Alexander Zverev juara US Open untuk pertama kalinya dalam karier setelah menundukkan Ben Shelton dalam laga final empat set di Flushing Meadows. Unggulan utama asal Jerman itu menang dengan skor 6-3, 7-6 (7-2), 5-7, 6-2 atas petenis Amerika Serikat yang menempati unggulan kedelapan. Gelar di New York ini melengkapi koleksi Grand Slam Zverev pada tahun yang sama, setelah sebelumnya ia menjuarai Prancis Terbuka.
Hasil tersebut sekaligus memupus harapan publik tuan rumah yang menanti-nantikan gelar tunggal putra Grand Slam dari petenis Amerika. Shelton melangkah ke final dengan modal kepercayaan diri tinggi setelah menyingkirkan sejumlah nama besar, tetapi ia harus mengakui keunggulan lawan yang tampil lebih matang. Pertandingan berlangsung tiga jam 33 menit dan ditutup dengan momen yang terbilang tidak biasa.
Jalannya Final: Dominasi Zverev Sejak Game Pembuka
Zverev memulai laga dengan sangat agresif meski menempuh perjalanan panjang menuju partai puncak. Ia langsung mematahkan servis Shelton pada game pembuka, lalu mengulangi hal yang sama tepat di set point untuk menguasai set pertama. Selama dua set awal, Shelton bahkan tidak mampu menciptakan satu pun break point karena servis keras Zverev terus menyulitkan pengembalian bolanya.
Status unggulan utama di sebuah Grand Slam memang baru pertama kali disandang Zverev di turnamen ini. Ia memanfaatkan posisi tersebut dengan permainan disiplin dan minim kesalahan, terutama saat menghadapi tekanan penonton. Di sisi lain, Shelton punya alasan untuk optimistis karena sebelumnya ia belum pernah mengalahkan Stefanos Tsitsipas maupun Carlos Alcaraz, sampai turnamen ini berlangsung.
Zverev kemudian memenangi tie-break set kedua dengan sangat dominan dan berada dalam posisi nyaman menuju gelar. Namun Shelton menunjukkan perlawanan pada set ketiga, ketika servis lawannya mendadak goyah dan ia berhasil mengonversi break point kedua untuk memperpanjang pertandingan. Sempat membangun momentum, harapan petenis Amerika itu pupus setelah Zverev mematahkan servisnya di awal set keempat dan bertahan hingga akhir.
Momen Aneh: Zverev Tak Sadar Dirinya Sudah Menang
Akhir pertandingan berlangsung dengan cara yang nyaris tak pernah terbayangkan di sebuah final Grand Slam. Pada match point, pengembalian bola Shelton melewati garis belakang, tetapi Zverev justru tampak tidak menyadari bahwa laga sudah selesai. Ia memukul bola kembali ke seberang lapangan, bersiap untuk game berikutnya, seolah pertandingan masih berlanjut.
Kesadaran baru datang ketika ia melirik layar besar di stadion dan melihat bahwa dirinya telah menjuarai turnamen tersebut. Zverev mengaku sama sekali salah membaca situasi, termasuk soal skor yang ia yakini masih berjalan. “Saya pikir skornya 5-1! Saya tahu saya sudah dua kali mematahkan servisnya, tapi saya kira dia hanya sekali mempertahankan servis,” ujarnya kepada Sky Sports Tennis.
Ia bahkan sempat merencanakan strategi untuk game servis berikutnya sebelum menyadari semuanya sudah usai. “Saya berpikir: ‘Oke, saya akan santai di game servis ini, lalu tegang di game berikutnya.’ Itu keberuntungan bagi saya,” kata Zverev. “Sebenarnya lucu juga, para pelatih tenis bilang mainkan setiap poin dan lupakan skornya. Nah, saya lupa skornya dan itu justru membantu saya!”
Melepas Label dan Menuntaskan Perjalanan Panjang
Gelar di New York menegaskan transformasi Zverev, yang pada awal tahun ini akhirnya membebaskan diri dari label “pemain terbaik yang belum pernah menjuarai turnamen mayor”. Label itu melekat setelah serangkaian hasil mengecewakan di level Grand Slam, tepat ketika banyak pihak menilai kariernya justru berjalan mundur. Kemenangan di Prancis Terbuka menjadi titik balik yang membuatnya bermain lebih lepas di sisa musim.
