Kemenangan Hibs atas Hearts di semifinal Piala Liga Skotlandia menjadi momen yang dinanti lama oleh Hibernian. Bermain di Hampden, Hibs akhirnya mengakhiri rentetan hasil buruk melawan rival sekota mereka dan memastikan tempat di final melawan Rangers. Bagi pelatih kepala Marink Reedijk, hasil ini sekaligus menjadi kemenangan pertamanya sejak menangani tim pada laga kelima.
Arti hasil ini bukan cuma tiket final. Hibs datang ke laga dengan tekanan besar karena mereka baru saja terpuruk ke dasar klasemen Scottish Premiership setelah Kilmarnock mendapat satu poin melawan St Johnstone yang bermain dengan 10 orang. Dukungan sekitar 19.000 suporter Hibs di Hampden pun terasa seperti imbalan atas kesabaran panjang, terutama karena empat kunjungan sebelumnya ke stadion nasional itu melawan Hearts selalu berakhir pahit.
Jalannya Laga: Hibs Bangkit Setelah Tertinggal
Hearts membuka keunggulan lebih cepat dari yang dibayangkan. Sundulan sederhana namun kuat dari Claudio Braga datang sebelum banyak penonton benar-benar menempati kursi, membuat suasana di sisi Hibs langsung mencekam. Joe Newell mengakui bahwa saat itu pikirannya dipenuhi kekhawatiran karena rencana permainan yang disusun sejak awal seakan buyar.
Namun Hibs tidak runtuh. Newell, yang kemudian dinobatkan sebagai pemain terbaik pertandingan, justru mengambil peran sebagai pengatur tempo dan membantu tim keluar dari tekanan. Perlahan Hibs menemukan ritme dan mengembalikan pertandingan ke kendali mereka, sebelum akhirnya keluar sebagai pemenang.
Momen penentu datang di menit ke-93. Tendangan bebas jauh Jordi Altena berhasil diamankan kiper Raphael Sallinger, dan gemuruh dari sisi pendukung Hibs mengguncang Hampden. Bagi suporter yang sudah lama menanti, bunyi itu menjadi pelepasan emosi setelah bertahun-tahun kekecewaan di laga besar.
Latar Belakang: Rekor Pahit di Hampden dan Awal Musim yang Berat
Kemenangan ini tidak bisa dilepaskan dari sejarah pertemuan kedua tim di Hampden. Sejak 2006, Hibs empat kali mendatangi stadion nasional itu untuk menghadapi Hearts dan selalu pulang dengan kekecewaan. Salah satu luka paling dalam adalah final Piala Skotlandia 14 tahun lalu, ketika Hearts mencetak lima gol ke gawang Hibs, sehingga kemenangan kali ini terasa seperti pembalasan sekaligus pembebasan.
Konteks musim Hibs juga jauh dari ideal. Mereka gagal lolos ke Eropa, belum mampu menang di kandang, dan berganti pelatih di tengah jalan. Di liga, posisi mereka sempat terpuruk ke dasar klasemen, tempat yang jelas tidak sepadan dengan kualitas skuad, dan Reedijk pun harus menunggu hingga laga kelima untuk meraih kemenangan pertamanya.
Meski begitu, kehadiran 19.000 pendukung Hibs di Hampden menunjukkan bahwa tim ini masih dipercaya. Di sisi lain, sekitar 23.000 suporter Hearts hadir dan sudah bersiap meninggalkan stadion lebih cepat ketika laga memasuki menit akhir. Kontras suasana itu menegaskan betapa besar makna hasil bagi kedua kubu.
Arti Kemenangan Hibs atas Hearts bagi Musim Mereka
Bagi Hibs, kemenangan atas Hearts bukan hanya soal gengsi. Hasil ini mengantar mereka ke final melawan Rangers dan memberi suntikan kepercayaan diri yang selama ini sulit didapat. Joe Newell menyebut momen tersebut sangat besar, bahkan mengakui euforia kemenangan sempat membuatnya nyaris lupa masih ada final yang menanti.
Namun catatan liga menuntut perbaikan segera. Hibs hanya meraih dua kemenangan dalam 11 pertandingan, sehingga kemenangan di Hampden belum otomatis menyelesaikan masalah. Mereka masih harus bertandang ke Aberdeen yang sedang berjuang, menjamu kedua klub Dundee, lalu bertandang ke Motherwell dan Kilmarnock. Rangkaian itu menjadi ujian apakah performa melawan Hearts bisa menjadi titik balik.
Newell menegaskan timnya harus memanfaatkan hasil ini untuk bangkit. Ia menyebut para pemain perlu membawa kepercayaan diri dari kemenangan tersebut ke pertandingan berikutnya. Tanpa lanjutan yang konsisten, momen di Hampden hanya akan menjadi kenangan indah tanpa dampak nyata pada klasemen.
Menuju Final: Peluang Trofi Pertama Sejak 2016
Final melawan Rangers dijadwalkan pada 13 Desember, sekitar enam minggu setelah laga semifinal. Dalam rentang itu, Hibs masih harus memainkan sejumlah pertandingan liga, dengan laga terakhir melawan tim asuhan Derek McInnes di Easter Road sebagai semacam uji coba sebelum final. Jadwal tersebut membuat Hibs harus menjaga keseimbangan antara mengejar poin dan mempersiapkan diri untuk partai puncak.
Bagi klub, final ini adalah kesempatan meraih trofi pertama sejak menang atas Rangers di final Piala Skotlandia 2016. Sejarah itu memberi harapan, tetapi juga menambah tekanan karena Hibs belum konsisten di liga. Reedijk dituntut membuat keputusan rasional agar euforia kemenangan tidak mengganggu persiapan.
Di luar lapangan, suasana emosional terlihat jelas. Lagu Sunshine on Leith bergema dari sisi pendukung Hibs, dan Reedijk yang dijuluki “ice king” mengaku menikmati atmosfer tersebut. Meski begitu, ia sadar harus segera menarik diri dari suasana meriah itu untuk fokus pada pekerjaan berikutnya. Dalam video resmi klub, ia bahkan sempat berkelakar ingin menikmati musik dan bir setelah kemenangan bersejarah itu.
Penutup
Kemenangan Hibs atas Hearts di semifinal Piala Liga Skotlandia akan dikenang sebagai salah satu malam bersejarah klub. Hasil ini mengakhiri rekor buruk di Hampden, membuka jalan ke final, dan memberi harapan baru bagi tim yang sedang berjuang di liga. Namun nilai sesungguhnya baru akan terlihat dari kemampuan Hibs menjaga momentum di pertandingan-pertandingan berikutnya.
Jika mereka mampu bangkit di Scottish Premiership dan kemudian mengulangi performa serupa melawan Rangers di final, musim ini bisa berubah arah. Sebaliknya, jika euforia hanya berhenti sebagai kemenangan atas rival, tekanan di Leith akan kembali datang. Kini bola ada di kaki Reedijk dan para pemain untuk membuktikan bahwa momen di Hampden adalah awal, bukan puncak.
