Russell Martin perlahan mulai menemukan cara untuk membangkitkan Leicester City. Dua kemenangan beruntun pekan ini menjadi sinyal pertama kebangkitan setelah periode kelam yang membuat Foxes terpuruk di papan bawah League One. Kemenangan 4-0 atas Bromley menyusul keberhasilan menaklukkan Doncaster 2-1, dan itu menjadi rentetan kemenangan pertama klub sejak November lalu.
Padahal, titik awal musim ini jauh dari ideal. Leicester sempat hanya meraih dua kemenangan dari delapan laga, terpuruk di peringkat 17 League One, dan hanya berjarak satu poin dari zona degradasi. Kekalahan di kandang dari Burton, Oxford, dan Peterborough terasa sangat jauh dari kenangan 2017 ketika klub ini melangkah ke perempat final Liga Champions. Konteks itulah yang membuat capaian Martin belakangan ini layak dilihat lebih adil.
Kemenangan Beruntun Pertama Sejak November
Bagi klub sebesar Leicester City, bermain di kasta ketiga sepak bola Inggris sudah menjadi pukulan tersendiri. Kini mereka duduk di peringkat kesepuluh League One, sebuah kemerosotan yang dianggap sebagai salah satu titik terendah dalam sejarah klub. Sepuluh tahun lalu, Leicester adalah juara Premier League dengan odds 5.000-1 yang menggemparkan dunia; lima tahun lalu mereka mengangkat Piala FA untuk pertama kalinya dan bersaing untuk tiket Liga Champions.
Sejak itu, segalanya runtuh dengan cepat. Masalah keuangan, pengurangan poin, dan tiga degradasi dalam empat tahun membuat klub kini berstatus dijual. Kemenangan atas Bromley dan Doncaster setidaknya menahan laju kepanikan dan meredam tekanan eksternal yang sempat membesar, terutama setelah kekalahan-kekalahan kandang yang menyakitkan.
Martin sendiri bukan sosok yang selalu disukai seluruh pendukung. Sebelum tiba di Leicester, ia menjalani 17 pertandingan bersama Rangers musim lalu dan sempat dikritik karena gaya bermain serta hasil yang kurang meyakinkan. Kritik serupa sempat mengarah kepadanya ketika Leicester tertahan di papan bawah, tetapi dua hasil positif terakhir menunjukkan bahwa pendekatannya mulai membuahkan hasil.
Embargo Transfer Lima Minggu dan Reset Besar Skuad
Di balik kesulitan di lapangan, ada persoalan struktural yang jarang terungkap. BBC Sport mengungkap bahwa Leicester sempat beroperasi di bawah embargo transfer selama lima minggu pada musim panas. Embargo itu berkaitan dengan Salary Cost Management Protocol (SCMP) EFL, ketika panel independen Club Financial Review Panel memutuskan bahwa distribusi dana Premier League di masa depan yang masuk dalam perhitungan SCMP klub tidak boleh dipakai untuk menambah kapasitas belanja.
Konsekuensinya jelas: Leicester tidak bisa mendatangkan pemain sebelum ada uang yang masuk. Prosesnya sebenarnya hanya mengacak urutan bisnis transfer musim panas, bukan membatalkannya. Jeremy Monga dan Abdul Fatawu baru terjual pada pertengahan Juli, dan baru setelah Monga pindah ke Manchester City pada 11 Juli, Leicester mampu merekrut Conor Chaplin serta Alex McCarthy lima hari kemudian.
Efek lanjutannya terasa di lapangan. Empat pemain dari starting XI saat menghadapi Bromley baru bergabung pada hari batas transfer, dan sekitar 66 persen pemain datang setelah musim berjalan. Leicester juga kehilangan beberapa target yang tidak bersedia menunggu, tetapi Chaplin, McCarthy, dan Wes Burns termasuk mereka yang memilih bertahan menanti kepastian demi bisa bermain di bawah Martin.
Skala perombakan skuadnya besar. Termasuk peminjaman dan pemain akademi yang hengkang, ada 34 pemain keluar pada musim panas dan 16 pemain masuk. Martin mewarisi skuad yang mahal namun compang-camping, kehilangan kepercayaan pendukung, serta ruang ganti yang sempat dikotori ego dan minim etos kerja.
Revolusi Kultur Russell Martin di Leicester City
Perubahan paling nyata justru terjadi di balik layar. Sumber BBC Sport menyebut atmosfer di klub kini membaik secara signifikan. Pusat latihan senilai £100 juta di Seagrave yang disebut sebagai salah satu yang terbaik di Inggris — lengkap dengan kebun herbal dan lapangan golf — justru dipandang sebagai bagian dari masalah karena membuat pemain terlalu nyaman dan standar menurun.
Russell Martin berupaya keras mengubah budaya dan perilaku di Leicester City. Ada larangan total penggunaan ponsel di kantin, dan siapa pun yang melanggar tidak dikenai denda, melainkan hukuman berlari. Pemain maupun staf harus berlari sepanjang lapangan dan kembali dalam 35 detik, sebanyak tiga kali, dengan jeda 35 detik di antaranya. Hukuman yang sama berlaku untuk keterlambatan, dan Martin bersama staf seniornya ikut menjalaninya demi menegakkan standar.