Perjalanan Zverev menuju final termasuk salah satu yang paling menguras tenaga. Ia menghabiskan 19 jam 38 menit di lapangan sepanjang turnamen, total terpanjang keempat yang tercatat bagi seorang pemain yang mencapai final Grand Slam sejak 1991. Salah satu kebiasaannya, memantul-mantulkan bola sebelum servis, bahkan memakan waktu sekitar tiga jam dari total lebih dari 23 jam yang ia habiskan di lapangan dan berujung pada pelanggaran waktu.
Sepanjang tahun ini Zverev juga diuntungkan oleh masalah kebugaran serta absennya Alcaraz dan Jannik Sinner pada sejumlah momen. Meski demikian, ia menolak mengurangi makna pencapaiannya. “Ada begitu banyak penderitaan yang dialami keluarga Zverev di level Grand Slam, jadi mungkin 2026 adalah tahun yang seharusnya kami nikmati. Semuanya berjalan sempurna. Saya sangat bahagia,” katanya. “Tiga bulan lalu, kalau ada yang bilang saya akan memenangi satu Grand Slam sepanjang karier dan tidak ada lagi selain itu, saya akan langsung menandatanganinya tanpa bertanya apa pun.”
Mimpi Tenis Amerika yang Harus Ditunda
Shelton datang ke final dengan peluang mencatatkan sejarah bagi tenis Amerika Serikat. Ia berupaya menjadi petenis putra Amerika pertama yang menjuarai tunggal Grand Slam sejak Andy Roddick pada 2003, sekaligus pria kulit hitam kedua yang meraih pencapaian itu setelah Arthur Ashe pada 1975. Ia melangkah ke lapangan dengan sambutan meriah dari 23.000 penonton di stadion yang diberi nama Ashe tersebut.
Deretan penonton ternama turut memeriahkan suasana, termasuk aktor Brad Pitt, Rami Malek, dan bintang James Bond Pierce Brosnan. Brosnan bahkan sempat mendapat sorotan kamera yang menyorotnya saat jam pertandingan baru menunjukkan 0,07. Dari sisi nonteknis, ada pula kisah menarik: kekasih Shelton, Trinity Rodman, menempuh perjalanan sekitar 200 mil dari lapangan sepak bola di Washington ke Queen’s dan tiba tepat waktu untuk masuk ke kotak pendukung pemain.
Meski dukungan itu lengkap, perjalanan tersebut berakhir tanpa hasil yang diharapkan. Shelton tetap bersikap sportif setelah laga dan mengakui kualitas lawannya. “Sascha, selamat atas dua pekan ini, gelar Grand Slam keduamu dan dua dalam satu tahun. Apa yang kamu lakukan luar biasa, cara kamu melakukan servis dan bergerak di lapangan,” ujarnya. “Kamu bekerja lebih keras dari siapa pun yang saya kenal, dan menghabiskan lebih banyak jam di lapangan daripada siapa pun. Untuk New York, kalian yang membawa saya ke sini hari ini. Saya baru saja memulai dan saya akan kembali ke sini lagi.”
Zverev pun membalas penghormatan itu dengan pujian setara. Menurutnya, Shelton baru saja menjalani final Grand Slam pertamanya dan masih punya banyak kesempatan di masa depan. “Ben, kamu pemain yang luar biasa dan pribadi yang luar biasa. Ini final Grand Slam pertamamu, tapi saya sudah bilang kamu akan kembali ke sini berkali-kali, dan kalau saya harus bertaruh dengan seluruh uang saya, saya akan bertaruh kamu suatu hari akan mengangkat trofi ini,” katanya.
Analisis: Pengalaman Jadi Pembeda di Partai Puncak
Mantan petenis nomor satu Inggris, Tim Henman, menilai kunci kemenangan Zverev terletak pada keberaniannya mengubah gaya bermain dalam 12 bulan terakhir. Ia mengingat kembali hasil-hasil Grand Slam Zverev yang sempat menurun, sebelum petenis Jerman itu mentransformasi dirinya menjadi lebih agresif. Menurut Henman, Zverev tampil sangat nyaman karena sudah lima kali berturut-turut mengalahkan Shelton, sehingga tekanan untuk mengubah narasi justru berada di kubu lawan.
Henman juga menyoroti bagaimana set ketiga yang dimenangi Shelton tidak cukup untuk mengubah arah pertandingan. Ia menilai kehilangan servis pada game pertama set keempat justru membuat Zverev lebih tenang dan menambah energinya. Setelah itu, ia melaju mulus hingga garis akhir.
