Sir Alex Ferguson Cerita Perdarahan Otak dan Buku Barunya

Author:

Sir Alex Ferguson mengaku dirinya dilanda rasa takut ketika kembali ke Old Trafford untuk pertama kalinya seusai mengalami perdarahan otak pada Mei 2018. Empat bulan setelah menjalani operasi darurat, pria yang identik dengan julukan hairdryer treatment itu kembali duduk di stadion untuk menyaksikan Manchester United melawan Wolves di ajang Premier League. Ia mengira dirinya tidak akan nyaman berada di sana, tetapi kenyataannya justru sebaliknya.

Ferguson menuturkan kisah itu dalam wawancara bersama BBC Breakfast, beberapa waktu sebelum ia menerbitkan buku baru berjudul Games of My Life. Mantan manajer yang membawa 38 trofi selama 26 tahun menangani United tersebut kini berusia mendekati 85 tahun, dan ia bersyukur masih bisa berbicara tentang pertandingan-pertandingan yang membentuk perjalanan hidupnya. Ceritanya bukan sekadar nostalgia sepak bola, melainkan juga rekaman bagaimana seseorang bangkit dari titik terendah kesehatannya.

Kembali ke Old Trafford dengan Rasa Takut

Ferguson mengaku sempat ragu soal sambutan yang akan ia terima dari para pendukung United. Dalam wawancaranya, ia menyatakan bahwa dirinya berharap bisa berkata sudah merasa nyaman, tetapi kenyataannya tidak demikian. Keraguan itu ternyata tidak berdasar sama sekali, karena ia dan istrinya, Cathy, mendapat tepuk tangan berdiri dari penonton ketika mengambil tempat di kursi direksi sebelum laga dimulai.

Momen tersebut menjadi salah satu kenangan paling mengharukan bagi Ferguson. Ia menceritakan bahwa sang istri hampir menangis saat itu, dan begitu duduk, Cathy menyebut sambutan tersebut luar biasa. Bagi seorang pria yang bertahun-tahun membuat mimpi para penggemar United di seluruh dunia menjadi kenyataan, pengalaman berada di posisi sebaliknya—menjadi pihak yang membutuhkan dukungan—jelas memberi kesan mendalam.

Perlu dicatat, saat perdarahan otak menyerangnya, Ferguson sudah lima tahun pensiun dari dunia kepelatihan. Ia meninggalkan kursi manajer United pada 2013 setelah membangun dinasti yang mendominasi sepak bola Inggris. Kini, dengan kondisi yang ia gambarkan cukup baik meski masih dihantui cedera-cedera kecil, ia kembali muncul ke publik justru untuk membagikan kisah hidupnya secara lebih personal.

Kehilangan Suara dan Perjuangan untuk Bicara Lagi

Bagian paling mencekam dari cerita Ferguson justru terjadi tak lama setelah operasi otak. Ia mengaku kehilangan suaranya dan sama sekali tidak bisa berbicara, sebuah pengalaman yang ia sebut sebagai momen yang sangat menakutkan. Kondisi itu membuatnya terpuruk, terutama ketika cucu-cucunya datang menjenguk sementara ia tetap tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.

Proses pemulihan kemudian berjalan lewat terapi yang mungkin terdengar sederhana, tetapi sangat berarti. Seorang terapis mulai melatihnya dengan meminta Ferguson menuliskan nama-nama burung, nama hewan, dan nama sungai. Latihan bertahap semacam itu perlahan mengembalikan kemampuan bicaranya.

Kesembuhan ini menjadi fondasi bagi proyek buku barunya. Menurut cerita Ferguson, ia bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk membicarakan laga-laga yang membentuk dirinya. Tanpa pemulihan suara itu, kisah-kisah dari Games of My Life kemungkinan besar tidak akan pernah bisa ia sampaikan sendiri kepada publik.

Games of My Life: 21 Laga yang Membentuk Karier Ferguson

Buku Games of My Life memuat cerita tentang 21 pertandingan yang dianggap paling menentukan dalam karier Ferguson, baik sebagai pemain maupun sebagai manajer. Rentang waktunya sangat panjang, mulai dari final piala pertamanya bersama Govan High School di Glasgow pada 1955 saat ia berusia 13 tahun, hingga masa pensiunnya sebagai manajer pada 2013. Buku itu juga menyajikan pandangan baru atas perjalanannya dari lingkungan kelas pekerja di Glasgow sampai mendominasi sepak bola Inggris dan Eropa bersama United.