Contoh lain terjadi awal musim ini, ketika sejumlah pemain meninggalkan selotip dan minuman di area kolam renang. Keesokan harinya mereka diperlihatkan foto kondisi tersebut, dan hukumannya tetap sama: berlari. Ada kesadaran bahwa klub harus menunjukkan kemajuan melalui tindakan, bukan sekadar memberi tahu pendukung bahwa semuanya membaik.
Struktur kepemimpinan juga ditata. James McCarron masuk sebagai sporting director, hampir setiap hari mengamati latihan, dan memiliki hubungan kerja yang erat dengan Martin. Kombinasi itu memberi klub kepemimpinan yang lebih kokoh setelah bertahun-tahun dianggap berjalan tanpa arah.
Jon Rudkin, Kepercayaan Penggemar, dan Vakum Informasi
Meski ada perbaikan, sulit mengabaikan perasaan pendukung terhadap klub, terutama kepada chief football officer Jon Rudkin. Ia sudah berada di klub sejak 1998, dan kekecewaan terhadapnya berlangsung konsisten selama bertahun-tahun. Hubungannya dengan mantan chief executive Susan Whelan disebut telah rusak jauh sebelum Whelan hengkang setahun lalu.
Kebijakan Rudkin yang enggan berbicara kepada media juga menuai kritik. Ia tetap bungkam saat klub terjun ke League One, dan meski sikap itu konsisten sejak era kejayaan Premier League, dampaknya adalah kekosongan informasi dan klub kesulitan berkomunikasi secara efektif dengan pendukungnya. Ia akhirnya menemui penggemar melalui wawancara dengan BBC Radio Leicester sebelum kekalahan dari Peterborough — langkah yang dinilai positif dan menunjukkan tekad klub untuk berubah, sekalipun masih perlu dibuktikan dengan isi, bukan hanya penampakan.
Ketua bersama Foxes Trust, Lynn Wyeth, menilai persoalan ini lebih dalam. “Kita harus ingat dia juga melewati masa-masa baik. Dia ada saat semuanya berjalan fantastis,” ujarnya kepada BBC Sport. “Tapi apakah kita tahu apa yang dia kerjakan sepanjang hari, apakah kita tahu ini semua salahnya? Itu pertanyaan bagus. Tidak masalah penggemar menyasar Russell dan Jon, tapi semua ini bermuara pada Top.”
Wyeth menambahkan bahwa sejak akhir musim lalu dan klub dinyatakan dijual, semakin banyak pihak yang berpandangan bahwa King Power dan pemilik Aiyawatt Srivaddhanaprabha juga perlu mundur. Ia juga mengisahkan seorang pria tua yang telah 56 tahun mendukung Leicester dan hanya bisa menghela napas panjang: selalu mendukung klub, tetapi tidak menyukainya saat ini. Meski begitu, alokasi 23.500 tiket musim klub tetap terjual habis.
Menolak Manchester United demi Target 90 Poin
Di tengah situasi yang serba tidak pasti, ada satu keputusan yang menunjukkan arah klub. Pada hari batas transfer, Manchester United mengajukan tawaran £15 juta untuk gelandang muda Louis Page yang baru berusia 18 tahun. Khun Top meminta pendapat Martin, Rudkin, dan McCarron sebelum mengambil keputusan, dan tawaran itu ditolak karena ketiganya ingin mempertahankan sang pemain demi membantu Leicester promosi.
Target 90 poin yang dicanangkan sejak pramusim pun masih berlaku. Angka itu menjadi penanda bahwa secara internal klub tidak sedang menurunkan ambisi, meski kenyataan di lapangan menuntut kesabaran. Staf disebut belum diberi tahu secara resmi bahwa klub dijual, dan BBC Sport melaporkan bahwa Khun Top tetap berkomitmen terhadap Leicester.
Dengan kombinasi embargo transfer, perombakan 34 pemain keluar dan 16 masuk, serta tekanan publik yang besar, posisi Martin sebenarnya tidak pernah benar-benar mudah. Namun hasil dua laga terakhir memberi ruang bagi pendekatannya untuk dinilai secara lebih adil.
Kesimpulan
Leicester City belum pulih sepenuhnya, tetapi tanda-tanda perbaikan mulai terlihat jelas. Dua kemenangan beruntun mematahkan tren buruk, embargo transfer musim panas menjelaskan mengapa skuad terlambat terbentuk, dan penegakan disiplin di Seagrave menunjukkan bahwa masalah budaya sedang ditangani secara serius. Penolakan atas tawaran Manchester United untuk Louis Page juga menegaskan bahwa klub masih ingin bersaing, bukan sekadar bertahan.
Yang tersisa adalah pekerjaan rumah terbesar: memulihkan kepercayaan pendukung yang sudah lama kecewa kepada kepemimpinan klub. Selama komunikasi masih tertinggal dari ekspektasi dan jurang antara manajemen dan tribun belum terjembatani, kemenangan di lapangan hanya akan menjadi obat sementara. Russell Martin sudah memulai bagian tersulitnya di Leicester City, dan musim ini akan menjadi ujian apakah kebangkitan itu benar-benar berakar.
