Tim, 12 Grup, 104 Laga
Piala Dunia 2026 akan menggunakan format baru yang sudah disahkan FIFA: 48 tim peserta, dibagi ke dalam 12 grup berisi 4 negara. Dari sini, juara grup, runner-up, dan 8 tim peringkat ketiga terbaik lolos ke babak 32 besar, sehingga total pertandingan membengkak dari 64 laga di Qatar 2022 menjadi 104 pertandingan. Turnamen diperkirakan berlangsung sekitar 39 hari kompetisi, plus masa persiapan resmi kurang lebih dua pekan sebelum laga pembuka, sehingga total “blok waktu” turnamen menjadi sekitar 6–7 minggu.
Turnamen juga untuk pertama kalinya digelar di tiga negara sekaligus: Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, dengan 16 kota tuan rumah tersebar dari New York/New Jersey, Los Angeles, Dallas hingga Mexico City, Guadalajara, Toronto dan Vancouver. Buat kamu yang ingin serius di turnamen mix parlay World Cup 2026, kombinasi format dan geografis ini berarti: jadwal super padat, perbedaan iklim dan ketinggian, serta jarak tempuh yang berpotensi memengaruhi performa fisik dan mental pemain. Negara yang mengandalkan intensitas tinggi seperti gaya PSG di puncak performanya mungkin tampil luar biasa di satu kota, tapi sedikit menurun setelah perjalanan panjang ke venue lain.
Read more