Kesehatan pelatih sepak bola sering luput menjadi bahan pembicaraan, padahal tekanan yang mereka tanggung jauh lebih besar daripada yang terlihat dari pinggir lapangan. Itulah pesan yang coba disampaikan Tony Pulis dalam kolomnya untuk BBC Sport, saat ia berbicara kepada jurnalis Chris Bevan. Menurutnya, menjadi pelatih adalah pekerjaan yang menyita seluruh hidup dan mengambil korban secara fisik maupun mental.
Peringatan itu terasa kembali relevan setelah Vincent Kompany mengalami masalah kesehatan belum lama ini. Bagi Pulis, kejadian tersebut bukan hal baru, melainkan pengingat bahwa profesi di kursi pelatih menyimpan risiko yang nyata. Pengalamannya sendiri selama puluhan tahun di dunia kepelatihan membuatnya sadar betul bahwa menjaga kondisi diri bukan kemewahan, melainkan keharusan.
Jejak Panjang Masalah Jantung di Kursi Pelatih
Pulis mengaku tidak pernah benar-benar melupakan bahaya yang mengintai profesinya. Ia menunjuk kematian tragis pelatih Skotlandia Jock Stein pada 1985, tak lama setelah laga kualifikasi Piala Dunia melawan Wales. Selain itu, sederet nama pelatih yang mengalami gangguan jantung dalam berbagai bentuk juga menjadi rujukan baginya, mulai dari Graeme Souness, Sir Alex Ferguson, Gerard Houllier, Joe Kinnear, hingga Harry Redknapp.
Daftar itu bukan sekadar catatan sejarah. Pulis juga mengingat sebuah eksperimen yang melibatkan Dave Bassett, ketika itu menangani Leicester, dan Sam Allardyce yang memimpin Bolton. Keduanya dipasangi monitor jantung saat tim mereka saling berhadapan, dan hasilnya membuat keduanya tercatat mencapai tingkat detak jantung yang kritis.
Yang ingin ditekankan Pulis, risiko tersebut tidak hanya muncul selama 90 menit pertandingan. Stres yang menyertai pekerjaan ini berlangsung terus-menerus, tanpa jeda yang jelas, sehingga setiap pelatih dituntut menemukan caranya sendiri untuk merawat diri. Menurutnya, kesadaran semacam inilah yang harus muncul sedini mungkin dalam karier seorang manajer.
Bournemouth 1992 dan Pola Hidup yang Keliru
Pulis menghabiskan sebagian besar hidup kerjaannya di sekitar sosok pelatih, baik sebagai pemain maupun asisten. Namun kesadaran penuh tentang beratnya beban baru datang ketika ia mendapat pekerjaan sebagai manajer pertama kalinya di Bournemouth pada 1992. Di titik itu ia memahami betapa menyita waktu dan betapa besarnya tekanan yang harus ditanggung.
Ia ingin menjadi orang yang mengambil semua keputusan sepak bola di klubnya. Artinya, Pulis mengerjakan hampir segalanya sendiri: memantau calon pemain, merekrut pemain yang diinginkannya, hingga mengatur staf di semua tingkatan mulai dari tim utama, tim cadangan, sampai tim muda, semuanya di dalam batas kemampuan keuangan klub. Ia juga memandang performa tim utama sebagai tanggung jawab utamanya, sehingga tidak pernah meninggalkan pekerjaan di lapangan latihan.
Pola kerja seperti itu sebenarnya umum di klub-klub Inggris saat itu, bukan hanya dilakukan Pulis. Persoalannya, tuntutannya tidak pernah berhenti, dan ia harus belajar mengurus dirinya sendiri agar bisa bertahan. Pada masa-masa awal itu, menurut pengakuannya, cara ia mengelola diri sendiri sangat buruk.
Semuanya dimulai dari pola makan. Ia kerap menyetir jauh di jalan tol untuk memantau pemain, lalu mencari warung fish and chips, atau sekadar bertahan dengan sepotong pie saat jeda pertandingan dan roti dari toko setempat. Karena masih muda, ia merasa tubuhnya sanggup menanggung semuanya, sehingga tidak pernah terpikir bahwa asupan makanannya buruk dan aktivitas fisiknya kurang.
Di sisi lain, tekanan agar tim menang pada akhirnya bermuara pada dirinya. Beban sebagai orang yang bertanggung jawab atas hasil dan performa setiap pekan menumpuk perlahan, dan Pulis baru benar-benar merasakannya ketika tim mulai kalah beberapa kali. Saat itulah semua kritik diarahkan kepadanya.
Titik Balik dan Rutinitas yang Menyelamatkan
Perubahan besar terjadi setelah Pulis berbincang dengan seorang atlet triatlon asal Australia, tak lama sebelum ia meninggalkan Bournemouth pada 1994. Nasihat yang diterimanya cukup lugas: pekerjaannya secara fisik menghambat kebugaran tubuhnya sendiri. Yang lebih mengkhawatirkan, tingkat stres yang menyertainya bisa memberi dampak besar pada hidupnya.
Percakapan itu membuatnya sadar bahwa ia telah melakukan banyak kompromi demi karier, dengan kesehatan sebagai taruhannya. Pulis lalu mengambil kesimpulan: pada pekerjaan berikutnya, ia akan membangun gaya hidup yang lebih terkendali dan menempatkan kebugaran diri di urutan pertama.
