Chelsea dilaporkan sempat mengincar Sander Berge, gelandang Fulham, pada penghujung bursa transfer musim panas. Ketertarikan itu muncul ketika The Blues berusaha memperkuat lini tengah menjelang kepergian Enzo Fernandez. Namun, niat tersebut tidak sampai berlanjut menjadi tawaran formal. Fulham sendiri menilai pemain internasional Norwegia yang kini berusia 28 tahun itu sebagai pemain yang tidak untuk dijual.
Sebenarnya, Chelsea sudah berniat mendatangkan gelandang tengah baru pada hari-hari terakhir bursa musim panas. Langkah itu menjadi antisipasi atas rencana Enzo Fernandez yang akan bergabung ke Manchester City. Sayangnya, hasilnya jauh dari harapan. Chelsea menjual sang gelandang sebesar £125 juta, tetapi gagal mendaratkan penggantinya sebelum bursa ditutup.
Chelsea Mengincar Sander Berge di Akhir Bursa
Menjelang penutupan bursa transfer musim panas, Chelsea disebut menjajaki sejumlah opsi untuk mengisi lini tengah mereka. Sander Berge menjadi salah satu nama yang masuk dalam daftar pemantauan klub asal London Barat tersebut. Namun, The Blues tidak pernah mengajukan tawaran resmi kepada Fulham. Adapun Fulham menegaskan bahwa Berge tidak akan dilepas pada musim panas itu.
Sikap Fulham sebenarnya bisa dipahami. Sejak didatangkan dari Burnley pada 2023, Berge menjelma menjadi sosok penting di lini tengah The Cottagers. Pemain asal Norwegia itu tercatat sudah tampil sebanyak 78 kali bersama Fulham. Beberapa fakta soal kariernya yang perlu diketahui:
- Berge merupakan gelandang internasional Norwegia berusia 28 tahun.
- Ia bergabung dengan Fulham dari Burnley pada 2023.
- Total penampilannya bersama Fulham mencapai 78 laga.
Ketertarikan Chelsea pada Berge menunjukkan betapa seriusnya mereka menambal lubang di lini tengah. Kepergian Enzo Fernandez tentu meninggalkan celah yang tidak kecil. Karena itu, siapa pun yang masuk radar, termasuk Berge, layak dipertimbangkan demi menjaga keseimbangan skuad.
Kronologi Kepergian Enzo Fernandez dan Rencana yang Kandas
Chelsea sebenarnya sudah mencanangkan niat untuk memboyong gelandang tengah anyar pada hari-hari terakhir bursa. Saat itu, klub bersiap atas kemungkinan besar Enzo Fernandez bergabung dengan Manchester City. Mendatangkan pengganti menjadi pekerjaan rumah yang tidak bisa ditunda lagi.
Pada akhirnya, Fernandez benar-benar hengkang dengan nilai transfer mencapai £125 juta. Chelsea menyelesaikan penjualan tersebut tanpa lebih dulu mengunci pemain pengganti. Alhasil, ketika bursa resmi ditutup, skuad besutan manajer Xabi Alonso tidak memiliki tambahan satu pun gelandang tengah murni.
Kegagalan ini menjadi ironi tersendiri bagi klub. Chelsea mendapatkan pemasukan besar dari penjualan Fernandez, tetapi tidak bisa memanfaatkannya secara maksimal untuk belanja pemain. Padahal, kedalaman lini tengah sangat menentukan performa tim dalam menjalani kompetisi yang panjang.
Deadline Day Kacau: Camara Batal di Menit Akhir
Setelah upaya mendatangkan Berge tidak membuahkan hasil, Chelsea mengalihkan fokus ke dua gelandang lain, yaitu Lamine Camara milik Monaco dan Manu Kone dari Roma. Keduanya menjadi sasaran utama The Blues pada hari penutupan bursa. Namun, kedua negosiasi tersebut sama-sama gagal membuahkan kesepakatan.
Kegagalan paling menyakitkan datang dari proses transfer Lamine Camara. Chelsea meyakini bahwa kesepakatan senilai £47 juta dengan Monaco sudah nyaris tuntas. Akan tetapi, transaksi itu batal hanya beberapa menit sebelum tenggat waktu. Chelsea pun tidak punya ruang untuk mencari alternatif di sisa waktu yang ada.
Selain Camara dan Kone, ada pula laporan yang menyebut Chelsea melakukan pendekatan kepada James Garner dari Everton. Namun, kabar tersebut langsung dibantah oleh manajer Everton, David Moyes. Alhasil, Chelsea benar-benar menutup bursa transfer musim panas tanpa mendapatkan gelandang tengah baru.
Dampaknya Terasa Saat Chelsea Dikalahkan Arsenal
Persoalan lini tengah Chelsea langsung terlihat ketika mereka menelan kekalahan dari Arsenal pada laga akhir pekan lalu. Dalam pertandingan di Emirates Stadium itu, komposisi Chelsea berubah menjadi darurat. Hingga peluit akhir, Reece James dan Malo Gusto, dua pemain yang berposisi asli sebagai bek kanan, bertahan di tengah lapangan karena minimnya opsi gelandang.
Situasi itu tentu jauh dari kata ideal bagi klub sebesar Chelsea. Pelatih dipaksa merombak susunan pemain di luar posisi natural mereka. Kebutuhan akan gelandang tengah murni menjadi semakin mendesak, terlebih jika tim ingin tetap kompetitif di papan atas.
Kabar baiknya, Chelsea masih menaruh harapan pada kebugaran Moises Caicedo. Gelandang asal Ekuador itu mengalami cedera yang membuatnya absen saat timnya kalah di kandang Arsenal. Caicedo diharapkan sudah pulih tepat waktu untuk tampil pada laga kandang melawan Hull City, Sabtu pukul 15:00 BST atau 21:00 WIB.
Bursa Januari: Prioritas Chelsea ke Depan
Dengan segala kegagalan di bursa musim panas, mendatangkan gelandang tengah baru hampir pasti menjadi prioritas utama Chelsea pada Januari mendatang. Kebutuhan ini semakin nyata setelah laga melawan Arsenal memperlihatkan betapa terbatasnya opsi di lini tengah. Gelandang Bournemouth, Alex Scott, disebut-sebut masuk dalam daftar target jangka panjang Chelsea.
Meski target mulai mengerucut, proses negosiasi di bursa Januari biasanya lebih rumit daripada bursa musim panas. Klub pemilik pemain cenderung enggan melepas pilar timnya di tengah musim. Chelsea harus menyiapkan strategi dan dana yang matang agar tidak kembali mengalami kegagalan di menit-menit akhir seperti yang terjadi pada musim panas ini.
Pengalaman pahit tersebut seharusnya menjadi alarm bagi manajemen Chelsea. Mereka tidak boleh lagi menunda negosiasi hingga batas waktu hampir habis. Kecepatan bertindak dan ketepatan sasaran akan menjadi kunci agar Chelsea tidak kembali kehilangan pemain incaran di bursa mendatang.
Pada akhirnya, kisah ketertarikan Chelsea kepada Sander Berge hanyalah satu dari sekian episode penuh kekacauan dalam bursa transfer klub edisi musim panas ini. Chelsea sudah berusaha bergerak, mulai dari Berge hingga Camara, tetapi semua berakhir tanpa hasil. Kini yang terpenting adalah pembuktian pada Januari nanti: akankah mereka mampu memperbaiki kesalahan dan kembali bersaing dengan skuad yang lebih seimbang?
