Klopp Pelatih Timnas Jerman: Era Baru dan Skuad Muda

Author:

Jurgen Klopp resmi memulai babak barunya sebagai Klopp pelatih Timnas Jerman. Pria yang diumumkan menempati posisi tersebut pada Juli itu akan menjalani laga pertamanya melawan Belanda di Johan Cruyff Arena, Kamis pukul 19.45 waktu Inggris, sebelum Jerman menjamu Yunani pada Minggu. Debut ini menjadi momen yang dinanti publik sepak bola Jerman, sebab Klopp diharapkan menjadi sosok yang mampu membalikkan keadaan tim nasional yang belakangan tampil jauh dari standar yang diharapkan.

Beban yang diemban Klopp jelas bukan perkara ringan. Asosiasi Sepak Bola Jerman (DFB) menggajinya sekitar 6 juta poundsterling per tahun bukan agar ia berperan sebagai komentator soal kondisi negaranya, melainkan untuk membenahi tim yang sedang terpuruk. Sejak kedatangannya, pelatih kharismatik berusia 59 tahun ini langsung menarik perhatian melalui dua konferensi pers yang ramai dibahas media, dan sekarang sorotan mulai bergeser dari narasi di luar lapangan menuju caranya meramu skuad di atas lapangan.

Debut dengan Dua Skuad yang Nyaris Seluruhnya Berbeda

Pilihan pertama Klopp langsung menghadirkan kejutan besar. Ia bersama stafnya memutuskan memanggil dua skuad yang hampir seluruhnya berbeda untuk empat pertandingan pada jeda internasional kali ini, sebuah pendekatan yang mirip dengan prinsip mencoba lalu menilai hasilnya. Skuad pertama, yang dihuni nama-nama seperti Joshua Kimmich, Kai Havertz, dan Jamal Musiala, akan menghadapi Belanda pada Kamis dan menjamu Yunani pada Minggu. Skuad kedua, dengan Florian Wirtz dan Aleksandar Pavlovic di dalamnya, melakoni laga kandang melawan Serbia dan bertandang ke Yunani pada paruh kedua jeda internasional ini.

Yang membuat susunan ini menarik, hanya ada satu pemain yang masuk ke kedua skuad, yaitu kiper pelapis Finn Dahmen. Konsekuensinya, kali ini publik tidak akan melihat starting XI terbaik Jerman. Klopp tampak sengaja memberikan ruang kepada pemain-pemain baru, termasuk beberapa nama yang baru beberapa bulan lalu masih bermain di kasta kedua sepak bola Jerman.

Langkah ini memperlihatkan bahwa Klopp tidak ingin terburu-buru mengunci komposisi. Ia lebih memilih mengumpulkan data sebanyak mungkin sebelum menarik kesimpulan soal siapa saja yang layak menjadi tulang punggung tim ke depan. Bagi para pemain yang selama ini berada di luar radar, jeda internasional ini menjadi kesempatan emas yang mungkin tidak datang dua kali.

Dari Daftar 57 Nama ke Pemain Liga Kedua

Sejak awal Klopp memang membuka pintu selebar-lebarnya bagi siapa pun yang dianggap punya kualitas. Pada Juli lalu ia menyusun daftar berisi 57 pemain yang berpotensi dipanggil untuk jeda internasional pertamanya, dan menyatakan bahwa pemain yang bahkan belum menduga akan mendapat kesempatan pun bisa dipanggil. Setelah pengumuman itu, ia terlihat menjadi pelatih tim nasional paling sibuk di dunia, dengan kunjungan tanpa henti ke pertandingan liga dan pusat latihan klub-klub.

Dalam rentang waktu itu, penggemar bisa melihat Klopp duduk di tribune Signal Iduna Park, markas lama Borussia Dortmund. Tak lama berselang, ia juga muncul di ruang VIP stadion Mainz, atau berbincang dengan para pemain di sekitar lapangan latihan Eintracht Frankfurt. Semua itu ia lakukan untuk melihat langsung kondisi para calon pemain, bukan sekadar menilai dari rekaman pertandingan.

Contoh paling mencolok dari pendekatan ini adalah Felix Keidel, pemain berusia 23 tahun yang bisa berperan sebagai bek sayap sekaligus gelandang, berasal dari SV Elversberg yang baru saja promosi. Setahun lalu, jarak Keidel dari tim nasional Jerman teramat jauh. Kini ia, bersama nama-nama seperti Mika Baur, Bambase Conte, Max Rosenfelder, Philipp Treu, dan Vitaly Janelt, punya peluang menunjukkan bahwa mereka bisa menjadi bagian penting dalam mesin tim.

