Tidak ada satu kursi pun yang kosong ketika Alexia Putellas memasuki ruangan sebuah hotel di Maidstone untuk berbicara di hadapan media Inggris untuk pertama kalinya. Peraih Ballon d’Or dua kali itu sempat berdecak kagum saat membuka pintu dan melihat puluhan jurnalis yang menantinya. “Wah,” ucapnya sambil tersenyum, mencairkan suasana yang sempat tegang.
Kepindahan Alexia Putellas ke London City Lionesses pada musim panas ini disebut-sebut sebagai rekrutan terbesar dalam sejarah WSL. Ia meninggalkan Barcelona, klub yang membesarkan namanya, untuk memulai babak baru yang penuh tantangan dan ketidakpastian. Dalam wawancara eksklusif dengan BBC Women’s Football Weekly, pemain yang dijuluki “La Reina” atau sang ratu di Spanyol ini membuka diri soal karier, ambisi, hingga adaptasinya dengan kehidupan di Inggris.
Perjalanan Alexia Putellas dari Barcelona ke London City
Alexia Putellas lahir di Mollet del Valles, sebuah munisipalitas di provinsi Barcelona, Catalonia. Sejak kecil, ia rutin menonton pertandingan di Nou Camp dan mengidolakan Andres Iniesta, Rivaldo, serta Ronaldinho. Ia bahkan pernah mengikuti kamp musim panas sepak bola yang digagas Xavi Hernandez dan bermain untuk klub lokal CE Sabadell.
Perjalanannya bersama Barcelona tidak selalu mulus. Putellas sempat menjalani satu tahun di La Masia, akademi terkenal Barcelona, sebelum akhirnya harus pergi karena tim putrinya dibubarkan. Setelah singgah di Espanyol dan Levante, ia kembali ke Barcelona pada 2012 dan menjalani karier selama 14 tahun bersama klub masa kecilnya itu.
Bagi Putellas, sepak bola adalah bagian tak terpisahkan dari hidupnya sejak kecil. “Di Spanyol, sepak bola adalah olahraga yang umum. Saat saya kecil, itu bukan untuk wanita, tapi untungnya sekarang sudah berbeda,” tuturnya. “Saya selalu membawa bola ke mana pun, bermain di taman, di jalanan, bahkan kadang di rumah. Di rumah, pertandingan Barca selalu diputar di TV, jadi saya mulai dari menonton, lalu tiba-tiba saya tidak bisa lepas dari bola sepanjang hari.”
Rekam Jejak Sang Ratu Sepak Bola
Sepanjang kariernya di Barcelona, Alexia Putellas mengoleksi segudang trofi bergengsi. Pemain berusia 32 tahun ini membantu Barcelona mendominasi sepak bola wanita Eropa selama lebih dari satu dekade sebagai kapten tim. Berikut pencapaian utamanya:
- Mengoleksi 38 trofi bersama Barcelona, termasuk 10 gelar liga dan empat trofi Liga Champions Wanita
- Meraih Ballon d’Or dua kali berturut-turut pada 2021 dan 2022
- Membawa Spanyol menjadi juara Piala Dunia 2023
- Menjadi runner-up Euro 2025 bersama La Roja
Meski sudah mencapai puncak karier, Putellas mengaku belum puas dan terus ingin berkembang. “Ya, tentu saja, setiap hari saya ingin belajar hal-hal baru,” ujarnya sambil tertawa ketika ditanya apakah ia bisa tampil lebih baik lagi. “Itulah cara saya memandang pekerjaan ini: terus melangkah, tidak pernah berhenti, dan menjadi yang terbaik yang saya bisa.”
Petualangan barunya bersama London City disebut Putellas sebagai cara untuk menemukan batas kemampuannya sebagai pemain. Meski sedang menikmati pramusim, pikirannya sudah tertuju pada laga perdana melawan Manchester United pada 4 September. “Semuanya tentang Manchester United,” katanya dengan nada serius.
Mentalitas Juara yang Tak Pernah Padam
Keputusan Putellas meninggalkan Liga Champions untuk bergabung dengan klub independen milik wanita yang baru berkembang tentu menimbulkan banyak pertanyaan. Namun, ia menegaskan bahwa mentalitas juaranya tidak akan berubah. “Keduanya bisa berjalan beriringan, mentalitas saya dan tahap proyek ini. Saya akan memberikan apa pun yang dibutuhkan tim,” ujarnya. “Saya berkomitmen 100 persen, saya lapar akan kemenangan dan ingin menjadi lebih baik setiap hari, berjuang bersama rekan-rekan setim untuk meraih kemenangan.”
Semangat kompetitifnya terlihat jelas dalam setiap percakapan. Saat menerima hadiah permainan bertema kereta bawah tanah London dari BBC Sport, ia langsung bercanda akan mengalahkan Freya Godfrey. “Oh ya, saya akan main dengan Freya Godfrey, lalu saya menang. Saya akan bilang begitu padanya,” kelakarnya.
Mentalitas menang itu tidak pernah berubah, tetapi cara pandangnya terhadap hidup berubah setelah cedera ACL yang membuatnya absen dari Euro 2022. “Sejak cedera ACL, saya menikmati segalanya. Bukan sekadar bersenang-senang, tapi belajar sesuatu, dan saya menikmati proses belajarnya,” jelasnya. “Saya hanyalah seseorang yang mencintai apa yang ia lakukan. Saya mencintai kompetisi, sepak bola, latihan, dan terus menjadi lebih baik.”