Ferguson menyebut final piala sekolah itu sebagai titik awal segalanya. Ia bahkan masih menyimpan medali yang ia terima 71 tahun silam, dan mengenang bagaimana ia kemudian memperkuat Glasgow Schools, Scotland Schools, serta tim muda Skotlandia. Baginya, semua pencapaian besar berangkat dari satu titik kecil yang kemudian ia kenang dengan penuh kepuasan.

Masa kecil di Govan ia gambarkan sebagai proses yang membentuk dirinya. Rasa percaya diri tumbuh dari ibunya, Elizabeth, sementara dorongan untuk sukses datang dari ayahnya, Alexander, yang bekerja di galangan kapal Govan di tepi Sungai Clyde. Ferguson mengenang ayahnya sebagai sosok yang sangat bangga pada dirinya dan saudaranya, tetapi sekaligus keras dalam menuntut standar tinggi.

Perbedaan peran kedua orang tuanya itu cukup jelas ia ingat. Ibunya selalu menyampaikan pujian sederhana setiap kali Ferguson mencetak gol atau hat-trick, sedangkan ayahnya justru memberikan kritik yang membangun, berapa pun gol yang telah ia cetak. Kombinasi itulah yang menurut Ferguson membentuk mentalitasnya sebagai pesepak bola dan kemudian sebagai manajer.

Hampir Pindah ke Kanada dan Hat-trick yang Mengubah Hidup

Jalan Ferguson menuju puncak tidak pernah mulus. Ia memulai debut sebagai striker berusia 16 tahun untuk Queen’s Park, lalu berlabuh di St Johnstone, tempat ia melewati periode yang sangat menjemukan. Ia jarang menembus tim utama dan lebih sering bermain bersama tim cadangan, sampai-sampai sempat berpikir untuk berhenti dari sepak bola dan memulai hidup baru di Kanada.

Ferguson bahkan sudah mengisi semua formulir yang diperlukan dan menelepon bibinya di Kanada, karena saat itu dibutuhkan seorang sponsor untuk bisa pindah. Yang menarik, ia tidak memberi tahu kedua orang tuanya soal rencana tersebut. Keputusan besar itu nyaris diambil di tengah rasa frustrasinya karena tidak kunjung mendapat kesempatan bermain.

Nasib kemudian berubah dalam sekejap. Keesokan harinya, St Johnstone yang kehilangan banyak pemain akibat wabah flu datang ke Ibrox untuk menghadapi Rangers, dan Ferguson yang berusia 21 tahun dipromosikan ke starting XI. Ia mencetak hat-trick dalam laga itu, dan penampilan pada 1963 tersebut menghidupkan kembali karier bermainnya sekaligus membuka jalan menjadi salah satu manajer terhebat dalam sejarah sepak bola.

Dari pengalaman itulah Ferguson menyampaikan pesan kepada generasi muda. Menurutnya, seseorang tidak boleh melewatkan kesempatan terbesar dalam hidupnya, dan yang terpenting adalah mampu mengenali kesempatan itu ketika datang. Nasihat tersebut lahir dari pengalaman pribadinya sendiri yang hampir menyerah sebelum sempat membuktikan kemampuan.

Surat Fans dan Keputusan Sulit Menjual Paul Ince

Dalam sesi wawancara, Ferguson duduk di depan meja yang penuh benda kenangan dari kariernya. Salah satunya adalah topi kehormatan Skotlandia yang akhirnya ia terima pada 2021, atau 54 tahun setelah ia memperkuat negaranya. Topi itu diserahkan di Hampden Park pada malam ketika Scott McTominay, yang saat itu masih pemain United, mencetak gol kemenangan dramatis di masa tambahan waktu dalam laga 3-2 melawan Israel di kualifikasi Piala Dunia.

Ferguson juga mengenang bahwa dirinya merekrut McTominay sejak sang pemain berusia tujuh tahun. Selain topi tersebut, ada pula surat-surat lama dari penggemar United yang tidak senang dengan spekulasi penjualan gelandang Paul Ince ke Inter Milan pada musim panas 1995. Salah satu surat berbunyi agar Ince tidak dijual ke Inter karena Ferguson akan menyesalinya, sementara surat lain menyatakan kekecewaan seorang pendukung terhadapnya.