Klopp memang tidak pernah membangun kesuksesannya semata-mata di atas nama-nama bintang. Ia dikenal menyukai pemain yang diremehkan dan luput dari perhatian. Ia pernah mendatangkan pemain sayap Polandia yang saat itu nyaris tak dikenal, Lukasz Piszczek, lalu membentuknya menjadi salah satu bek kanan terbaik di Eropa yang mampu bersaing ketat dengan Cristiano Ronaldo di masa jayanya. Ia juga berperan besar mengubah Andy Robertson menjadi kekuatan di sisi kiri Liverpool.

Gaya Main: Sayap, Pressing, dan Adaptasi Pemain Bundesliga

Dari sisi taktik, perubahan yang direncanakan Klopp cukup jelas. Ia diperkirakan akan menyederhanakan cara Jerman menguasai bola, berbeda dari pendahulunya, Julian Nagelsmann, yang bersusah payah menutupi kelemahan skuad lewat sistem taktik yang sangat rumit. Penyederhanaan ini diharapkan membuat pemain lebih cepat memahami peran masing-masing dan lebih leluasa mengekspresikan kemampuan.

Klopp juga berniat menempatkan penekanan besar pada sektor sayap dan membongkar pertahanan lawan dari area tersebut. Publik sudah menyaksikan bagaimana ia memaksimalkan Mohamed Salah, Trent Alexander-Arnold, dan Sadio Mane untuk menciptakan ancaman dari area lebar. Pola serupa hampir pasti akan ia coba terapkan pada skuad Jerman saat ini.

Namun, ada satu hal yang menuntut adaptasi cepat dari pemain Bundesliga. Penjagaan ketat satu lawan satu sangat lazim di kompetisi tertinggi Jerman, sementara Klopp lebih suka timnya menekan pemain yang sedang menguasai bola agar tercipta keunggulan jumlah di sekitar bola. Artinya, sebagian pemain harus mengubah kebiasaan bermain mereka dalam waktu singkat.

Bagi Klopp, kesiapan fisik dan mental sama pentingnya dengan bakat. Ia pernah menegaskan bahwa yang terpenting bukan siapa yang bermain, melainkan bagaimana seseorang bermain, dan ia mengaku menuntut banyak sejak awal meski sadar permainannya bisa terlihat agak liar. Ia hanya berpesan agar timnya tampil hidup, karena itulah fondasi yang ia inginkan sebelum menyusun detail berikutnya.

Regenerasi: Skuad Muda dan Pensiunnya Para Senior

Perubahan besar lainnya terlihat dari komposisi usia. Klopp memilih skuad yang jauh lebih muda dibandingkan yang biasa kita lihat dalam beberapa tahun terakhir. Manuel Neuer, Antonio Rudiger, dan Pascal Gross sudah pensiun dari sepak bola internasional, sementara pemain lain yang berusia 30-an mungkin tidak lagi mendapat kesempatan menembus tim.

Keputusan Gross untuk mengakhiri karier internasionalnya memberi gambaran soal suasana yang sedang berubah. Setelah Brighton menang atas Arsenal pada Sabtu, ia menyatakan bahwa sudah waktunya mendoakan yang terbaik bagi generasi baru. Ia mengaku masih menikmati bermain sepak bola di level klub, tetapi menyadari ada perubahan di Jerman dan menilai hal itu sebagai langkah yang tepat.

Rata-rata usia kedua skuad pada jeda internasional ini berada di kisaran 24 hingga 25 tahun. Klopp secara terbuka menyebut dirinya ingin bekerja dengan pemain yang tidak sabar mengenakan jersey tim nasional, yang mau memainkan sepak bola yang dinikmati banyak orang, dan yang tampil lebih baik saat membela negara. Kombinasi antara energi muda dan keinginan kuat itu tampaknya menjadi kriteria utama dalam pemanggilan kali ini.

“Positive Patriotism” dan Bendera Jerman

Di luar urusan taktik, Klopp juga mengambil peran yang lebih luas dalam percakapan publik. Pada Kamis pekan lalu, dalam sebuah konferensi pers di tengah gejolak politik yang melanda negaranya, ia menyerukan apa yang ia sebut sebagai patriotisme positif. Seruan ini muncul bukan di ruang hampa, melainkan sebagai respons atas situasi sosial dan politik yang sedang memanas di Jerman.

