Stabilitas Manchester United, Bukan Ganti Manajer Lagi

Author:

Stabilitas Manchester United menjadi kebutuhan saat ini, bukan pergantian manajer lagi. Pandangan itu disampaikan Tony Pulis dalam kolomnya untuk BBC Sport, yang menilai Michael Carrick layak diberi waktu dan dukungan untuk membenahi masalah klub. Menurut Pulis, tekanan yang kini menghadang Carrick tidak bisa dilepaskan dari kondisi skuad dan kebijakan rekrutmen yang sudah berlangsung bertahun-tahun.

Carrick mengambil alih Manchester United sebagai manajer interim pada Januari, ketika klub sedang terpuruk dan perlahan kehilangan daya saing. Ia sempat memberi dampak positif, termasuk membawa United finis ketiga dan masuk zona Liga Champions, serta menenangkan situasi di balik layar. Namun, setelah performa tim kembali menurun, sorotan terhadap Carrick meningkat, meski Pulis menegaskan bahwa akar masalah United jauh lebih dalam daripada sosok manajer.

Tekanan pada Carrick dan Skuad Warisan yang Rumit

Pulis menilai Carrick mewarisi situasi yang tidak sederhana. Melatih klub besar yang sedang tampil di bawah ekspektasi selalu menantang, dan pengalaman Pulis selama karier kepelatihan membuatnya memahami beratnya tugas tersebut. Menurutnya, semangat baru sering memberi efek positif sementara, dan itulah yang sempat dialami United di bawah Carrick.

Namun, lonjakan performa biasanya diikuti kembalinya keadaan ke titik normal. Pemain yang sempat menaikkan level bisa kembali ke standar lama, sehingga hasil tim ikut melandai. Kondisi itulah yang tampak terjadi di United sekarang, tetapi Pulis menegaskan bahwa masalah klub tidak semata-mata ditentukan oleh siapa manajer mereka.

Untuk menilai Carrick secara adil, Pulis meminta publik melihat semua yang ia warisi. United telah menginvestasikan dana besar untuk banyak pemain dalam lima tahun terakhir. Sejak 2021, klub memiliki tiga manajer permanen lain, yaitu Ole Gunnar Solskjaer, Erik ten Hag, dan Ruben Amorim, yang menghabiskan lebih dari £1 miliar untuk 27 rekrutan utama, dan banyak di antaranya masih berada di klub. Tahun ini, di bawah Carrick, United kembali menginvestasikan £150 juta, tetapi sebagian besar dana itu dipakai untuk tiga gelandang; Pulis pun masih serius mempertanyakan berapa banyak pemain yang benar-benar akan dipilih Carrick dari kelompok yang kini ia miliki.

Beban Manajer: Nilai Aset dan Kejujuran yang Terbatas

Pulis membagikan pengalamannya menangani klub Premier League untuk menjelaskan dilema Carrick. Menurutnya, pemilik klub biasanya ingin mengetahui pandangan manajer tentang pemain yang baru diwarisi, bukan hanya soal kemampuan di lapangan tetapi juga nilai mereka sebagai aset dalam catatan anggaran dan di pasar transfer. Ia sendiri sering ditanya apakah bisa membuat pemain menjadi lebih baik, sekaligus apakah bisa memulihkan uang dari pemain yang tidak ia nilai atau inginkan demi membantu posisi keuangan klub.

Pulis memahami mengapa permintaan itu muncul, karena posisi manajer memang harus sepenuhnya membantu klub dan mengupayakan performa maksimal di dalam maupun di luar lapangan. Meski begitu, menjalankan dua hal itu sekaligus tidak mudah. Saat mengambil alih sekelompok pemain yang telah diinvestasikan klub, seorang manajer tidak selalu bisa sepenuhnya jujur tentang kualitas tertentu; klub punya kepentingan menjaga nilai pemain, dan keharusan menampilkan citra positif untuk melindungi nilai itu kadang sangat sulit dilakukan. Mengkritik pemain di media juga tidak bisa dilakukan karena loyalitas kepada klub, sehingga manajer hanya bisa berharap penggemar yang menonton pertandingan setiap pekan memahami dilema tersebut.

Baru-baru ini, bek Lisandro Martinez mempertanyakan strategi rekrutmen klub secara publik, dan Pulis yakin banyak pendukung setuju atau setidaknya ingin mendapat kejelasan soal itu. Namun, dari sudut pandang manajer, pernyataan keras Martinez juga menimbulkan pertanyaan serius tentang pemain tersebut. Pulis pun bertanya-tanya apakah Martinez menganggap dirinya telah sukses secara pribadi; jika ya, berapa banyak pemain lain di skuad utama United yang juga merasa telah sukses, bukan menjadi bagian dari masalah? Mengelola pemain dengan penilaian berlebihan tentang diri sendiri memang menjadi tantangan tersendiri dan perlu segera ditangani.

