Newcastle United sedang berada di pusaran tekanan setelah awal musim yang jauh dari harapan di bawah pelatih baru Matthias Jaissle. Kekalahan kandang dari Aston Villa membuat kemarahan suporter terdengar nyata di St James’ Park, sementara Newcastle United harus segera mencari jalan keluar sebelum situasi makin rumit. Dalam empat pertandingan terakhir, mereka menelan tiga kekalahan, termasuk dua kekalahan tandang 4-1 beruntun dari Leeds United pada 14 September dan Coventry City pada 12 Oktober.
Tekanan ini bukan tanpa sebab karena Newcastle United tengah menjalani masa transisi besar setelah era Eddie Howe berakhir. Klub kehilangan sejumlah pemain inti, mendatangkan banyak pemain muda dengan total belanja sekitar £250 juta, dan masih mencari identitas permainan di bawah Jaissle. Laga melawan Crystal Palace di Selhurst Park pada Minggu (14.00 BST) pun menjadi ujian awal yang penting bagi arah proyek baru ini.
Awal Musim Newcastle United yang Tidak Stabil
Kekalahan dari Aston Villa di St James’ Park disambut suara boo dari tribun saat peluit akhir berbunyi, tanda bahwa kesabaran suporter mulai menipis. Hasil itu memperpanjang catatan buruk Newcastle United menjadi tiga kekalahan dalam empat pertandingan terakhir. Dua di antaranya terjadi di kandang lawan dengan skor identik 4-1, yakni saat melawan Leeds United pada 14 September dan Coventry City pada 12 Oktober.
Dengan rapor tersebut, Newcastle United baru mengumpulkan delapan poin dari tujuh laga Premier League. Dua kemenangan mereka datang saat bertandang ke Tottenham dan menjamu tim promosi Hull City, sehingga konsistensi masih menjadi masalah utama. Menjelang lawatan ke Selhurst Park, Charlotte Robson dari podcast True Faith Newcastle United menilai tekanan akan semakin besar jika tim tidak mendapatkan hasil di Palace.
Di tengah situasi yang tidak nyaman, akun resmi klub sempat mengunggah kenangan 30 tahun sejak tim asuhan Kevin Keegan pada 1996-1997 menghancurkan Manchester United 5-0 di St James’ Park dan duduk di puncak Premier League. Unggahan itu menjangkau 2,8 juta pengikut di X dan menjadi pengingat akan standar tinggi yang melekat pada klub. Namun, kontras antara nostalgia dan performa sekarang justru mempertegas betapa jauh Newcastle United dari versi terbaiknya.
Transisi Besar Setelah Era Eddie Howe
Newcastle United mengambil keputusan besar ketika Eddie Howe mundur pada akhir Juli setelah lima tahun menangani klub. Howe meninggalkan warisan penting berupa trofi domestik mayor pertama klub sejak 1955, sehingga penggantinya memang menghadapi ekspektasi tinggi. Jaissle didatangkan dari Al-Ahli dengan kompensasi £9,5 juta setelah membawa klub Saudi itu meraih dua gelar Asian Champions League berturut-turut, dan sebelumnya ia juga punya rekam jejak kuat di Red Bull Salzburg.
Meski begitu, Jaissle yang berusia 38 tahun masih belum terbukti di Premier League. Memasuki 79 hari masa kepemimpinannya, ia masih berusaha menempelkan identitas sendiri pada tim yang lama dibangun Howe. Newcastle United juga harus beradaptasi dengan kehilangan pemain-pemain penting seperti Alexander Isak ke Liverpool dalam rekor Inggris £125 juta, Anthony Gordon ke Barcelona lebih dari £69 juta, Sandro Tonali ke Tottenham hingga £100 juta, Bruno Guimaraes ke Arsenal £75 juta, serta Kieran Trippier yang berusia 36 tahun.
Alan Shearer sudah memperingatkan tiga bulan lalu bahwa Newcastle United perlu bersiap menghadapi musim yang sulit. Ia menilai klub tidak bisa terus menjual pemain terbaik dan tetap berharap bersaing di papan atas. Setelah peringatan itu, Guimaraes menyusul hengkang ke Arsenal, dan kini prediksi Shearer tentang awal musim yang berat tampak mulai terbukti.
Di bursa transfer, Newcastle United menghabiskan sekitar £250 juta untuk pemain-pemain muda, banyak di antaranya berusia 21 tahun atau kurang. Bazoumana Toure dan Aladji Bamba belum pernah menjadi starter di Premier League meski tersedia, sementara Sean Steur yang berusia 18 tahun tampil mengesankan saat melawan Hull pada September tetapi belum mendapat menit bermain lagi. Rory Smith dari The Observer menilai profil rekrutan musim panas memang berorientasi masa depan, tetapi belum tentu langsung memberi hasil instan. Smith juga menyoroti bahwa Newcastle United tidak mendatangkan banyak pemain mapan Premier League.
Masalah di Lini Belakang dan Depan Newcastle United
Persoalan Newcastle United tidak hanya soal hasil, tetapi juga fondasi permainan. Mereka belum mencatat clean sheet di kandang dalam 16 pertandingan terakhir di semua kompetisi, yang merupakan rentetan terpanjang dalam sejarah klub. Di Premier League, mereka kebobolan rata-rata dua gol per laga, dan hanya Crystal Palace dengan 17 gol serta Ipswich dengan 15 gol yang kemasukan lebih banyak daripada 14 gol Newcastle United.
