Klasemen Premier League Usai 5 Pekan: Seberapa Stabil?

Author:

Klasemen Premier League baru memasuki pekan kelima, tetapi bentuk akhirnya ternyata sudah mulai terlihat jauh lebih jelas daripada yang mungkin Anda duga. Meski secara logika masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan besar, data dari musim-musim sebelumnya menunjukkan bahwa sebagian besar tim biasanya tidak bergerak terlalu jauh dari posisi mereka saat ini.

Ada satu catatan besar yang menggantung di atas klasemen: Manchester City dinyatakan bersalah atas mayoritas dakwaan yang diarahkan kepada mereka. Klub pemuncak klasemen itu telah mengajukan banding, dan bila putusan bersalah tetap berlaku, sanksi yang mungkin dijatuhkan bisa berdampak signifikan terhadap susunan klasemen. Sampai hal itu diputuskan, satu-satunya acuan yang bisa dipakai adalah tabel apa adanya seperti sekarang — dan dari situ muncul pertanyaan yang menarik: apakah Brentford benar-benar akan lolos ke kompetisi Eropa, Hull mampu bertahan, dan Tottenham kembali terseret ke pertarungan degradasi?

Apa yang Sudah Terlihat dari Klasemen Premier League Lima Pekan Pertama

Jika kita membandingkan klasemen setelah lima pekan musim lalu dengan posisi akhir setiap tim, hasilnya cukup mengejutkan: 13 dari 20 klub, atau sekitar 65 persen, mengakhiri musim dalam rentang empat posisi dari tempat mereka pada pekan kelima. Artinya, lebih dari separuh peserta liga praktis sudah “terkunci” di wilayah klasemen tertentu sejak fase awal kompetisi.

Contoh paling jelas adalah Arsenal, yang akhirnya menjuarai liga meski saat itu baru menempati posisi kedua. Sunderland juga sudah berada di peringkat ketujuh pada pekan kelima dan tetap finis di posisi yang sama delapan bulan kemudian. Sementara itu, dua dari tiga tim yang akhirnya terdegradasi sudah menghuni tiga terbawah sejak awal musim.

Tentu ada pengecualian yang cukup mencolok. Aston Villa dan Tottenham pada dasarnya bertukar tempat di dua ujung klasemen: Villa naik dari zona degradasi hingga menembus empat besar, sedangkan Spurs justru melorot sampai finis di peringkat 17.

Pola Sepuluh Musim Terakhir: Tim Cenderung Tak Banyak Bergerak

Tren ini bukan kebetulan satu musim saja. Dalam sepuluh tahun terakhir Premier League, 138 dari 200 tim — lebih dari dua pertiga — mengakhiri kompetisi dalam jarak empat posisi dari tempat mereka setelah lima pekan. Sebanyak 27 tim bahkan bertahan di posisi yang persis sama 33 pekan kemudian.

Ada 50 tim lain yang finis dalam rentang lima hingga sembilan posisi dari posisi awal mereka. Dengan kata lain, hanya 12 tim dalam satu dekade terakhir yang bergerak naik atau turun hingga dua digit posisi setelah pekan kelima, dan tiga di antaranya terjadi pada musim lalu.

Bagian atas klasemen pun kadang mengeras sangat cepat. Delapan tim teratas setelah lima pekan pada musim 2024-25 ternyata tetap menjadi delapan besar di akhir musim, meski urutannya tidak identik. Hal serupa terjadi pada 2019-20, ketika enam besar sudah terbentuk sejak awal, dan pada 2016-17 dengan tujuh besar yang sudah mapan.

Puncak Klasemen Justru Bagian yang Paling Sulit Diprediksi

Jika sebagian besar papan tengah dan bawah cenderung statis, puncak klasemen justru sebaliknya. Tim yang memimpin Premier League setelah lima pekan hanya meraih gelar juara pada satu dari enam musim terakhir, yakni Manchester City pada 2023-24, dan hanya tiga kali dalam 11 musim terakhir.

Fakta bahwa Manchester City menyapu bersih lima laga pertama musim ini pun belum menjadi jaminan apa pun. Mereka juga memenangi lima pertandingan awal di bawah Manuel Pellegrini pada 2015-16 dan pada musim pertama Pep Guardiola di 2016-17, tetapi gagal menjuarai liga pada kedua kesempatan tersebut, meski akhirnya berhasil pada 2023-24.

Pola serupa dialami Chelsea pada 2018-19, Arsenal pada 2022-23, dan Liverpool musim lalu. Ketiganya memuncaki klasemen dengan rekor 100 persen kemenangan, namun tak banyak yang bisa mereka petik pada akhir musim.