Kapten, Sikap Tim, dan Kekalahan di Como

Pulis juga menyoroti persoalan yang lebih besar, yakni cara Carrick menangani komentar kaptennya, Bruno Fernandes, setelah United dipermalukan Como di Liga Champions pada Rabu. Menurut Pulis, melihat Carrick dalam konferensi pers pasc pertandingan di Italia benar-benar sulit. Ia pernah menangani pertandingan yang berakhir dengan kekalahan meski timnya benar-benar berusaha, tetapi menyaksikan seorang manajer harus tampil di hadapan timnya setelah penampilan yang mempertanyakan sikap bersaing, bahkan kemauan berlari dan mencoba, terasa sangat menyakitkan.

Mendengar cara kapten berbicara, setelah contoh dari sang kapten sendiri justru menggambarkan keengganan tim melakukan hal-hal mendasar, kembali menunjukkan betapa sulitnya situasi di klub saat ini. Taktik Carrick sudah ada untuk dijalankan, tetapi untuk melakukannya saat tandang ke Como pada malam yang sangat basah, berangin, dan menyedihkan, menurut Pulis Anda membutuhkan lelaki, bukan anak-anak. Fernandes tampak menikmati hubungannya dengan Carrick musim lalu ketika United melesat naik di klasemen, tetapi sekarang level mereka mendatar, baik sebagai tim maupun individu.

Kapten sejati, kata Pulis, akan muncul ke depan ketika tim dan klub paling membutuhkan mereka. Ia selalu menilai seorang pemimpin dari orang-orang yang mengikuti pemimpin tersebut saat keadaan sedang tidak berjalan baik. Sayangnya, banyak anggota tim United tampaknya mengikuti contoh kapten mereka, tetapi dengan cara yang sama sekali tidak profesional.

Pelajaran dari Arteta untuk Stabilitas Manchester United

Pulis mengaku tidak mengenal Carrick secara dekat, tetapi menilainya sebagai pemain yang sangat jujur dan pantas mendapat posisi terhormat di klub yang kini ia tangani. Ia lebih mengenal staf pendukung Carrick, yaitu Steve Holland, Jonny Evans, dan Jonathan Woodgate, yang dinilainya sebagai asisten cakap dengan pengetahuan dan pengalaman di level tertinggi. Setiap kali United tidak menang, seruan untuk melakukan perubahan akan muncul, dan manajer hampir selalu berada di urutan teratas daftar yang disorot.

Menurut Pulis, United sebaiknya mengikuti cetak biru salah satu rival besar mereka dan menyadari bahwa terus-menerus mengganti arah tidak menyelesaikan masalah. Contohnya Mikel Arteta, yang tiba di Arsenal pada Desember 2019 dan memberi dampak instan seperti Carrick, bukan dalam hal posisi liga tetapi lewat kemenangan Piala FA 2020. Selama beberapa tahun setelah kesuksesan awal itu, Arteta mendapat kritik dari penggemar dan berbagai media karena peningkatan hasil tidak bertahan; namun, klub tidak goyah dan memberinya kesempatan membangun identitas yang jelas di seluruh klub serta waktu agar identitas itu terbentuk. Sekarang, lihatlah posisi Arsenal.

United, kata Pulis, harus menerima kenyataan pahit dan memahami konsekuensi dari kegagalan rekrutmen besar yang berulang kali mereka lakukan, lalu melakukan reset untuk menemukan arah dan identitas lagi. Tantangan terbesarnya adalah waktu, karena semua orang menuntut kesuksesan instan. Pulis percaya bahwa ketika semua pemain fit, Carrick memiliki kelompok yang masih bisa bersaing untuk posisi Liga Champions, tetapi kelompok itu tidak cukup baik untuk meraih hadiah yang benar-benar diinginkan klub.

Untuk kembali menjadi penantang, United membutuhkan lebih dari sekadar bakat. Kemampuan, kecepatan, dan karakter diperlukan di hampir semua posisi outfield, dan menurut Pulis, mencapai semua itu tidak akan terjadi dengan cepat. Mereka jelas tidak perlu mengganti manajer lagi untuk sampai ke sana; Pulis sejak awal mendukung Carrick mendapatkan pekerjaan itu setelah Darren Fletcher diabaikan, dan menurutnya Carrick harus didukung lagi untuk melakukan apa yang dibutuhkan sekarang. Saat ini United tidak mampu memenangi gelar liga, siapa pun yang menangani, tetapi stabilitas adalah jalan ke depan untuk memperbaikinya.

Dari paparan Pulis, persoalan Manchester United bukan sekadar sosok manajer di bangku cadangan. Ada warisan skuad yang mahal, tekanan menjaga nilai aset, kejujuran yang terbatas, serta masalah sikap dan kepemimpinan yang harus dibenahi bersamaan. Stabilitas memang bukan obat instan, tetapi tanpa kesabaran dan dukungan yang konsisten, United berisiko mengulang siklus perubahan yang sama.

Carrick, menurut Pulis, perlu diberi waktu untuk membangun identitas dan memperbaiki fondasi tim. Jika klub terus bereaksi terhadap setiap hasil buruk dengan mengganti manajer, masalah struktural yang lebih dalam tidak akan terselesaikan. Stabilitas Manchester United adalah langkah realistis untuk keluar dari lingkaran tersebut, meski hasilnya baru akan terlihat dalam jangka panjang. Pandangan tersebut disampaikan Pulis kepada Chris Bevan dari BBC Sport.