Saido Berahino Pensiun di Usia 33, Fokus Jadi Pelatih

Author:

Saido Berahino pensiun dari dunia sepak bola pada usia 33 tahun. Mantan penyerang West Bromwich Albion dan Stoke City itu memutuskan menggantung sepatu demi berkonsentrasi penuh pada perannya sebagai pelatih di tim nasional Burundi. Keputusan tersebut ia sampaikan lewat pernyataan pribadi berjudul “A Letter To The Game” yang diunggah ke akun Instagram-nya.

Bagi publik Premier League, nama Berahino bukan sosok asing. Pada 2014-15 ia sempat menjelma menjadi salah satu striker muda paling produktif di Inggris dengan torehan 20 gol di ajang liga dan Piala. Karena itu, keputusannya berhenti bermain di usia yang masih tergolong muda terasa mengejutkan, meski dalam beberapa tahun terakhir kariernya memang sudah jauh menurun dibandingkan masa jayanya bersama Albion.

Jejak Karier Saido Berahino Bersama West Bromwich Albion

Berahino merupakan pesepak bola yang tumbuh besar di kawasan Midlands dan membela Burundi di level internasional. Ia meniti karier profesional bersama klub masa kecilnya, West Bromwich Albion, dan tampil dalam 121 pertandingan di semua kompetisi dengan sumbangan 36 gol. Salah satu momen paling dikenang terjadi pada Agustus 2013, ketika ia mencetak hat-trick pada laga pertamanya sebagai starter di ajang Piala Liga Inggris melawan Newport County saat masih berusia 20 tahun.

Puncak performanya datang pada musim 2014-15. Ketika itu Berahino mencetak 20 gol yang tersebar di kompetisi liga dan piala, menjadikannya salah satu nama yang paling banyak diperbincangkan. Namun, setelah musim gemilang itu, hubungannya dengan klub mulai merenggang. Ia tercatat mulai kehilangan tempat utama pada periode akhir masa kepelatihan Tony Pulis di Albion, tanda awal bahwa kariernya tidak lagi berjalan mulus.

Di level negara, Berahino pernah memperkuat Inggris di seluruh kelompok umur hingga timnas U-21. Ia bahkan dua kali dipanggil ke skuad senior Inggris oleh manajer saat itu, Roy Hodgson, meski tidak pernah diturunkan dalam pertandingan resmi. Pengalaman itu tetap menjadi bukti bahwa ia sempat masuk radar pemain terbaik yang dimiliki Inggris pada masanya.

Kepindahan ke Stoke City dan Masa Sulit di Inggris

Pada Januari 2017, Berahino menyeberang ke Stoke City dengan mahar transfer senilai 12 juta poundsterling. Langkah itu diharapkan menjadi titik balik kariernya, tetapi kenyataannya berjalan sebaliknya. Performanya jauh dari ekspektasi, dan Stoke sendiri mengalami nasib buruk dengan terdegradasi dari Premier League pada April 2018.

Manajer Stoke saat itu, Gary Rowett, sempat memberi Berahino kesempatan kedua. Ia membayar kepercayaan tersebut dengan lima gol pada musim 2018-19. Sayangnya, setelah itu ia kembali tersisih dari tim inti hingga akhirnya dilepas atas kesepakatan bersama, padahal kontraknya masih menyisakan tiga tahun.

Setelah meninggalkan Stoke pada Agustus 2019, Berahino melanjutkan karier di Belgia bersama Waregem dan Charleroi. Pada Agustus 2021 ia kembali ke Inggris untuk bergabung dengan Sheffield Wednesday, klub yang saat itu ditangani mantan bosnya di Albion, Darren Moore. Selepas periode itu, ia sempat merumput di Siprus, India, dan Slovenia, sekaligus membela timnas Burundi.

Alasan di Balik Keputusan Gantung Sepatu

Dalam pernyataannya, Berahino menegaskan bahwa keputusan berhenti bermain lahir dari kesiapan fisik dan mental, bukan semata karena tidak ada tawaran klub. Ia menyebut tubuh dan hatinya sudah siap menyambut babak baru dalam hidupnya. Prioritasnya kini adalah mengabdi kepada Burundi, negara yang ia sebut telah membentuk dirinya sebagai pribadi.

