Konflik FIFA UEFA memasuki babak baru yang semakin panas setelah UEFA menyiapkan langkah hukum pidana terhadap presiden FIFA, Gianni Infantino. Langkah ini menyusul rencana kontroversial Infantino menjual sebagian kepemilikan kompetisi FIFA kepada investor swasta, yang akhirnya dibatalkan. UEFA bahkan menyebut adanya “mismanajemen kriminal” dalam skema yang dikenal sebagai FIFA Forward Enterprise (FFE).
Perseteruan ini berawal dari niat Infantino membuka nilai komersial FIFA dengan menggandeng investor swasta. UEFA menilai rencana itu merugikan FIFA dan 211 negara anggotanya, serta dilakukan secara rahasia tanpa proses lelang yang transparan. Alhasil, UEFA mengajukan permohonan ke pengadilan Amerika Serikat untuk mengakses bukti dan dokumen yang kelak bisa dipakai dalam litigasi di Swiss terhadap Infantino.
Konflik FIFA UEFA: Tuduhan Berat Dilayangkan di Pengadilan AS
Dalam dokumen hukum yang diajukan UEFA ke pengadilan AS, sederet tuduhan keras dilontarkan kepada Infantino. UEFA menyebut aksinya “meningkat ke tingkat mismanajemen kriminal” serta “pengabaian tugas yang mengejutkan”. Tak hanya itu, UEFA juga menuding adanya “harga pasar yang curang” yang dipromosikan Infantino demi keuntungan pribadinya.
UEFA mengklaim skema FFE memberikan nilai perusahaan yang “sangat rendah secara tidak masuk akal” kepada Piala Dunia, yang tidak lahir dari lelang kompetitif maupun pengujian penilai independen. Nilai Piala Dunia disebut-sebut hanya sekitar £15 miliar. UEFA menegaskan seluruh transaksi ini berlangsung “di balik tabir kerahasiaan” dan menimbulkan kerugian langsung bagi FIFA beserta 211 anggotanya.
Dokumen pengadilan itu juga menyebut “kroni-kroni” dan “rekan konspirator” Infantino, lengkap dengan bab khusus tentang “sejarah panjang korupsi di kalangan pejabat FIFA”. UEFA meminta akses bukti dari tiga pihak utama dalam permohonan yang diajukan ke pengadilan AS. Ketiga pihak tersebut adalah:
- FIFA, organisasi yang menaungi rencana FFE;
- Thrive Capital, perusahaan modal ventura yang ditunjuk sebagai investor utama FFE bersama pendirinya Josh Kushner;
- Greg Maffei, mantan bos Formula 1 yang disebut sebagai “penasihat komersial kunci” dalam kesepakatan tersebut.
Kronologi: Rencana FFE Runtuh dan Manuver Dukungan
Rencana FFE pertama kali terungkap lebih dari sebulan lalu, tetapi langsung ambruk beberapa hari kemudian. Meski sudah dibatalkan, gelombang penolakan dari berbagai pihak terus mengalir. Mantan pemain, politisi, hingga kelompok penggemar mengeluarkan pernyataan-pernyataan tajam yang semakin menekan Infantino.
Bahkan sempat beredar bocoran yang menyebut kekasih Infantino diberi pesangon saat ia masih berkarier di UEFA. Bocoran itu langsung dibantah Infantino sebagai “tidak benar secara kategoris”. Kendati demikian, isu ini menjadi amunisi baru bagi para penentangnya di tengah memanasnya konflik FIFA UEFA.
Infantino sendiri awalnya membela FFE sebagai sarana membuka potensi komersial FIFA, tetapi kemudian meminta maaf atas “kesalahan” yang terjadi. Di tengah tekanan, ia mendapat dukungan bersyarat dari Federasi Sepak Bola Arab Saudi yang menyatakan mendukung upayanya memulihkan persatuan. UEFA juga akhirnya mencabut ancaman boikot turnamen FIFA setelah mendapat jaminan bahwa FFE tidak akan diulang. Sementara itu, Infantino terus melakukan kunjungan ke berbagai negara, termasuk Republik Dominika, Paris, dan Vietnam yang disebutnya “luar biasa”, untuk menggalang dukungan.
Langkah Hukum UEFA dan Potensi Dampaknya bagi Infantino
UEFA kemudian meningkatkan tensi dengan menyiapkan proses hukum pidana. Langkah ini dinilai sebagai eskalasi dramatis yang membuktikan tekad UEFA untuk menjatuhkan Infantino. Namun, hingga kini Infantino dan FIFA belum memberi respons resmi, dengan alasan fokus menyelenggarakan Piala Dunia U-20 Wanita di Polandia.
Dalam permohonannya, UEFA juga menyoroti Josh Kushner, pendiri Thrive Capital yang merupakan saudara laki-laki dari menantu Presiden AS Donald Trump. Kushner baru saja sepakat membeli klub basket Los Angeles Lakers senilai £9,3 miliar. Beberapa pakar hukum menilai Kushner berpeluang menolak permintaan keterangan dengan alasan kerahasiaan bisnis dan kepentingan investasinya di masa depan.
Pengacara olahraga terkemuka, Nick de Marco KC, mengatakan kunci utama UEFA adalah membuktikan adanya kasus yang layak untuk proses pidana terhadap Infantino. Jika berhasil, UEFA bisa mendapatkan akses terhadap banyak dokumen penting yang diharapkan. Namun ia mengingatkan bahwa proses ini masih sangat panjang dan tahap awal hanyalah permohonan peng
