Manchester United menjual rumput Old Trafford dalam bentuk potongan kecil seharga £125 atau sekitar jutaan rupiah per buah. Setiap kubus berisi sepetak turf berukuran 7×7 cm yang diambil dari lapangan legendaris tersebut, lalu diawetkan dan dikemas dalam kotak berwarna hitam. Penjualan rumput Old Trafford ini diumumkan pada hari yang sama ketika klub melaporkan bahwa total utang mereka masih berada di atas £1 miliar.
Langkah ini menjadi menarik karena datang berbarengan dengan proyek pembangunan stadion baru yang nilainya diperkirakan menembus £2 miliar. Di satu sisi, Manchester United tengah menanggung beban utang besar; di sisi lain, klub justru menjual memorabilia dari lapangan lama yang musim panas ini digali untuk pertama kalinya dalam 14 tahun. Kombinasi dua hal itu membuat keputusan klub jadi sorotan, terutama bagi penggemar yang ingin menyimpan bagian dari sejarah Old Trafford.
Rumput Old Trafford Dijual dalam Kubus Kaca, Batch Pertama Ludes
Potongan rumput yang dijual bukan sekadar sampel kasar dari lapangan. Setiap bagian dipotong presisi dengan ukuran 7×7 cm, kemudian ditempatkan di dalam kubus kaca agar bentuknya tetap terjaga dan mudah dipajang. Kubus tersebut disajikan di dalam sebuah kotak berwarna hitam, sehingga produk ini lebih menyerupai benda koleksi ketimbang suvenir biasa.
Meski harga per kubus mencapai £125, minat penggemar ternyata tinggi. Pihak klub menyebut batch pertama yang dilepas ke pasaran sudah habis terjual, tanpa menyebutkan secara rinci berapa unit yang tersedia dalam tahap awal tersebut. Kondisi ini menunjukkan bahwa rumput Old Trafford punya daya tarik emosional yang kuat bagi sebagian suporter, terlepas dari harga yang tergolong mahal untuk sekadar sepotong rumput.
Di situs resmi klub, produk ini dipromosikan sebagai kenang-kenangan bernilai tak ternilai dari pertandingan-pertandingan ikonik yang digelar di kandang, sekaligus cara menjaga memori hari pertandingan tetap hidup. Narasi pemasaran itu menempatkan kubus rumput sebagai simbol, bukan komoditas biasa. Dengan kata lain, klub menjual pengalaman dan keterikatan emosional, bukan hanya material sisa dari lapangan yang dibongkar.
Latar Belakang: Lapangan Digali Setelah 14 Tahun
Penjualan ini tidak muncul tiba-tiba. Untuk pertama kalinya dalam 14 tahun, lapangan Old Trafford digali pada musim panas ini dan dikembalikan hingga ke lapisan fondasinya. Proses pembongkaran skala besar semacam itu membuka peluang bagi klub untuk menyelamatkan sebagian turf sebelum semuanya dibuang.
Dari situlah muncul ide mengawetkan potongan rumput dan mengemasnya menjadi produk koleksi. Sejumlah bagian lapangan dipilih, dipotong sesuai ukuran standar, lalu diproses agar bisa bertahan lama di dalam kaca. Langkah ini sekaligus menjadi cara klub memonetisasi momen transisi lapangan yang jarang terjadi.
Di sisi lain, proyek stadion baru terus berjalan. Manchester United mengonfirmasi bahwa £63,5 juta telah dibelanjakan untuk membeli tanah bagi stadion baru tim, yang secara keseluruhan diperkirakan menelan biaya lebih dari £2 miliar. Artinya, penjualan rumput hanyalah bagian kecil dari rangkaian perubahan besar yang sedang dialami klub.
Di Balik Angka: Utang Tetrao Besar dan Kinerja Keuangan
Pengumuman penjualan rumput bertepatan dengan rilis laporan keuangan klub. Manchester United mencatat pendapatan rekor sebesar £677,6 juta dan laba operasional £22,6 juta untuk periode 2025-26, namun pada saat yang sama mencatat kerugian sebelum pajak sebesar £43 juta. Klub juga menegaskan bahwa total utang mereka masih melebihi £1 miliar.
Angka-angka itu memberi konteks mengapa setiap sumber pendapatan, sekecil apa pun, tetap berarti. Menjual ratusan atau ribuan kubus rumput tentu tidak akan menutup utang miliaran pound, tetapi mencerminkan bagaimana klub aktif menggarap lini komersial di tengah tekanan finansial. Manchester United sendiri merupakan klub dengan 13 gelar Premier League, jadi basis penggemar globalnya menjadi aset yang bisa terus dimonetisasi.
Bagi penggemar, kombinasi antara harga £125 dan kondisi keuangan klub bisa memicu perdebatan. Sebagian melihatnya sebagai cara sah untuk memiliki memorabilia eksklusif, sementara yang lain menilai klub sedang menjual nostalgia ketika beban utang belum juga surut. Apa pun sikapnya, fakta bahwa batch pertama langsung habis menunjukkan permintaan pasar memang ada.
Tren Klub Menjual Memorabilia dan Apa yang Berikutnya
Menjual potongan lapangan bukan hal yang benar-benar baru dalam dunia sepak bola. Klub-klub besar kerap melepas memorabilia terbatas ketika stadion mereka direnovasi atau dipindahkan, karena momen semacam itu sulit diulang dan punya nilai sejarah. Old Trafford, sebagai salah satu stadion paling dikenal di dunia, membuat produk seperti ini punya daya tarik tersendiri di mata kolektor.
Yang membedakan langkah Manchester United adalah timing-nya. Penjualan dilakukan di tengah pembicaraan soal utang di atas £1 miliar dan biaya stadion baru yang melebihi £2 miliar, sehingga narasi komersial dan narasi finansial berjalan beriringan. Kondisi ini bisa memengaruhi cara publik menilai setiap inisiatif bisnis klub ke depan.
Ke depan, wajar jika klub membuka batch penjualan berikutnya mengingat respons positif pada tahap pertama, meski belum ada keterangan resmi soal jadwal atau jumlah tambahan. Selain itu, pembangunan stadion baru akan terus menjadi sorotan, termasuk bagaimana dana tanah dan konstruksi dibelanjakan. Untuk sementara, potongan rumput Old Trafford menjadi jembatan antara era lama dan era baru klub.
Kesimpulan
Manchester United menjual potongan rumput Old Trafford seharga £125 per kubus kaca berisi turf 7×7 cm, dan batch pertama sudah ludes. Penjualan ini bersamaan dengan laporan utang klub yang masih di atas £1 miliar, kerugian sebelum pajak £43 juta, serta pengeluaran £63,5 juta untuk tanah stadion baru yang diperkirakan menelan biaya lebih dari £2 miliar. Latar belakangnya adalah penggalian lapangan untuk pertama kali dalam 14 tahun, yang membuat sebagian turf diselamatkan dan dikemas sebagai kenang-kenangan.
Pada akhirnya, ini bukan sekadar soal sepotong rumput di dalam kaca. Ini tentang bagaimana sebuah klub besar mengubah momen transisi menjadi produk bernilai emosional, sekaligus menghadapi realitas keuangannya sendiri. Bagi penggemar, keputusan ada di tangan masing-masing: membeli sepotong sejarah, atau cukup mengenangnya dari jauh.
