Masalah Homegrown WSL dan Dampaknya bagi Timnas Inggris

Author:

Women’s Super League (WSL) tengah menghadapi pertanyaan besar soal pemain homegrown. Pada malam pembukaan musim 2025-26, London City Lionesses mengalahkan Manchester United dengan starting XI yang sama sekali tidak diperkuat pemain Inggris. Ini menjadi pertama kalinya sebuah klub WSL turun tanpa pemain Inggris di hari pertama musim.

Dua hari berselang, Tottenham juga hanya memainkan satu pemain Britania, yaitu striker Skotlandia Kirsty Hanson, saat mengalahkan West Ham. Fenomena ini menunjukkan WSL semakin mampu menarik talenta terbaik dunia, tetapi apakah kondisi itu baik untuk pemain lokal dan tim nasional? Tom Garry dari The Guardian menyebut situasi ini “mengkhawatirkan” bagi harapan negara-negara Britania.

Komposisi WSL yang Semakin Berubah

Sepuluh tahun lalu, ketika Manchester City terakhir kali menjuarai WSL, mereka melakukannya dengan starting XI yang seluruhnya pemain Britania. Kini, keadaan sudah jauh berbeda. WSL resmi menjadi liga profesional penuh pada 2018, dan kesuksesan Lionesses pada dekade 2020-an meledakkan popularitas serta pendapatan liga.

Dampaknya, klub-klub memperluas jaringan pencarian bakat dan mendatangkan pemain dari berbagai negara. Nilai transfer pun melonjak sejak awal dekade ini. Dalam beberapa jendela transfer terakhir, klub WSL banyak merekrut dari Jerman dan Swedia. Puncaknya, peraih Ballon d’Or dua kali Alexia Putellas meninggalkan Barcelona untuk bergabung dengan London City yang bermodal besar.

Kehadiran pemain Jepang dan Australia juga menegaskan daya tarik WSL bagi pesepak bola top dunia. Klub-klub dengan kantong paling dalam mengisi skuad mereka dengan pemain dari seluruh penjuru dunia. Data menunjukkan proporsi pemain homegrown—Inggris, Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara—yang menjadi starter 11 kali atau lebih dalam satu musim WSL terus menurun dalam tiga musim terakhir, kini di bawah sepertiga.

Tiga pekan pertama musim 2026-27 memang menunjukkan sedikit kenaikan dibanding musim sebelumnya. Namun, kenaikan itu sebagian disebabkan oleh ekspansi WSL dari 12 menjadi 14 tim serta komposisi pemain homegrown yang lebih banyak di tiga tim promosi: Birmingham City, Crystal Palace, dan Charlton Athletic. Meski demikian, tren jangka panjangnya tetap menurun.

Latar Belakang: Mengapa WSL Semakin Global

Profesionalisasi pada 2018 menjadi titik balik. Sejak itu, pendapatan liga meningkat, audiens bertambah, dan klub mampu membayar transfer serta gaji yang lebih kompetitif. Kesuksesan timnas Inggris di Euro 2022 dan Euro 2025 semakin mempercepat pertumbuhan ini. Alhasil, WSL kini dianggap sebagai salah satu liga terbaik di dunia.

Manajer Birmingham City, Amy Merricks, mengakui dilema yang muncul. “Liga kami tumbuh signifikan dan menarik atlet kelas dunia dari seluruh dunia,” katanya. “Sayangnya, itu memblokir sebagian jalur bagi pemain muda. Kami membutuhkan talenta ini karena liga kami berkembang, tetapi di saat yang sama kami harus mencoba mengatasi masalah ini.” Dilema ini dirasakan banyak klub WSL.

Menariknya, tren penurunan pemain homegrown tidak terjadi di liga-liga besar Eropa lainnya. Pada 2025-26, sebanyak 61% pemain yang menjadi starter di setengah musim atau lebih di Premiere Ligue Prancis adalah orang Prancis. Di Frauen Bundesliga Jerman, angkanya 63%, sedangkan di Liga F Spanyol mencapai 69%.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa WSL memiliki karakter yang lebih global dibandingkan liga-liga tersebut. Meskipun demikian, banyak pihak menilai ada konsekuensi jangka panjang yang perlu diwaspadai, terutama bagi pembinaan pemain muda Inggris. Pasalnya, pemain lokal butuh menit bermain untuk berkembang.

Dampak bagi Klub, Pemain Muda, dan Timnas

Manajer Manchester City, Andree Jeglertz, berbicara blak-blakan soal prioritasnya. “Klub bertanggung jawab membesarkan pemain muda, memberi talenta kami kesempatan masuk skuad dan bersaing setiap pekan,” ujarnya. “Tetapi soal pemilihan tim, saya selalu harus memilih tim yang memberi peluang terbaik untuk menang. Jika itu berisi delapan pemain muda Inggris yang menjanjikan atau nol, saya tidak peduli. Saya hanya ingin menang.”

Pernyataan itu menggambarkan ketegangan antara kebutuhan klub untuk kompetitif dan tanggung jawab mengembangkan pemain lokal. Legenda Inggris, Ellen White, menilai kuota yang ada saat ini tidak cukup. “Kita harus memperbarui kuota delapan pemain itu, menyesuaikannya untuk membantu dan melengkapi struktur internasional kita, talenta homegrown kita,” kata White dalam podcast Women’s Football Weekly.

