Kapten Celtic, Callum McGregor, melontarkan kritik tajam terhadap penampilan timnya usai kekalahan Celtic dari Rangers dengan skor 3-0 di Ibrox pada laga perempat final Piala Liga. Gelandang senior itu menilai ada perbedaan mencolok antara kedua kubu: Rangers tampil sebagai satu kesatuan tim, sementara Celtic justru bermain seperti sekumpulan pemain yang berjalan sendiri-sendiri.
Kekalahan ini menjadi pukulan berat bagi Celtic karena mereka datang ke Ibrox dengan catatan sempurna di kompetisi domestik. Kini, tim asuhan Martin O’Neill tersebut harus segera berbenah, sebab agenda mereka sangat padat: laga lanjutan Liga Primer Skotlandia menghadapi Rangers di kandang sendiri, serta pembuka kampanye Liga Europa melawan Ferencvaros di Glasgow pada Kamis pukul 20.00 waktu setempat.
Kritik Pedas McGregor soal Kekalahan Celtic dari Rangers
Dalam wawancaranya setelah pertandingan, McGregor tidak berusaha mencari alasan. Ia justru memakai perbandingan sederhana namun menusuk untuk menggambarkan perbedaan sikap kedua tim. Menurutnya, Rangers bermain dengan disiplin kolektif, sedangkan rekan-rekannya lebih sibuk mengejar keinginan masing-masing.
“Rangers adalah sebuah tim, dan kami terlihat seperti sekumpulan individu yang ingin melakukan hal sendiri-sendiri, bermain saat mendapat bola, dan tidak selalu berlari ketika kami tidak menguasai bola,” ujar sang kapten. Ia menegaskan bahwa sikap seperti itu tidak bisa ditoleransi, terutama ketika bermain di markas lawan yang atmosfernya menekan.
McGregor juga menyoroti masalah pertahanan timnya. Menurutnya, mustahil bagi sebuah tim bertahan hanya dengan enam pemain sementara yang lain enggan turun membantu. Ia menilai intensitas lari menjadi hal paling dasar yang wajib dilakukan di Ibrox, dan Celtic gagal memenuhi syarat paling mendasar itu.
Kronologi: Babak Pertama yang Menentukan
Celtic sebenarnya punya peluang membuka keunggulan lebih dulu. McGregor mengakui timnya mendapat beberapa momen berharga di awal pertandingan, dan bila peluang itu dikonversi menjadi gol, jalannya pertandingan bisa berbeda sama sekali. Namun peluang tersebut tidak dimanfaatkan dengan baik.
Sebaliknya, keunggulan Rangers justru lahir dari situasi yang seharusnya bisa dihindari Celtic. Kiper Sam Johnstone melakukan dua kesalahan mencolok, tetapi Celtic tidak mampu menghukumnya. Beberapa saat kemudian, Dan Neil mencetak gol pada menit ke-23 yang mengubah arah pertandingan.
Setelah tertinggal, McGregor mengaku timnya tidak pernah menunjukkan tanda-tanda mampu bangkit. Celtic tercatat berulang kali kehilangan bola di area pertahanannya sendiri, sementara lini depan nyaris tidak memberikan ancaman berarti sepanjang laga. Belum lagi dua kesalahan Johnstone yang gagal dimanfaatkan menjadi gol balasan.
“Ketika kami tertinggal, jujur saja kami tidak terlihat seperti bisa bangkit kembali,” kata McGregor. Ia menambahkan bahwa penampilan Celtic saat itu buruk di hampir semua aspek permainan.
Dampak bagi Celtic: Tekanan Bertambah di Dua Kompetisi
Bagi McGregor, kekalahan ini bukan sekadar kehilangan satu tiket semifinal. Ini merupakan pukulan kedua yang menyakitkan bagi Celtic musim ini. Sebelumnya, mereka gagal mempertahankan keunggulan agregat 4-0 di babak kualifikasi Liga Champions melawan LASK, sebuah kegagalan yang menurutnya seharusnya sudah menjadi peringatan keras bagi seluruh skuad.
Meski begitu, McGregor menolak menyalahkan penguasaan bola semata. Ia menilai masalahnya bukan karena tekanan lawan yang luar biasa besar, melainkan karena kelalaian dan kecerobohan timnya sendiri. Celtic terlalu sering kehilangan bola, yang kemudian membuka ruang bagi serangan balik cepat Rangers — dan McGregor mengakui bahwa lawan memang sangat baik dalam memanfaatkan situasi tersebut.
Ia juga menekankan pentingnya penguasaan bola yang berkualitas jika Celtic ingin mendikte jalannya pertandingan. Menurutnya, keunggulan dalam hal itu tidak pernah benar-benar diraih oleh timnya di Ibrox. Pesan yang ingin ia sampaikan kepada seluruh pemain jelas: kebersamaan sebagai tim harus segera ditemukan, dan itu tidak bisa ditunda lebih lama lagi.
“Kami berusaha menyampaikan pesan kepada semua orang bahwa kami harus menjadi sebuah tim, dan kami perlu menemukan cara untuk melakukannya dengan cepat, karena kami kehilangan pertandingan besar melawan LASK dan kembali kehilangan satu pertandingan besar hari ini,” tambahnya.
Derby Berikutnya dan Konteks Persaingan yang Lebih Luas
Tekanan pada Celtic tidak akan serta-merta mereda. Kamis mendatang, mereka memulai perjalanan di Liga Europa dengan menjamu Ferencvaros di kandang. Hanya beberapa hari setelah itu, Rangers kembali datang ke Glasgow untuk pertemuan di Liga Primer Skotlandia — laga yang diperkirakan menjadi derby ke-50 bagi McGregor sepanjang kariernya.
Bagi seorang kapten, dua pertandingan dalam rentang waktu sesingkat itu menjadi ujian langsung atas seberapa cepat pesannya diserap oleh rekan-rekannya. McGregor mengakui bahwa timnya kini berada dalam posisi tertekan dan wajib memberikan respons, baik pada Kamis maupun pada akhir pekan berikutnya.
Ia juga mengingatkan bahwa standar Celtic sebagai klub besar ditentukan oleh hasil di laga-laga besar. Penampilan tim sejauh musim ini dinilainya masih belum konsisten, dan perbaikan harus segera dilakukan jika mereka tidak ingin kehilangan lebih banyak poin penting. Pernyataan itu sekaligus menggambarkan bahwa masalah yang dihadapi bukan sekadar soal teknis, melainkan juga soal mentalitas kolektif.
Penutup
Kekalahan Celtic dari Rangers di Ibrox menyisakan kritik keras dari dalam ruang ganti, dengan McGregor secara terbuka menyebut timnya tampil sebagai kumpulan individu yang tidak mau berlari dan bertahan bersama. Gol Dan Neil pada menit ke-23, ditambah kelalaian dalam penguasaan bola, menjadi titik balik yang tidak mampu dibalas Celtic sepanjang sisa pertandingan.
Yang tersisa bagi Celtic sekarang adalah respons nyata. Dua laga besar menanti dalam waktu dekat, dan bagi McGregor, jawabannya hanya satu: berhenti bermain sebagai individu, mulai tampil sebagai satu tim, lalu membuktikannya lewat hasil di lapangan.