Ketika ditanya apakah ia menganggap dirinya sebagai duta bagi Jerman dalam peran barunya, jawaban Klopp terdengar serius. Dari sudut pandangnya sebagai olahragawan, ia menyatakan sangat ingin merebut kembali bendera Jerman untuk dirinya sendiri dan untuk semua orang. Ia ingin agar ketika seseorang mengibarkan bendera itu, tidak ada yang berpikir ada yang salah dengan orang tersebut, melainkan orang memahami bahwa ia bahagia dan sadar betapa beruntungnya dilahirkan, tumbuh besar, atau pindah ke negara yang luar biasa itu.

Pernyataan itu disampaikan di tengah keberhasilan partai Alternative for Germany (AfD) dalam pemilihan negara bagian di Saxony-Anhalt. Partai anti-imigrasi tersebut kemudian mencatat kemenangan lagi di Mecklenburg-Western Pomerania. Ucapan Klopp lantas dibahas secara luas dan positif di media, terutama karena tim nasional Jerman memang mencerminkan Jerman yang beragam, dengan sejumlah pemain berlatar belakang migran.

Klopp juga menyoroti pencapaian terbaru Alexander Zverev di US Open, tim basket putri Jerman di Kejuaraan Eropa, serta para atlet Jerman di Kejuaraan Atletik Eropa. Menurutnya, olahraga mampu menghadirkan rasa kebersamaan. Ia menambahkan bahwa menciptakan suasana yang baik adalah misi mereka, dan pesan itulah yang tampaknya ingin ia bawa ke dalam ruang ganti tim nasional.

Peluang di Sayap dan Harapan Baru

Meski tampil kurang memuaskan di beberapa turnamen internasional terakhir, Jerman masih menyimpan kedalaman bakat yang mengesankan. Klopp tampaknya ingin memanfaatkan hal itu lewat pendekatan yang lebih sederhana dan langsung. Fokus pada permainan sayap membuka pintu bagi banyak pemain muda untuk menunjukkan kemampuan mereka di panggung internasional.

Bintang muda Cologne, Said El Mala, serta talenta Bayern Munich berusia 18 tahun, Lennart Karl, akan mendapat kesempatan memperlihatkan kecepatan dan keterampilan mereka dari sisi lapangan. Derry Scherhant dari Freiburg dan Karim Adeyemi dari Barcelona juga menyediakan kecepatan yang melimpah, tidak berbeda dari Kevin Schade milik Brentford yang kembali ke skuad setelah sebelumnya absen. Kombinasi ini membuka potensi hadirnya Jerman yang menarik, sesuatu yang sudah lama tidak terlihat.

Pada akhirnya, dimensi emosional memegang peranan dalam seluruh pendekatan Klopp. Ia mengarahkan tim nasional menuju awal yang baru sekaligus semangat baru bagi masyarakat Jerman. Kamis pekan lalu, ia mengenakan topi bertuliskan “One of 83 million”, sebuah isyarat jelas bahwa ia ingin menyatukan seluruh 83 juta warga Jerman di belakang tim ini dan menegaskan bahwa semuanya berada dalam perjalanan yang sama.

Yang Perlu Dicermati Selanjutnya

Dua laga pada jeda internasional ini akan menjadi gambaran awal seberapa jauh gagasan Klopp bisa diterjemahkan pemain di lapangan. Hasil pertandingan tentu penting, tetapi yang tak kalah menentukan adalah bagaimana para pendatang baru merespons tuntutan fisik dan mental yang jauh lebih tinggi. Jika mereka mampu beradaptasi cepat, regenerasi yang sedang berjalan bisa memberi Jerman fondasi yang lebih kokoh untuk beberapa tahun ke depan.

Bagi para pemain senior yang masih berusia 30-an, jendela kesempatan tampak menyempit karena Klopp cenderung memilih energi muda. Bagi pesaing Jerman di level internasional, pendekatan yang lebih sederhana namun fokus pada sayap dan pressing bisa menjadi ancaman yang berbeda dari gaya rumit sebelumnya. Sementara bagi publik Jerman, pesan kebersamaan yang dibawa Klopp membuat tim nasional kembali terasa sebagai milik bersama, bukan sekadar kumpulan pemain bintang.

Klopp sejauh ini menghabiskan banyak waktu untuk membentuk narasi di luar lapangan, mulai dari isu bendera hingga generasi baru pemain. Kini sorotan berpindah ke kemampuannya memaksimalkan potensi kelompok pemain yang ia pilih, karena dari sanalah penilaian sesungguhnya akan dimulai.