Peran sebagai pelatih di tim nasional Burundi memberi Berahino ruang untuk membantu generasi berikutnya. Ia menilai langkah itu sebagai bentuk balas budi yang tepat setelah bertahun-tahun menimba ilmu di dunia sepak bola profesional. Dengan begitu, ia tetap berada di dalam ekosistem olahraga yang membesarkannya, hanya saja dari sisi lapangan yang berbeda.

Isi Surat untuk Sepak Bola yang Menyentuh

Melalui tulisan berjudul “A Letter To The Game”, Berahino menyampaikan terima kasih khusus kepada West Bromwich Albion. “Saya ingin berterima kasih kepada West Bromwich Albion karena telah percaya pada saya ketika saya masih anak-anak,” tulisnya. Ia menyebut tahun-tahun di klub, gol-gol, para pendukung, dan momen-momen yang ia lalui akan selalu terasa istimewa, sekaligus mengakui bahwa perjalanan itu penuh pasang surut, kesalahan, dan pelajaran.

Ia juga menuturkan bahwa sepak bola telah memberinya segalanya, dari jalanan Bujumbura hingga tribun The Hawthorns, dari Premier League sampai tempat-tempat yang tak pernah ia bayangkan. Menurut Berahino, olahraga itu telah menuntun seorang anak pengungsi menjalani kehidupannya. Kepada keluarganya, ia menyampaikan rasa syukur karena telah menjadi kekuatan, sementara kepada para penggemar yang setia ia berjanji tidak akan melupakan dukungan mereka.

Berahino menegaskan bahwa ini bukan perpisahan dengan sepak bola. Ia memandangnya sebagai akhir dari satu kisah dan awal dari kisah lain, sejalan dengan perannya sebagai pelatih di Burundi. Pesan itu menutup bab panjang kariernya sebagai pemain dengan cara yang tenang dan penuh refleksi.

Dampak dan Konteks Lebih Luas dari Keputusan Berahino

Bagi timnas Burundi, kehadiran Berahino di staf kepelatihan menjadi tambahan berharga. Ia membawa pengalaman bermain di Premier League, Belgia, dan sejumlah liga Asia serta Eropa, sesuatu yang tidak dimiliki banyak pelatih lokal. Pengalaman itu berpotensi mempercepat pembinaan pemain muda Burundi yang ingin menembus level internasional.

Sementara bagi Berahino sendiri, keputusan ini menutup perjalanan karier yang naik-turun secara drastis. Ia pernah menjadi salah satu striker paling menjanjikan di Inggris, tetapi juga sempat kehilangan momentum dan berpindah-pindah klub demi mencari bentuk permainan terbaik. Pensiun di usia 33 tahun menunjukkan bahwa bagi sebagian pemain, nilai karier tidak selalu diukur dari panjangnya, melainkan dari arah setelahnya.

Tren pemain yang beralih menjadi pelatih di usia relatif muda memang kian sering terlihat. Langkah semacam ini biasanya dipilih mereka yang ingin tetap dekat dengan sepak bola tanpa harus menanggung beban fisik kompetisi. Bila Berahino mampu menularkan pengalamannya, perjalanan barunya bersama Burundi bisa menjadi bab yang tak kalah menarik dari masa jayanya di lapangan.

Keputusan Saido Berahino pensiun di usia 33 tahun menutup karier yang sempat bersinar terang bersama West Bromwich Albion, lalu meredup di Stoke City dan sejumlah klub yang ia singgahi. Dari 36 gol untuk Albion hingga perjalanan panjang melintasi Belgia, Siprus, India, dan Slovenia, ia meninggalkan jejak yang cukup berarti di sepak bola.

Yang tersisa sekarang adalah komitmennya membangun generasi baru Burundi dari bangku pelatih. Bagi seorang anak yang pernah menyebut dirinya sebagai pengungsi kecil, kembali ke negara yang membesarkannya adalah penutup yang pantas untuk satu cerita, sekaligus pembuka untuk cerita berikutnya.