Krisis Kepelatihan di Balik Pengunduran Diri Steve Clarke
Keputusan mendadak Steve Clarke untuk mundur sebagai pelatih timnas Skotlandia meninggalkan Asosiasi Sepak Bola Skotlandia (SFA) dalam posisi yang sulit. Sebelumnya, SFA justru memberikan kontrak empat tahun kepada Clarke beberapa minggu sebelum Piala Dunia dimulai—sebuah langkah yang membingungkan banyak pihak. Kini, setelah kegagalan Skotlandia tampil memukau di Amerika Serikat, Clarke memilih pergi lebih awal, menyelamatkan dirinya dan SFA dari perpisahan yang panjang dan pahit.
Clarke layak dikenang sebagai pelatih yang mengakhiri penantian panjang Skotlandia untuk tampil di turnamen besar. Ia berhasil membawa tim ke tiga ajang bergengsi, meskipun dengan keterbatasan sumber daya pemain yang sangat nyata. Namun, kritik kerap datang terutama setelah performa dingin Skotlandia di Piala Dunia, yang sebagian merupakan tanggung jawab staf kepelatihan. Sayangnya, masa jabatannya berakhir di tengah polemik kekecewaan lain setelah turnamen tersebut.
Warisan Clarke: Prestasi di Tengah Keterbatasan
Jika Clarke sejak awal menegaskan bahwa Piala Dunia ini dan masa baktinya selama tujuh tahun sudah cukup, kepergiannya mungkin akan diterima lebih legawa. Namun, kebingungan muncul karena SFA tampak enggan mempertimbangkan hasil di AS saat mengikat Clarke untuk potensi masa jabatan lebih dari satu dekade. Pendekatan SFA terhadap segala hal yang berkaitan dengan Clarke dinilai tuli dan arogan oleh banyak pengamat.
Clarke sendiri tidak perlu lagi menghadapi tekanan dari bangsa yang haus sepak bola, ditambah kumpulan pemain yang semakin menua dan menipis. Ia juga tidak perlu uang; pelatih berusia 62 tahun itu pernah mengakui bahwa ia beralih dari asisten menjadi manajer saat sudah mandiri secara finansial. Meskipun kepergiannya menyakitkan karena cara Skotlandia tersingkir dengan takut-takut, satu pandangan pada raut wajahnya saat tugas media di Miami menggambarkan seseorang yang bisa menjalani hidup yang jauh lebih tenang.
Mengapa Kandidat Pelatih Timnas Skotlandia Lokal Sangat Terbatas
SFA kini harus membuktikan bahwa pengambilan keputusan mereka tidak sekadar malas dan picik. Posisi yang ditinggalkan Clarke bukan lagi pekerjaan untuk orang Skotlandia. Ini adalah peluang untuk membiarkan dunia di luar Glasgow menilai dan memperbaiki model sepak bola nasional yang sedang gagal parah. Pelatih timnas Skotlandia berikutnya harus dicari dari luar negeri, bukan karena ingin berani atau berbeda, melainkan karena ini langkah penting saat ini.
Hanya dua manajer Skotlandia—David Moyes dan Alex Neil—yang berkarier di dua liga teratas Inggris. Derek McInnes selalu digadang-gadang sebagai kandidat, demikian pula Moyes, tetapi komitmen klub membuat keduanya tidak tersedia. Selain McInnes, hanya ada lima manajer Skotlandia di kasta tertinggi Skotlandia. Satu-satunya kandidat kredibel di antara mereka adalah John McGlynn, yang melakukan pekerjaan luar biasa di Falkirk. Namun, ada kekhawatiran apakah keterampilan McGlynn bisa menular untuk memotivasi pemain sekelas Scott McTominay atau John McGinn—yang performanya di dua turnamen terakhir justru mengecewakan.
Steven Naismith, asisten Clarke, pasti akan disebut sebagai kandidat. Namun, pemain berusia 39 tahun itu harus ikut bertanggung jawab atas kegagalan Piala Dunia. Bahkan menurut standarnya yang sering mendapat pekerjaan tanpa kualifikasi jelas, akan luar biasa jika ia menjadi yang terbaik yang bisa didapat SFA. Paul Lambert, nama lain yang disebut, sudah tidak melatih sejak meninggalkan Ipswich pada 2021.
Pentingnya Pola Pikir Baru untuk Pelatih Timnas Skotlandia
Orang-orang di posisi kekuasaan dan di tempat lain dalam sepak bola Skotlandia bergidik mendengar nama Berti Vogts. Masa jabatan pelatih asal Jerman itu dianggap bencana dan tidak menentu. Tuduhan itu sebagian adil, meskipun ia mewarisi skuad yang menua dan menurun. Ange Postecoglou memenuhi hampir semua kotak untuk Skotlandia, tetapi tampaknya mustahil sebaliknya.
Sepak bola domestik Skotlandia belum pernah sekultur majemuk ini. Ketika Hearts perlu mengganti McInnes yang pindah ke Rangers, mereka beralih ke Belgia. Jens Berthel Askou melakukan pekerjaan luar biasa di Motherwell musim lalu setelah direkrut dari sistem kepelatihan Kopenhagen. Arogan jika percaya bahwa sistem sepak bola Skotlandia tidak bisa belajar dari orang lain. Inggris memiliki manajer Jerman. Brasil raksasa tidak masalah dengan pelatih Italia Carlo Ancelotti. Mata segar dapat membantu perkembangan keseluruhan yang penting bagi Skotlandia. Pola pikir picik dan mentalitas provinsial telah merugikan olahraga nasional negara ini selama beberapa dekade.
Langkah SFA ke Depan
Pengganti Clarke harus sudah ada sebelum Skotlandia memulai kampanye Nations League lain pada bulan September. Setelah itu—setidaknya di atas kertas—tugas yang relatif mudah untuk lolos ke Euro 2028. Jalur Skotlandia akan lebih mudah sebagai negara tuan rumah. Salah satu pencapaian utama Clarke adalah meningkatkan ekspektasi. Kini SFA memiliki kapasitas untuk meredam sebagian kebisingan; mereka bisa melakukannya dengan mengabaikan batas-batas negara dan mencari pelatih timnas Skotlandia dari mana pun di dunia.
Kesimpulannya, SFA harus keluar dari zona nyaman dan berani merekrut pelatih asing yang memiliki rekam jejak membangun tim dari keterbatasan. Mentalitas sempit sudah terbukti tidak membawa kemajuan. Langkah berani semacam ini menjadi satu-satunya cara agar Skotlandia kembali bersaing di panggung internasional.
