Anthony Taylor pensiun dari dunia perwasitan setelah dua dekade berkarier di Liga Inggris. Untuk pertama kalinya dalam 20 tahun, namanya absen dari daftar wasit yang bertugas di awal musim kompetisi sepak bola Inggris. Keputusan pensiun Anthony Taylor ini kini ia buka-buka secara detail untuk pertama kalinya, termasuk soal tekanan luar biasa yang menyertai profesinya.
Kabar ini terbilang mengejutkan karena baru lima pekan sebelumnya Taylor masih memimpin laga Spanyol versus Portugal di babak 16 besar Piala Dunia di Dallas, Amerika Serikat. Pria 47 tahun itu memilih mundur segera setelah turnamen tersebut usai. Ia merasa tidak ada momen yang lebih baik untuk mengakhiri kariernya selain di panggung sepak bola paling akbar di dunia.
Alasan Anthony Taylor Pensiun: Tekanan dan Pengawasan yang Tak Pernah Reda
Dalam pernyataan resminya saat mengumumkan pengunduran diri, Taylor menulis bahwa menjadi wasit adalah “sebuah kehormatan yang luar biasa, tetapi tekanannya sangat intens dan pengawasannya terus-menerus.” Sepanjang kariernya, ia tercatat memimpin 668 pertandingan di kompetisi profesional Inggris, semua final piala domestik utama, serta 163 laga internasional. Catatan itu menjadikannya salah satu wasit paling berpengalaman di generasinya.
Taylor mengaku bahwa tidak ada wasit yang bisa jujur jika mengatakan tekanan dan pengawasan tidak mengganggu mereka, karena itu adalah reaksi manusiawi yang wajar. Rasa takut membuat kesalahan, opini publik, sorotan penonton, manajer, orang tua pemain, media, hingga rekan kerja—semuanya bercampur menjadi keraguan diri yang menggerogoti kepercayaan diri. Jika dibiarkan, kondisi ini bisa berputar menjadi spiral negatif yang membuat wasit kehilangan keyakinan di lapangan.
Selama bertahun-tahun, Taylor mengaku membangun ketahanan mental untuk menghadapi semua tekanan itu. Namun ia sadar bahwa setiap orang memiliki batasnya masing-masing. Ketika energi terus terkuras oleh lingkungan yang penuh tuntutan, motivasi dan rasa percaya diri ikut menurun, dan itu adalah pengalaman nyata yang dirasakan semua wasit.
Keluarga dan Momen Perpisahan di Panggung Piala Dunia
Keputusan pensiun Anthony Taylor juga tidak lepas dari pengorbanan keluarganya yang sangat besar. Tahun lalu ia bercerita kepada BBC Sport bahwa keluarganya tidak lagi datang menonton pertandingan yang ia pimpin karena sering menjadi sasaran perlakuan tidak menyenangkan. Bahkan setelah final Liga Europa 2023, istri dan anak-anaknya sempat diintimidasi oleh suporter Roma di Bandara Budapest.
Taylor mengatakan bahwa kehidupan keluarga selama ini selalu berada di urutan kedua, dan hal itu menjadi pertimbangan besar dalam keputusannya mundur. Kombinasi antara pengorbanan keluarga, pengawasan ketat, dan tuntutan luar biasa sebagai wasit level tertinggi membuat tubuh serta pikirannya butuh istirahat. Menurutnya, keputusan ini murni datang dari kondisi fisik dan mental yang sudah mencapai batas alami dalam peran tersebut.
Meski begitu, Taylor mengaku tidak merindukan latihan pramusim yang melelahkan. Namun ada sedikit kesedihan karena ia akan kehilangan bagian besar dari hidupnya. “Saya ingin menentukan sendiri kapan saya berhenti, dan saya rasa tidak ada tempat yang lebih baik untuk berhenti selain di Piala Dunia,” ujarnya.
Kritik Mantan Wasit Dinilai Memperparah Budaya Ketakutan
Taylor menyebut pengawasan terhadap wasit saat ini sudah berada di level yang tidak masuk akal, dan sebagian besar datang dari orang-orang di media yang mencari-cari kesalahan. Ia menggambarkannya sebagai efek bola salju yang terus membesar dan sulit dikendalikan. Yang lebih mengecewakan baginya adalah ketika kritik tajam justru dilontarkan oleh mantan wasit yang seharusnya memahami kompleksitas profesi ini.
