Winger timnas Wales, Wes Burns, kembali memperkuat negaranya setelah nyaris dua tahun menepi, dan ia menyebut dukungan pelatih kepala Craig Bellamy sebagai faktor penentu dirinya masih bertahan di jalur internasional. Pemain berusia 31 tahun itu mengaku secara khusus menarik Bellamy ke samping untuk menyampaikan terima kasih atas sokongan yang ia gambarkan sebagai “sangat besar” selama masa pemulihan.
Burns masuk kembali ke skuad Wales untuk pertama kalinya dalam dua tahun menyusul cedera lutut yang ia akui sempat mengancam kelanjutan karier profesionalnya. Menurutnya, tanpa campur tangan sang pelatih, perjalanan kariernya bersama tim nasional bisa berakhir jauh lebih cepat dari yang ia bayangkan. Kini ia bersiap menjalani laga Nations League bersama Wales.
Kronologi Cedera yang Mengubah Karier Wes Burns
Burns harus menepi hampir setahun setelah mengalami robek ligamen anterior cruciate atau ACL. Cedera itu ia alami ketika Ipswich Town menelan kekalahan di markas Liverpool pada Januari 2025, sebuah momen yang sekaligus menggagalkan kesempatannya berlaga di Premier League.
Ketika akhirnya kembali ke lapangan sekitar 11 bulan kemudian, lanskapnya sudah berubah banyak. Ipswich telah kembali bermain di Championship, sementara nama Burns ikut menghilang dari radar timnas Wales yang tengah menyiapkan diri untuk play-off Piala Dunia 2026 — sebuah upaya yang pada akhirnya berujung kegagalan.
“Dunia sepak bola melupakanmu dengan sangat, sangat cepat ketika kamu sedang tidak bermain,” ujar Burns menggambarkan situasi yang ia hadapi sepanjang masa pemulihan.
Peran Craig Bellamy selama Proses Rehabilitasi
Meski sempat jauh dari sorotan, Burns ternyata tidak pernah benar-benar hilang dari perhatian Bellamy. Pelatih kepala Wales itu rutin menghubunginya, bisa setiap bulan maupun setiap dua pekan sekali, sekadar untuk memastikan kondisi pemulihannya berjalan baik.
“Ketika seseorang seperti Craig Bellamy, pelatih kepala Wales, menelepon saya setiap bulan atau setiap dua minggu untuk memastikan saya baik-baik saja, itu nilai tambah yang sangat, sangat besar,” kata Burns.
Ia menambahkan bahwa komunikasi tersebut membuat jaraknya dengan timnas tidak pernah terasa terlalu jauh. “Alih-alih merasa berada sejuta mil jauhnya, saya selalu merasa berada dalam jangkauan untuk kembali,” ujarnya.
Burns juga mengungkapkan bahwa Bellamy pernah mengalami cedera serupa ketika masih aktif sebagai pemain, sehingga ia paham betul apa yang sedang dilalui anak asuhnya. Menurut Burns, hal itulah yang membuat dukungan tersebut terasa jauh lebih berarti.
Tekanan Mental dan Rasa Takut Kehilangan Karier
Burns mengakui bahwa masa-masa awal usai cedera adalah periode paling menegangkan dalam hidupnya. Ia menyadari betul bahwa seorang pesepak bola bisa berada hanya sejeda dari sebuah bencana, dan itulah yang ia rasakan saat ligamennya robek.
“Kamu hanya perlu mengingat bahwa kamu cuma berjarak satu detik dari bencana,” katanya. Menurutnya, saat cedera terjadi, pemain tidak pernah tahu seberapa parah kondisinya di awal, sehingga rasa takut karier berakhir sangat wajar muncul.
Setelah menjalani operasi, kondisi lututnya membengkak hebat dan sempat membuatnya meragukan kemampuan diri sendiri. “Lututmu seperti balon, dan kamu berpikir bagaimana mungkin saya bisa berjalan lagi, apalagi bermain,” ujarnya.
Namun seiring waktu, semuanya membaik. Burns menegaskan bahwa kuncinya adalah memastikan proses rehabilitasi dijalankan dengan benar, sementara telepon rutin dari Bellamy menjadi penyemangat yang tak ternilai harganya.
Pilihan Sulit Hengkang ke Leicester City
Burns sebenarnya punya peluang kembali bermain di Premier League musim ini. Ia turut membantu Ipswich Town langsung promosi kembali ke kasta tertinggi pada musim 2025-26, tetapi ia justru memilih turun dua divisi dengan bergabung ke Leicester City.