Meski demikian, ada satu sinyal yang jauh lebih konsisten: tim yang akhirnya menjuarai liga selalu berada di dua besar pada fase ini dalam empat musim terakhir. Ini menunjukkan bahwa — dengan mengesampingkan potensi sanksi — trofi kemungkinan besar kembali ke tangan Manchester City atau Arsenal. Tim terakhir yang juara meski berada di luar dua besar setelah lima pekan adalah Manchester City pada 2021-22, saat itu menghuni posisi kelima dengan 10 poin.

Berada di Dasar Klasemen Adalah Pertanda Buruk

Kalau posisi puncak tidak menentukan apa pun, hal sebaliknya berlaku untuk dasar klasemen. Tim yang berada di posisi terbawah setelah lima pekan telah terdegradasi pada enam dari tujuh musim terakhir.

Dahulu, berada di dasar klasemen sedini ini tidak selalu berakibat fatal. Antara 2013-14 hingga 2018-19, hanya satu dari enam tim yang menempati dasar klasemen setelah lima pekan yang akhirnya turun, yakni Newcastle pada 2015-16, sementara Crystal Palace bahkan finis setinggi peringkat 11 pada 2017-18.

Kabar baiknya bagi Tottenham: terakhir kali mereka berada dalam situasi ini, mereka finis di peringkat kedelapan. Pada 2008-09, klub London utara itu terpuruk di dasar klasemen dengan hanya dua poin setelah lima laga, tetapi setelah mengganti manajer Juande Ramos dengan Harry Redknapp tiga pertandingan kemudian, mereka tetap menutup musim di paruh atas.

Setelah finis hanya satu posisi di atas zona degradasi dalam dua musim terakhir, Tottenham jelas tidak berada di posisi yang nyaman. Status mereka sebagai juru kunci saat ini menjadi peringatan yang serius, terutama karena tren tujuh musim terakhir menunjukkan bahwa dasar klasemen pada fase ini jarang berakhir dengan penyelamatan dramatis.

Peta Pertarungan Degradasi Musim Ini

Dalam delapan musim terakhir, selalu ada minimal satu tim yang berada di tiga terbawah pada fase ini dan akhirnya terdegradasi. Artinya, salah satu dari Tottenham, Fulham, dan Coventry sangat mungkin bermain di Championship pada Mei nanti.

Daftar pesaing pertarungan degradasi musim ini pun sepertinya sudah bisa ditebak sejak sekarang. Tiga tim yang akhirnya turun dalam tiga musim terakhir semuanya berada di enam terbawah setelah lima pekan. Jika pola itu berlanjut, Bournemouth, Aston Villa, dan Crystal Palace akan ikut masuk ke dalam perhitungan.

Tim terakhir yang terdegradasi meski berada di luar enam terbawah pada fase ini adalah Leeds dan Southampton pada 2022-23, yang saat itu justru menghuni paruh atas klasemen di peringkat tujuh dan sembilan. Dengan Hull kini berada di peringkat delapan dan Ipswich di posisi 11, kedua klub tersebut berharap pola lama itu tetap bertahan hingga akhir musim.

Bayang-Bayang Sanksi yang Bisa Mengubah Segalanya

Satu hal yang perlu diingat: seluruh gambaran di atas berdiri di atas klasemen yang masih bisa berubah di luar lapangan. Manchester City dinyatakan bersalah atas mayoritas dakwaan Premier League, dan klub itu telah mengajukan banding atas putusan tersebut.

Bila putusan bersalah tetap dipertahankan, sanksi yang dijatuhkan bisa memberikan dampak besar terhadap susunan klasemen, terutama karena City saat ini memimpin. Perubahan pada poin atau posisi mereka otomatis akan menggeser peta persaingan di papan atas maupun dalam perebutan tiket kompetisi Eropa.

Karena itu, membaca klasemen musim ini membutuhkan sedikit kehati-hatian. Semua analisis di atas berlaku untuk tabel apa adanya sekarang, dan bisa berubah drastis bila proses banding pada akhirnya menghasilkan keputusan yang berbeda.

Kesimpulan

Meski musim baru berjalan singkat, klasemen Premier League sudah mulai membentuk pola yang sulit diabaikan. Sebagian besar tim cenderung bertahan di sekitar posisi mereka saat ini, sementara puncak klasemen justru tetap menjadi wilayah yang paling tidak bisa diprediksi dari musim ke musim.

Yang paling krusial, dasar klasemen kini berfungsi sebagai peringatan dini. Tottenham, Fulham, dan Coventry punya alasan untuk waspada, sementara Hull dan Ipswich berharap bisa menghindari pola yang pernah menimpa Leeds dan Southampton. Semua itu berlaku sebelum potensi sanksi terhadap Manchester City mengubah apa pun yang sudah kita lihat sejauh ini.