Keputusan itu diwujudkan lewat kebiasaan sederhana, yaitu berolahraga setiap pagi sebelum sarapan di klub yang ia tangani, sehingga sisa hari bisa dipakai sepenuhnya untuk bekerja. Ia mengakui ada hari-hari ketika tubuhnya kosong dan ia hanya berjalan atau melakukan peregangan, tetapi secara umum aturan itu ia pegang teguh. Pada 1999, ketika menangani Gillingham, ia memutuskan mengikuti London Marathon pertamanya, yang membuat fokusnya pada kesehatan fisik tetap terjaga sepanjang musim.
Maraton itu menjadi tantangan pertama dari sekian banyak aksi amal yang ia jalani bertahun-tahun kemudian. Pulis juga pernah bersepeda dari John O’Groats ke Land’s End, mendaki Gunung Kilimanjaro, serta mendayung dari Tower Bridge menuju Menara Eiffel. Baginya, seluruh aktivitas itu bukan hanya soal kebugaran, tetapi juga cara mengelola tekanan pekerjaan.
Dampak pada Tidur, Mental, dan Keluarga
Olahraga ternyata membantu Pulis mengendalikan stres, terutama dalam hal tidur. Rasa lelah sebelum berangkat tidur membuat jam istirahatnya jauh lebih berkualitas, sehingga ia tidak lagi terbangun tengah malam karena memikirkan masalah di tempat kerja. Efek ini penting, sebab gangguan tidur adalah salah satu jalur bagaimana tekanan pekerjaan merusak kesehatan pelatih.
Ia juga menjaga kesehatan mental dengan cara lain. Meski dunia internet berkembang pesat, Pulis tidak pernah membaca tulisan pers tentang dirinya maupun timnya, baik yang memuji maupun yang mengkritik. Ia memilih bekerja sekeras mungkin di setiap klub, dikelilingi staf yang bisa dipercaya dan diajak berdiskusi, sekaligus belajar mematikan pikiran soal pekerjaan ketika waktunya tiba.
Keluarga berperan besar dalam hal itu. Pulis pernah menulis bahwa ia sering pulang ke pesisir selatan pada Sabtu malam, merenungkan hasil pertandingan sambil mulai menyiapkan rencana untuk laga berikutnya. Namun hari Minggu selalu ia habiskan sepenuhnya bersama keluarga, entah menonton anaknya, Anthony, bermain sepak bola saat masih kecil, atau sekadar berkumpul dengan anak-anaknya. Hari itu menjadi katup pelepas yang penting dalam rutinitasnya.
Kepada para pelatih muda, Pulis memberikan nasihat yang sama dengan apa yang dulu ia jalani sendiri. Mereka harus menjaga semangat untuk merawat diri, karena justru di masa awal karier itulah kemampuan tersebut paling dibutuhkan. Dalam tekanan yang terus-menerus, mengabaikan kesehatan diri adalah pilihan yang berbahaya.
Dukungan yang Kini Jauh Lebih Baik
Pulis tidak menampik bahwa banyak pelatih tetap bersedia mengambil risiko itu meski tahu bahayanya, termasuk dirinya sendiri di masa lalu. Namun ia melihat ada pergeseran besar dalam cara klub memperlakukan kesehatan staf pelatih. Bertahun-tahun silam, kondisi manajer nyaris tidak menjadi perhatian klub, dan kebiasaan minum berlebihan serta makan makanan yang salah pada jam berapa pun dianggap bagian dari gaya hidup profesi.
Situasinya kini berbeda. Asosiasi Manajer Liga, League Managers’ Association, rutin menyelenggarakan pemeriksaan kesehatan melalui program bertajuk Fit To Manage. Selain itu, sebagian besar staf medis klub kini tidak hanya memastikan para pemain terawat dengan baik, tetapi juga memperhatikan kondisi jajaran pelatih.
Meski demikian, Pulis mengakui kehidupan seorang manajer tetap bisa terasa sepi. Beban kritik, tuntutan hasil, dan tekanan yang mengarah pada satu orang tidak sepenuhnya hilang. Yang berubah, menurutnya, adalah tersedianya bantuan yang kini berada pada tingkat yang sangat berbeda dibanding awal kariernya dulu.
Kesimpulan
Pengalaman Tony Pulis menunjukkan bahwa menjaga kesehatan pelatih sepak bola bukan soal disiplin pribadi semata, melainkan kebutuhan profesional yang menentukan daya tahan karier. Dari kasus-kasus jantung di kalangan manajer hingga eksperimen monitor detak jantung, risikonya nyata dan sudah lama diketahui. Karena itu, kebiasaan berolahraga rutin, mengatur pola makan, tidur cukup, menjaga jarak dari kritik media, dan meluangkan waktu untuk keluarga menjadi bekal yang tidak bisa ditawar.
Nasihat Pulis bagi generasi pelatih berikutnya sederhana namun tegas: rawat diri sendiri sejak awal, karena tekanan terberat biasanya baru datang belakangan. Dengan dukungan program kesehatan yang kini jauh lebih tersedia, tidak ada alasan untuk menunda hal itu sampai kesehatan terlanjur menjadi taruhannya.