Jenius di Lapangan Latihan
Putellas masih belajar bahasa Inggris dan kerap meminta maaf ketika membahas taktik WSL. “Maaf teman-teman, saya masih belajar bahasa sepak bola. Konferensi pers ini mungkin terlalu cepat!” candanya. Namun, pemahamannya tentang sepak bola jauh melampaui kendala bahasa yang ia hadapi.
Manajer London City, Eder Maestre, bahkan menyebut Putellas seperti pelatih kedua di lapangan latihan karena kemampuannya mengatur ritme permainan tim. Menurut Putellas, kebiasaan itu terbentuk selama ia bermain di Barcelona. “Menurut saya, jika saya memberi Anda umpan tanpa berbicara, Anda sudah mendapat informasi. Itu yang saya pelajari di Barcelona,” katanya. “Mungkin saya memberi umpan karena saya ingin mereka menerima pesan seperti ‘kita maju’ atau ‘kita bertahan’. Ini semua adalah bahasa sepak bola.”
Putellas percaya pemahaman mendalam tentang permainan adalah kunci untuk unggul dari lawan. “Latihan terbaik yang pernah saya jalani adalah tentang memahami apa yang terjadi di dalam pertandingan,” ujarnya. “Jika Anda paham apa yang terjadi di lapangan, Anda akan selangkah lebih maju dari lawan. Saat berlatih, saya selalu mencoba memahami cara kami ingin bermain.”
Bintang Super yang Tetap Rendah Hati
Ketenaran Putellas tidak perlu diragukan lagi. Ia diperkenalkan secara megah oleh London City di New York bersama pemilik miliarder Michele Kang, memiliki 3,4 juta pengikut di Instagram, dan mural dirinya sebagai pahlawan super menghiasi kampung halamannya. Nike bahkan pernah menghadiahinya mahkota emas khusus setelah kemenangan Ballon d’Or keduanya.
Meski begitu, Putellas mengaku tidak nyaman menjadi pusat perhatian. Ia sedikit takut saat menghadapi konferensi pers Inggris pertamanya, dan bagian favoritnya dari hari media adalah saat kamera sudah tidak mengarah padanya. “Saya berusaha untuk tidak memikirkannya dan hanya menjadi diri saya sendiri. Bagi saya, menjadi diri sendiri adalah hal yang normal,” ujarnya.
Di ruang ganti, kehadiran mantan rekan setimnya di Barcelona, Mapi Leon, membuatnya merasa lebih percaya diri. Ia juga menegaskan bahwa julukan “La Reina” tidak membuatnya merasa istimewa. “Tidak, saya tidak punya mahkota! Itu hanya urusan media!” ujarnya cepat sambil tertawa. “Saya hanya ingin meninggalkan tim dalam posisi yang lebih baik daripada saat saya mulai. Itu akan membuat saya merasa sangat bahagia.”
Beradaptasi dengan Kehidupan Inggris
Beberapa pekan pertama Putellas di London City dipenuhi tantangan hidup yang dialami orang kebanyakan. Ia sedang mencari apartemen, belajar mengemudi di London, dan membiasakan diri dengan budaya baru. “Mencari apartemen di sini tidak murah. Di Barcelona juga tidak murah sih!” kelakarnya. “Saya juga harus mencari tahu tempat belanja dan hal-hal biasa yang dulu saya hafal di Barcelona. Sekarang semuanya baru, termasuk macetnya.”
Putellas juga mulai mencicipi kuliner khas Inggris, termasuk full English breakfast. Namun, ada satu bahan makanan yang tidak ia sukai: baked beans. “Saya sudah coba English breakfast, cukup berbeda dengan sarapan di Spanyol,” katanya. “Saya tidak suka kacangnya, tapi sosis dan telurnya tidak masalah. Bagi orang Spanyol, kacang biasanya dimakan saat makan siang atau malam, bukan sarapan.”
Teman-temannya di WSL menyambutnya dengan hangat, meski dengan candaan khas para pesepak bola. “Beberapa dari mereka bilang liga ini keras dan mereka akan menendang saya! Tapi tidak masalah, saya siap. Saya hanya bercanda,” ujarnya. “Mereka bilang nikmati saja liga ini karena pertandingannya luar biasa, dan bahkan laga tandang pun terasa spesial.” Rencana makan malam dengan mantan rekan setimnya di Barcelona, Keira Walsh, sempat tertunda, tetapi Putellas tetap antusias membangun kedekatan dengan pemain-pemain di liga barunya.
Apa Selanjutnya untuk Putellas?
Debut Putellas bersama London City Lionesses pada September mendatang diprediksi akan menyedot perhatian luas. Ia sendiri mengaku siap menikmati momen tersebut, karena inilah tantangan yang selama ini ia cari. Dengan kombinasi pengalaman, mentalitas juara, dan kegigihan untuk terus belajar, Putellas siap membuktikan bahwa dirinya tetap menjadi salah satu pemain terbaik dunia di panggung baru.
Perjalanan Alexia Putellas dari Barcelona ke London City bukan sekadar perpindahan klub biasa. Ini adalah bukti bahwa seorang bintang pun membutuhkan tantangan baru untuk terus berkembang. Kini, semua mata tertuju pada lapangan hijau: mampukah “La Reina” memimpin London City Lionesses menuju era kejayaan mereka?