“Saya bisa saja bertahan satu tahun lagi di Ipswich, dan saya menimbang apakah akan menuntaskan kisah bermain satu musim penuh di Premier League, level yang saya perjuangkan keras untuk kembali ke sana,” ujar mantan pemain Fleetwood itu.
Meski begitu, Burns juga mempertimbangkan keberlangsungan kariernya dalam jangka panjang. Pada akhirnya, ia memilih opsi kontrak yang lebih panjang di Leicester, dengan kemungkinan mengulang pencapaian promosi beruntun seperti yang pernah ia raih bersama Ipswich.
Tantangan Bersama Leicester dan Russell Martin
Saat ini Leicester masih berjuang beradaptasi dengan League One di bawah asuhan mantan bos Swansea City, Russell Martin. Klub itu tertahan di peringkat ke-13 dengan baru dua kemenangan dari tujuh laga pembuka, sehingga target promosi tampak masih jauh dari jangkauan.
Burns mengakui adanya kontras besar antara situasi Leicester saat ini dan reputasinya. “Kita semua tahu ceritanya, Leicester juara Premier League 10 tahun lalu, punya perjalanan Liga Champions yang luar biasa, juara Piala FA, dan sekarang berada di papan tengah League One,” katanya.
Meski demikian, ia menilai posisi Leicester mirip dengan situasi Ipswich ketika ia pertama bergabung. Ia melihatnya sebagai kesempatan untuk mengulang sesuatu yang pernah ia capai bersama pelatih yang ia nilai hebat, meski kerap menerima kritik.
Menurut Burns, Martin punya gaya dan filosofi bermain yang sangat berbasis penguasaan bola dan berisiko tinggi, tetapi hasilnya luar biasa ketika berjalan sesuai rencana. “Percayalah, saya pernah bermain melawan tim-tim Russell Martin yang bagus dan mereka sangat sulit dihadapi. Tapi ini proses, dan proses butuh waktu lama,” ujarnya. Ia pun yakin Leicester akan bangkit.
Kembali ke Panggung Internasional
Penampilan terakhir Burns bersama Leicester adalah selama 30 menit sebagai pemain pengganti saat melawan Barnsley pada 19 September. Sepekan kemudian, ia berharap bisa kembali tampil di level internasional untuk pertama kalinya sejak menjadi starter dalam kemenangan 1-0 Wales atas Montenegro di Nations League B pada Oktober 2024.
Wales sendiri mengawali kampanye Nations League kali ini dengan kekalahan 1-0 di Portugal. Burns tidak turun dari bangku cadangan dalam laga tersebut, dan ia berharap mendapat menit bermain saat Wales menghadapi Denmark di Stadion Parken, Kopenhagen, pada laga kedua Grup A4.
Setelah itu, Wales dijadwalkan menjamu Norwegia di Cardiff City Stadium. Dari Oakwell di Barnsley hingga Kopenhagen, lalu berhadapan dengan tim besutan Erling Haaland, Burns menyadari lonjakan kualitas yang akan ia hadapi sangat besar dibandingkan level kompetisi yang ia jalani setiap pekan.
Namun ia tak datang tanpa bekal. Burns pernah merasakan bermain di Premier League dan melawan tim-tim internasional kelas atas. Salah satu momen yang paling ia ingat adalah ketika Wales bertandang ke Belanda di Nations League pada 2022, saat ia berada di lapangan yang sama dengan gelandang Frenkie de Jong.
“Sampai hari ini, dia pemain terbaik yang pernah saya hadapi atau saksikan di lapangan sepak bola,” kata Burns. Ia yakin pengalaman-pengalaman semacam itu akan membantunya jika diberi kesempatan tampil melawan Denmark maupun Norwegia, dan ia mengaku sangat antusias bisa terlibat dalam laga-laga besar tersebut.
Bagi Wes Burns, kembalinya ia ke skuad Wales adalah buah dari ketekunan melewati cedera terberat dalam kariernya, sekaligus bukti betapa besar arti perhatian seorang pelatih. Dukungan Craig Bellamy, yang datang lewat panggilan rutin di tengah masa pemulihan, membuatnya tetap merasa menjadi bagian dari tim nasional meski harus menepi hampir setahun penuh.
Sekarang tantangannya berbeda: ia harus membuktikan bahwa pengalaman bermain di level tertinggi masih cukup untuk bersaing di Nations League, sambil membantu Leicester City keluar dari kesulitan di League One. Apa pun hasil akhirnya, kisah Burns menunjukkan bahwa komunikasi yang tulus dan kesetiaan seorang pelatih bisa menjadi penopang penting ketika seorang pemain berada di titik terendah kariernya.