Ferguson mengakui Ince adalah pesepak bola yang luar biasa dengan kemampuan istimewa, tetapi ia punya perasaan bahwa sang pemain mulai terbawa suasana pada masa itu. Ketika tawaran Inter datang, ia menimbang-nimbang sambil melihat sosok Paul Scholes yang mulai siap. Setelah nilai tawaran naik dari 7 juta poundsterling menjadi 7,5 juta poundsterling, ia memutuskan untuk melepas Ince.

Bagi Ferguson, itulah inti pekerjaan seorang manajer: harus berani mengambil keputusan sulit, dan tidak semua keputusan bisa menyenangkan semua pihak. Di meja yang sama juga terdapat buku catatan berisi daftar kata yang biasa ia pakai saat berbicara kepada para pemainnya, termasuk nama Bernard “Monty” Montgomery—jenderal Perang Dunia II yang mengalahkan rival utamanya—dan mantan Perdana Menteri Winston Churchill. Nama Ince juga ada di daftar itu, dan Ferguson tertawa mengenang hal tersebut.

Ferguson pernah menyebut Ince dengan istilah “big-time Charlie”, dan kemudian mengakui penyesalannya atas ucapan itu sebagai sebuah kesalahan. Hubungan keduanya kini sudah membaik. Ferguson menyebut Ince sebagai sahabatnya, sosok yang pernah sering datang bermain snooker bersamanya dan masih mengiriminya pesan singkat.

“You Can’t Win Anything with Kids” dan Generasi Muda United

Pernyataan legendaris itu muncul dari mantan bek Liverpool dan Skotlandia, Alan Hansen, setelah tim muda United kalah 3-1 di markas Aston Villa pada Agustus 1995. Saat itu Ince yang berusia 27 tahun dan penyerang Mark Hughes yang berusia 31 tahun telah dilepas ke Inter dan Chelsea. Ferguson justru mengandalkan wajah-wajah muda seperti Ryan Giggs (21), Gary Neville (20), Scholes (20), dan David Beckham (20).

Pada akhir musim, keraguan Hansen terbantahkan total. Tim besutan Ferguson menutup musim dengan gelar ganda Premier League dan FA Cup. Ferguson menjelaskan bahwa kerja keras untuk memasukkan kembali pemain muda ke dalam klub membuat sekelompok pemuda itu tumbuh menjadi nyawa Manchester United.

Menurut Ferguson, para pemain muda tersebut tidak hanya punya kemampuan hebat, tetapi juga keinginan yang kuat untuk membuktikan diri. Ia mengenang bagaimana Beckham dipinjamkan ke Preston pada Maret 1995 dan sempat menyangka Ferguson ingin menyingkirkannya, padahal anggapan itu tidak benar. Beckham menjadi pemain yang paling lambat berkembang karena kondisi fisiknya, sebab meski akhirnya tumbuh setinggi enam kaki, ia kecil dan kurus saat masih muda.

Ferguson mengaku tidak pernah takut mengambil risiko dengan memberi kesempatan besar kepada pemain muda. Ia menyebut telah melakukan hal serupa ketika menangani St Mirren dan Aberdeen. Kepercayaannya sederhana: jika seorang pemuda diberi peluang, ada dua hal yang bisa terjadi—mereka bisa menjadi bintang nyata dan bisa tetap setia kepada manajer yang membesarkan mereka.

Penutup

Kisah Sir Alex Ferguson dalam wawancara ini memperlihatkan dua sisi yang jarang muncul bersamaan: seorang manajer paling ditakuti di sepak bola Inggris dan seorang pria tua yang berjuang mengembalikan suaranya setelah operasi otak. Dari kursi direksi Old Trafford hingga halaman-halaman Games of My Life, ia membuktikan bahwa ketangguhan bukan hanya soal trofi, melainkan juga soal kemampuan bangkit dari kelemahan.

Bagi para penggemar sepak bola, cerita Ferguson tentang hat-trick di Ibrox, surat-surat protes fans, dan kepercayaannya pada pemain muda adalah pengingat bahwa keputusan besar selalu datang dengan risiko. Yang tersisa bukan hanya 38 trofi, tetapi juga cara ia mengenali kesempatan ketika kesempatan itu datang—sesuatu yang ia ingin diwariskan kepada generasi berikutnya.