Kemenangan Inggris atas Yunani: Modal Penting di Play-off

Author:

Kemenangan Inggris atas Yunani dengan skor 3-1 pada leg pertama play-off kualifikasi Piala Dunia Wanita menjadi bekal berharga bagi pasukan Sarina Wiegman. Bermain di Heraklion, Kreta, Jumat malam waktu setempat, timnas wanita Inggris membuka jalan menuju putaran final di Brasil, meski belum sepenuhnya aman karena masih ada satu pertandingan lagi yang harus dijalani.

Hasil ini terasa penting karena Inggris harus menempuh jalur yang tidak biasa. Sebagai juara bertahan Eropa dua edisi berturut-turut, mereka gagal finis di puncak grup kualifikasi setelah kalah bersaing dari Spanyol, sang juara dunia. Konsekuensinya, langkah ke Brasil harus ditempuh lewat play-off, dan laga kedua melawan Yunani akan digelar di Leicester, Selasa malam. Siapa pun yang menang dalam duel dua leg ini akan berhadapan dengan Ukraina atau Slovakia pada ronde berikutnya untuk memperebutkan satu tiket ke putaran final.

Le Tissier Memanfaatkan Celah di Skuad Inggris

Inggris datang ke Kreta dengan satu perubahan penting. Lucy Bronze, bek berpengalaman yang sudah berusia 34 tahun, menarik diri dari skuad karena cedera ringan yang dialaminya awal pekan. Absennya Bronze membuka pintu bagi pemain yang biasanya sulit menembus starting eleven, yaitu Maya le Tissier, kapten Manchester United yang selama ini lebih dikenal lewat performa konsistennya di level klub.

Peluang itu datang karena Wiegman memandang Le Tissier sebagai bek kanan, bukan bek tengah seperti posisi aslinya di United. Keputusan itu membuatnya langsung dipercaya tampil sejak menit awal, pada penampilan ke-15nya bersama tim nasional. Ia membayar kepercayaan tersebut dengan performa menonjol, dan puncaknya datang pada menit ke-63 ketika ia mencetak gol internasional pertamanya.

Wiegman mengakui kontribusi Le Tissier dalam laga tersebut. Menurutnya, begitu Inggris menguasai bola, Le Tissier langsung naik lebih tinggi ke area lawan dan sempat beberapa kali menciptakan peluang lewat umpan silang. “Saya sangat senang untuknya dan untuk seluruh tim karena itu gol yang penting,” ujar Wiegman, yang melihat penampilan itu sebagai sinyal optimisme menyongsong masa depan tanpa Bronze.

Kelengahan yang Kembali Menghantui Inggris

Meski menang, raihan tiga gol tidak membuat Inggris sepenuhnya puas. Laga di Kreta tercatat sebagai kemenangan ketiga Inggris dalam delapan pertandingan tandang kompetitif terakhir mereka. Menilik jarak kualitas yang jauh berbeda antara kedua tim, hasil itu seharusnya bisa lebih meyakinkan, dan Wiegman secara terbuka mengungkapkan kekecewaannya karena gawang Inggris tidak bersih dari kebobolan.

Masalahnya bukan hal baru. Ada momen-momen kehilangan konsentrasi di lini belakang yang memberi Yunani ruang untuk menyerang. Ioanna Papatheodorou bahkan sempat membentur mistar gawang pada babak pertama, sebelum akhirnya mengirim umpan yang berujung gol Kallisti Brouksair. Peluang-peluang itu lahir dari kesalahan Inggris sendiri, bukan murni dari keunggulan permainan tuan rumah.

Karena itu, pintu bagi Yunani masih terbuka lebar pada leg kedua. Wiegman sadar sepenuhnya bahwa kelolosan ada di tangan timnya sendiri. Ia menegaskan Inggris harus tampil serius pada Selasa nanti dan memainkan pertandingan dengan kualitas yang seharusnya lebih baik dari Yunani. “Kami memang ingin menambah jarak keunggulan, itu benar, tapi pada saat yang sama kami menang dan itu yang paling penting,” katanya, seraya mengakui bahwa penampilan timnya masih naik-turun dan kadang terlihat ceroboh.

Debut Parkinson dan Gambaran Masa Depan

Keunggulan tiga gol memberi Wiegman ruang untuk melihat wajah-wajah baru. Erica Meg Parkinson, pemain berusia 18 tahun, mendapat debutnya setelah masuk pada menit ke-85. Hal serupa dialami Grace Fisk, kapten Liverpool berusia 28 tahun, yang harus menunggu lebih dari enam tahun sejak panggilan pertamanya ke timnas Inggris pada 2020 sebelum akhirnya mencatatkan penampilan perdana.