Analisis senada datang dari mantan juara Wimbledon, Marion Bartoli, yang menyebut perbedaan pengalaman sebagai faktor besar. Ia menyoroti game pertama final, ketika Shelton memenangi undian, memilih melakukan servis, tetapi kemudian tertinggal 30-30, gagal menyelesaikan pukulan mudah, dan melakukan double fault sehingga langsung kehilangan servisnya. Bartoli menilai tampil di depan publik sendiri pada final Grand Slam pertama bukan hal yang mudah, karena keinginan menyenangkan penonton bisa berbenturan dengan kebutuhan bermain optimal. Ia juga mencatat Zverev hanya melakukan satu kesalahan tidak dipaksakan di set pertama, dan menegaskan tidak ada hal yang memalukan dari kekalahan Shelton saat lawan tampil sebaik itu.
Terima Kasih untuk Sang Ibu dan Perjuangan Diabetes
Di antara semua ucapan syukurnya, Zverev menyimpan penghormatan paling mendalam untuk ibunya, Irina, yang merupakan mantan petenis profesional. Ia menilai sang ibu berperan besar dalam memastikan diabetes tipe 1 yang didiagnosis sejak usia empat tahun tidak menentukan masa depannya. Keteguhan itulah yang menurut Zverev membuatnya tetap bisa menekuni tenis hingga level tertinggi.
Zverev mengenang bagaimana dokter saat itu menyatakan bahwa kehidupan dan aktivitas olahraganya akan sangat terbatas. “Ketika anak laki-laki Anda yang berusia empat tahun didiagnosis diabetes dan dokter di ruangan itu mengatakan bahwa hidup serta olahraganya akan sangat terbatas, dibutuhkan ibu yang sangat kuat untuk berkata ‘anak saya akan menjadi apa pun yang ia inginkan’,” ujarnya.
Ia menambahkan, sang ibu tidak pernah membiarkan penyakit itu mendefinisikan keluarga mereka. “Kalau dia ingin menjadi petenis, dia akan menjadi petenis. Kalau dia ingin melakukan hal lain, dia akan melakukannya, tapi penyakit ini tidak akan mendefinisikan kami,” kata Zverev. “Saya senang kami melewatinya dan melakukan hal-hal seperti sekarang. Ibu saya adalah orang terpenting dan terkuat yang saya kenal.”
Apa Artinya untuk Peta Persaingan Tenis
Dengan tambahan trofi di New York, Zverev kini mengoleksi dua gelar Grand Slam hanya dalam hitungan bulan setelah bertahun-tahun dianggap belum mampu menuntaskan potensinya. Pencapaian ini menempatkannya sebagai salah satu kekuatan utama di papan atas tenis putra, terutama ketika Alcaraz dan Sinner belum sepenuhnya berada dalam kondisi terbaik sepanjang musim. Bagi pembaca yang mengikuti perkembangan tur, perubahan status Zverev ini mengubah cara lawan-lawan memandangnya di setiap undian turnamen.
Sementara itu, hasil di Flushing Meadows memberi gambaran jelas soal peluang Shelton ke depan. Ia sudah membuktikan mampu bersaing dengan petenis papan atas dan menembus final pertamanya pada usia yang masih sangat muda. Kombinasi servis besar, keberanian mengambil risiko, serta pengalaman berharga di laga puncak membuatnya layak diperhitungkan pada turnamen-turnamen berikutnya, termasuk saat penonton tuan rumah kembali menaruh harapan besar padanya.
Bagi tenis Amerika, penantian gelar tunggal putra Grand Slam yang sudah berlangsung lebih dari dua dekade masih belum berakhir. Namun, penampilan Shelton sepanjang dua pekan ini memperlihatkan bahwa jarak menuju trofi itu tidak lagi terasa begitu lebar. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah Amerika punya pemain yang mampu melaju jauh, melainkan kapan salah satunya benar-benar menuntaskan langkah terakhir.
Kesimpulan
Kemenangan 6-3, 7-6 (7-2), 5-7, 6-2 atas Ben Shelton membuat Alexander Zverev juara US Open untuk pertama kalinya dan menambah koleksi gelar Grand Slam-nya tahun ini. Momen tak biasa di match point, saat ia sempat tidak menyadari pertandingan telah usai, justru menambah warna pada final yang berlangsung tiga jam 33 menit. Di balik trofi itu, ada perjalanan panjang melepas label, kerja keras sang ibu, dan rentetan pertandingan melelahkan yang akhirnya terbayar lunas.
Bagi Shelton, kekalahan ini bukan akhir dari segalanya, melainkan titik awal dari karier yang masih panjang. Publik tuan rumah mungkin harus menunggu lebih lama untuk melihat gelar tunggal putra Grand Slam kembali ke Amerika. Jika perkembangan Shelton berjalan sesuai jalurnya, penantian itu bisa saja berakhir lebih cepat dari yang diperkirakan.