Di sisi lain, produktivitas serangan juga menjadi sorotan. Melawan Aston Villa, Newcastle United hanya mencatat satu tembakan tepat sasaran, catatan paling sedikit dalam laga kandang Premier League sejak Agustus 2024. Tembakan itu bahkan datang dari bek Sven Botman, sementara Jaissle memakai bek tengah Dan Burn sebagai pemain pengganti untuk mengisi posisi depan.
Chris Sutton menilai Newcastle United tampil “kacau” di bawah Jaissle karena kreativitas di sepertiga akhir kurang dan pertahanan rentan. Ia juga menyebut para pendukung berhak merasa cemas setelah tim tidak terlihat berbahaya saat melawan Villa. Kekhawatiran itu masuk akal karena Newcastle United masih belum menemukan pengganti sepadan untuk Callum Wilson, yang pergi pada musim panas yang sama dengan Isak setelah mencetak 47 gol dalam 113 penampilan Premier League.
Yoane Wissa secara teknis didatangkan sebagai pengganti Wilson, sedangkan Nick Woltemade diproyeksikan sebagai pengganti Isak. Woltemade bergabung dengan kesepakatan rekor klub hingga £69 juta pada Agustus 2025, tetapi kini dipinjamkan ke Juventus, sementara Wissa masih kesulitan menjaga konsistensi setelah pulih dari cedera. Kondisi ini membuat lini depan Newcastle United terasa belum utuh dan memperbesar pertanyaan tentang arah proyek olahraga klub.
Tekanan pada Jaissle dan Newcastle United
Tekanan terhadap Jaissle tidak hanya datang dari hasil, tetapi juga dari cara tim bermain. Pendukung mempertanyakan minimnya identitas permainan Newcastle United di bawahnya, sekaligus mempertanyakan mengapa klub masih kesulitan menggantikan Isak hampir 14 bulan setelah sang striker pindah ke Liverpool. John Anderson, mantan bek Newcastle United, menilai satu hasil baik bisa mengubah banyak hal, tetapi ia melihat Jaissle untuk sementara ini tampak sangat kaku pada pendekatannya.
Sutton menyebut Newcastle United tampil “kacau” dan menilai kreativitas di sepertiga akhir belum cukup. Ia juga menyoroti kerentanan di lini belakang yang membuat tim mudah ditekan. Menurutnya, para penggemar punya alasan kuat untuk khawatir karena melawan Villa saja Newcastle United tidak terlihat seperti akan mencetak gol.
Charlotte Robson menilai kesabaran tetap dibutuhkan setelah musim panas yang penuh gejolak. Namun, ia juga mengakui bahwa pertanyaan-pertanyaan baru kini muncul, terutama karena Newcastle United belum tampil seperti tim agresif dan menyerang yang dijanjikan pada awal musim. Di dalam klub, CEO David Hopkinson dan direktur olahraga Ross Wilson disebut berusaha menjaga suasana tetap tenang, sehingga belum ada tanda panik secara internal.
Setelah laga melawan Crystal Palace, Newcastle United akan menghadapi Everton di babak 16 besar Carabao Cup pada Kamis berikutnya. Mereka lalu menjamu Everton di Premier League pada 2 November dan bertandang ke Fulham lima hari kemudian sebelum jeda internasional. Jaissle tentu tidak ingin memasuki jeda itu tanpa kemenangan dalam enam pertandingan liga dan piala.
Konteks Lebih Luas: Proyek Baru yang Belum Matang
Situasi Newcastle United mencerminkan risiko dari proyek yang sedang dibangun ulang setelah era panjang Howe. Klub telah menjual beberapa pemain terbaik sekaligus mengubah profil skuad dengan pembelian pemain muda, sehingga wajar jika performa belum stabil. Shearer sendiri menegaskan bahwa Newcastle United tidak bisa terus melepas pemain bintang dan berharap tetap bersaing di papan atas.
Rory Smith menyebut bahwa jika ada yang mengatakan pada akhir musim lalu bahwa Newcastle United akan kehilangan Gordon, Guimaraes, Tonali, dan Howe, maka delapan poin dari tujuh laga mungkin sudah bisa diperkirakan. Ia melihat rekrutan musim panas sebagai investasi yang bisa berbuah nanti karena pemainnya sangat muda dan relatif minim pengalaman. Namun, Smith juga mencatat bahwa Newcastle United tidak mendatangkan banyak pemain mapan Premier League, sehingga proses adaptasi memang berpotensi berjalan lambat.
Bagi Newcastle United, masalahnya bukan sekadar klasemen atau hasil buruk, tetapi bagaimana membangun kembali kepercayaan pemain, staf, dan pendukung di tengah transisi besar. Satu kemenangan memang bisa mengubah suasana, tetapi diperlukan pola permainan yang lebih jelas agar perubahan itu bertahan. Laga melawan Crystal Palace menjadi titik awal untuk melihat apakah Jaissle mampu menjawab tekanan dengan solusi nyata.
Secara keseluruhan, Newcastle United sedang menghadapi awal musim yang sulit karena kombinasi hasil buruk, kehilangan pemain inti, dan proses adaptasi terhadap pelatih baru. Masalah di lini belakang dan depan membuat tim belum menemukan keseimbangan, sementara ekspektasi di sekitar klub tetap tinggi. Fans berhak menuntut perbaikan, tetapi klub juga tampaknya masih memberi ruang bagi Jaissle untuk membenahi proyeknya.
Laga melawan Crystal Palace akan menjadi indikator penting, bukan hanya soal tiga poin, tetapi juga soal arah dan keyakinan. Jika Newcastle United mampu menampilkan permainan lebih agresif dan efektif, tekanan bisa sedikit mereda sebelum rangkaian laga berikutnya. Sebaliknya, hasil buruk akan membuat pertanyaan tentang proyek baru ini semakin keras.