Perjalanan Parkinson terbilang cepat. Ia baru naik ke tim U-23 Inggris beberapa bulan sebelum namanya secara mengejutkan masuk skuad senior pada Maret. Pada musim panas ini ia pindah ke Amerika Serikat untuk bergabung dengan North Carolina Courage, setelah sebelumnya memperkuat klub Portugal, Valadares Gaia.

Rekan setimnya, Esme Morgan, memberi gambaran tentang kualitas Parkinson. Menurut Morgan, Parkinson adalah pemain yang cerdas, dengan pergerakan dan timing yang sangat baik dalam mencari ruang agar bisa ditemukan rekan-rekannya. Ia juga dinilai nyaman menerima bola di ruang sempit, kuat menahan pemain lawan, agresif dalam merebut bola, dan telah menunjukkan perkembangan yang mengesankan sejak bergabung di pemusatan latihan maupun saat berhadapan dengannya di kompetisi NWSL.

Siapa Nomor 10 Terbaik untuk Inggris?

Masuknya Parkinson menambah panjang daftar pemain yang bisa mengisi posisi nomor 10 dalam skema Wiegman. Salah satu opsi yang paling mencolok adalah Lauren James, penyerang Chelsea yang diberi peran kreatif dan bebas melawan Yunani. James sempat memperlihatkan kualitasnya dengan melepaskan lob santai dari jarak sekitar 30 yard, tetapi gol itu dianulir karena offside.

Pesaingnya tidak sedikit. Ada Grace Clinton dari Manchester City dan Ella Toone dari Manchester United yang keduanya dipanggil kembali untuk menutupi pemain cedera, sementara Lucia Kendall dari Aston Villa termasuk yang harus tersingkir dari skuad. Pada laga di Kreta, Laura Blindkilde Brown yang tampil sebagai starter di posisi itu, sedangkan Beth Mead dan Jess Park juga pernah mengisinya sebelumnya.

Bagi Wiegman, persoalan ini bukan sekadar tanda tanya besar. Ia justru menyebutnya sebagai kekayaan pilihan, karena setiap pemain punya kualitas yang berbeda-beda. “Anda bisa menyebutnya tanda tanya, tapi saya menyebutnya banyak opsi,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa dalam pertandingan melawan Yunani, timnya memakai dua pemain nomor 10, dan terkadang tiga, dengan James sebagai salah satunya.

Tugas Selesai dalam Suasana Tak Biasa

Laga di Kreta juga menyisakan pertanyaan di luar lapangan. Media lokal mempersoalkan mengapa pertandingan tidak digelar di Athena, ibu kota Yunani. Stadion di Heraklion yang berkapasitas 26.000 tempat duduk hanya terisi kurang dari 4.000 penonton, menciptakan atmosfer yang terasa lengang dan tidak seperti pertandingan internasional besar pada umumnya.

Suasana itu melengkapi situasi tidak biasa yang sedang dijalani Inggris. Tim asuhan Wiegman memang belum terbiasa berlaga di jalur play-off, karena mereka harus melewati rute ini setelah finis di bawah Spanyol di grup kualifikasi. Meski demikian, Georgia Stanway kembali hadir sebagai pembeda. Penyerang yang menjadi top skor Inggris tahun ini itu membuka keunggulan lewat rangkaian umpan pendek yang rapi, di tengah babak pertama yang berjalan alot.

Gol tersebut menjadi pemicu yang dibutuhkan Inggris, yang sebelumnya kurang tajam dalam memanfaatkan penguasaan bola. Wiegman menilai timnya membuat pekerjaan jadi lebih sulit karena Yunani bermain disiplin dan siap menekan. Menurutnya, Inggris semestinya bisa mencetak lebih dari tiga gol, dan masih ada banyak hal yang perlu diperbaiki, terutama pada umpan akhir, crossing, serta penempatan posisi. Perbaikan itulah yang akan mereka coba tunjukkan pada laga kedua.

Kesimpulan

Kemenangan Inggris atas Yunani membuat langkah mereka ke putaran final Piala Dunia Wanita di Brasil berada di jalur yang tepat. Meski begitu, Wiegman tetap punya sejumlah pekerjaan rumah: menjaga konsentrasi di lini belakang, meningkatkan ketajaman di sepertiga akhir lapangan, dan memastikan tim tampil lebih meyakinkan saat menjamu Yunani di Leicester. Debut Parkinson dan penampilan Le Tissier setidaknya memberi gambaran bahwa regenerasi skuad berjalan sesuai rencana.

Leg kedua pada Selasa malam akan menjadi ujian sesungguhnya. Jika Inggris mampu menyelesaikan tugas dengan rapi, mereka bisa mulai mengalihkan perhatian ke ronde berikutnya menghadapi Ukraina atau Slovakia. Namun jika kelengahan kembali muncul seperti di Kreta, Yunani masih menyimpan peluang untuk membuat kejutan.