Menurutnya, analisis pertandingan yang disajikan mantan pemain atau mantan wasit di studio seharusnya tetap seimbang dan adil. Jika kritik yang diberikan hanya satu arah tanpa keseimbangan, hal itu justru melahirkan budaya ketakutan, rasa tidak hormat, dan rasa malu di kalangan wasit yang masih aktif. Padahal dalam sepak bola, banyak keputusan bersifat subjektif dan tidak bisa dinilai hanya dari kacamata benar atau salah.
Ketika ditanya apakah ia akan mengikuti jejak rekan-rekannya tampil di media sebagai pengamat, Taylor menegaskan bahwa ia tidak ingin berada di posisi yang mengharuskannya mengkritik orang lain. Ia merasa lebih cocok mewariskan pengetahuan dan pengalaman yang telah ia kumpulkan selama bertahun-tahun. Ia juga menyayangkan integritas wasit yang kerap dipertanyakan dan berujung pada ancaman, padahal hasil pertandingan ditentukan oleh banyak faktor: akurasi umpan pemain, penalti yang gagal, hingga keputusan taktik pelatih.
Tantangan Baru di Turki: Membenahi Skandal Taruhan Wasit
Setelah pensiun, Anthony Taylor tidak benar-benar meninggalkan dunia sepak bola. Ia baru saja diangkat sebagai direktur perwasitan elite di federasi sepak bola Turki, sebuah peran yang akan dijalaninya di tengah skandal besar yang tengah melanda perwasitan negara tersebut. Investigasi selama lima tahun menemukan bahwa 371 dari 571 perangkat pertandingan memiliki akun taruhan, sebuah temuan yang mengguncang kredibilitas sepak bola Turki.
Taylor mengatakan fokus utamanya adalah membantu para wasit, terutama yang masih muda, untuk berkembang dan membangun ketahanan mental yang lebih baik. Ia juga ingin meningkatkan kemampuan mereka dalam menghadapi pertandingan-pertandingan bertekanan tinggi serta mendorong perbaikan standar perwasitan secara menyeluruh. Selain itu, ia akan terlibat dalam program identifikasi bakat dan membantu wasit internasional Turki mendapatkan penugasan yang lebih bergengsi di pentas dunia.
Bagi Taylor, peran ini adalah sebuah kehormatan besar karena pengalaman dan pengetahuannya dianggap layak untuk membantu memajukan perwasitan Turki. Ia merasa sangat beruntung ada pihak yang menaruh kepercayaan sebesar itu kepadanya. Meski begitu, ia mengaku memiliki satu penyesalan terbesar dalam kariernya: tidak pernah mendapat kesempatan memimpin final Liga Champions.
Pandangan Anthony Taylor soal Masa Depan VAR
Selama menjalani Piala Dunia keduanya, Taylor mengaku sangat menikmati pengalaman tersebut meskipun panas ekstrem di Dallas terasa sangat brutal. Ia juga menyaksikan langsung kontroversi VAR yang kembali mewarnai turnamen, dengan empat area baru yang kini tercakup dalam sistem tersebut. Meski demikian, Taylor tetap mendukung kehadiran VAR selama digunakan dengan bijak dan proporsional.
Menurut Taylor, VAR memang membantu meningkatkan akurasi keputusan wasit secara keseluruhan, dan itu adalah hal yang baik. Namun ia mengingatkan bahwa VAR seharusnya hanya digunakan untuk mengoreksi kesalahan besar yang jelas, bukan untuk melakukan pemeriksaan mikroskopis yang memakan waktu lama. Ia menegaskan bahwa banyak pihak setuju pengecekan VAR sering kali berlangsung terlalu lambat dan terlalu detail.
Taylor berharap ke depannya VAR hanya dipakai ketika ada bukti visual yang sangat jelas bahwa telah terjadi kesalahan. Dengan cara itu, publik akan lebih mudah menerima dan mempercayai proses yang berjalan. Menurutnya, semakin cepat pengecekan dilakukan dan semakin fokus pada kesalahan yang benar-benar nyata, semakin besar pula kepercayaan orang terhadap sistem ini.
Keputusan Anthony Taylor pensiun memang menutup salah satu babak paling cemerlang dalam sejarah perwasitan Inggris, tetapi perjalanannya masih panjang. Dari kritiknya terhadap budaya ketakutan hingga tekadnya membenahi perwasitan Turki yang tengah terpuruk akibat skandal taruhan, Taylor membuktikan bahwa kontribusinya untuk sepak bola belum berakhir. Dengan pengalaman lebih dari 600 pertandingan profesional, suaranya akan tetap menjadi referensi penting dalam diskusi tentang masa depan perwasitan dan VAR.