Garry bahkan mendorong langkah lebih jauh. “Saya ingin melihat mereka melangkah lebih jauh—sesuatu yang dimandatkan, misalnya jumlah minimum pemain homegrown di lapangan pada satu waktu,” ujarnya. “Susunan pemain London City mengkhawatirkan. Bagus untuk produk di sini, tetapi apakah kita akan melihat dampak menyakitkan dalam 15 tahun jika Inggris kesulitan melaju jauh di turnamen besar karena kita tidak mengembangkan pemain?”

Saat ini, aturan FA mewajibkan klub WSL mencantumkan delapan pemain homegrown dalam daftar skuad. Kuota untuk klub WSL 2 lebih tinggi dan dihitung berdasarkan skala geser sesuai ukuran skuad. Namun, aturan ini hanya mengatur daftar skuad, bukan jumlah pemain homegrown yang harus bermain di lapangan.

Konteks Lebih Luas: Timnas dan Langkah FA

Inggris adalah juara Eropa dua kali, tetapi skuad mereka tidak banyak berubah dalam tiga turnamen besar terakhir. Tujuh dari pemain yang menjadi starter melawan Spanyol pada Juni juga tampil di final Euro 2022 melawan Jerman, sementara dua starter lainnya berada di bangku cadangan empat tahun lalu. Tim asuhan Sarina Wiegman kalah 4-0 di Mallorca dan gagal lolos otomatis ke Piala Dunia Wanita 2027 di Brasil. Mereka harus melewati dua ronde play-off, dimulai melawan Yunani bulan depan.

Regenerasi menjadi isu mendesak. Sejak datang pada September 2021, Wiegman telah memberi debut kepada 21 pemain, tetapi hanya Lauren James, Hannah Hampton, dan Lucia Kendall yang menjadi starter mapan. Sementara itu, di Piala Dunia Wanita U-20 yang sedang berlangsung di Polandia, Inggris kalah 3-0 dari Nigeria di 16 besar. Beberapa pemain seperti Erica Meg Parkinson dan Laila Harbert tidak dilepas klub untuk memperkuat timnas. Saat Inggris memulai laga di Kreta pada Jumat, 5 Oktober pukul 20:00 BST, kemungkinan susunan pemainnya masih sama.

Pada 2022 dan 2024, Inggris bahkan tidak lolos ke Piala Dunia U-20. Ini jauh berbeda dari generasi 2018 yang diperkuat Alessia Russo, Lauren Hemp, dan Georgia Stanway, yang membawa Inggris ke peringkat ketiga dan menjadi fondasi kesuksesan berikutnya. Bulan lalu, FA menyetujui rencana kontroversial yang mengizinkan beberapa tim akademi WSL bermain di National League mulai 2027-28. FA menilai reformasi ini akan memperkuat piramida sepak bola wanita, meningkatkan standar, dan memperbaiki jalur pengembangan pemain muda.

Chelsea telah mengonfirmasi rencana memasukkan tim akademi mereka ke tier ketiga. Direktur pelaksana Manchester City Women, Charlotte O’Neill, sebelumnya juga menyatakan keinginan serupa. Langkah ini diharapkan memberi pemain muda lebih banyak menit bermain kompetitif, yang selama ini dianggap kurang.

Apa yang Bisa Terjadi Berikutnya?

Dengan Liga Champions Wanita kembali bergulir, perhatian pada kualitas dan komposisi WSL akan semakin besar. Arsenal akan menghadapi HB Koge pada Selasa, 22 September, pukul 20:00 BST, dan laga-laga tim Inggris dapat diikuti melalui BBC Radio 5 Live serta pembaruan teks di situs BBC Sport. Namun, di balik gemerlap kompetisi Eropa, pertanyaan soal homegrown tetap mengemuka.

Jika tren ini berlanjut tanpa intervensi, WSL bisa semakin bergantung pada pemain impor. Dalam jangka pendek, kualitas liga meningkat dan penonton diuntungkan. Namun, dalam jangka panjang, timnas Inggris dan negara-negara Britania lainnya berisiko kekurangan pemain muda yang siap bersaing di level tertinggi. Perdebatan tentang kuota, menit bermain, dan peran akademi akan menjadi semakin penting.

Beberapa pihak mungkin menginginkan aturan yang lebih ketat, seperti minimum pemain homegrown di lapangan. Yang lain berpendapat bahwa kompetisi yang ketat justru akan memacu pemain lokal untuk berkembang. Apa pun pilihannya, keseimbangan antara daya saing global dan pembinaan lokal akan menentukan masa depan sepak bola wanita Inggris.

Kesimpulan

Masalah homegrown WSL bukan sekadar soal komposisi starting XI, melainkan cerminan dari pertumbuhan liga yang pesat. Klub ingin terus kompetitif, liga ingin semakin global, tetapi timnas Inggris membutuhkan regenerasi agar tidak bergantung pada generasi Euro 2022. Ketegangan ini menuntut solusi yang tidak hanya mengandalkan kuota di atas kertas.

Langkah FA mengizinkan akademi bermain di National League dan usulan memperbarui kuota homegrown bisa menjadi awal yang baik. Namun, hasilnya baru akan terlihat dalam beberapa tahun. Pada akhirnya, keseimbangan antara menarik talenta dunia dan membina pemain lokal akan menentukan apakah WSL benar-benar bermanfaat bagi sepak bola wanita Inggris secara keseluruhan.