Kembalinya Jose Mourinho ke Real Madrid: Tantangan Terbesar?

Author:

Jose Mourinho kembali ke Real Madrid setelah 13 tahun meninggalkan Bernabeu, dan kali ini ia menghadapi tugas yang jauh lebih berat: mengembalikan kejayaan klub yang dua musim berturut-turut gagal meraih trofi. Manajer berusia 63 tahun yang menyebut dirinya ‘The Special One’ ini kini harus membuktikan apakah ia masih mampu mencapai level terbaiknya seperti masa-masa keemasannya dahulu. Pertanyaan besarnya adalah apakah keputusan presiden Florentino Perez untuk memanggil kembali sang pelatih merupakan langkah tepat atau justru sebuah perjudian besar.

Mourinho meninggalkan Real Madrid pada 2013 dengan status salah satu manajer paling sukses di sepak bola dunia. Kini, tiga belas tahun kemudian, ia dipercaya untuk membangkitkan Los Blancos yang sedang kehilangan daya saingnya. Berbagai kalangan, mulai dari pakar sepak bola Spanyol, mantan presiden klub, hingga pemain yang pernah dilatihnya, memberikan pandangan mereka tentang peluang sukses Mourinho di periode keduanya ini.

Kembali ke Real Madrid di Tengah Tekanan Besar

Sejak meninggalkan Madrid, Mourinho hanya mampu mempersembahkan satu gelar liga, yakni Premier League bersama Chelsea pada 2015 di periode keduanya. Petualangannya bersama Manchester United, Tottenham, Roma, Fenerbahce, hingga Benfica memang menghasilkan sejumlah kesuksesan di kompetisi piala, tetapi juga diwarnai gejolak yang tidak sedikit. Catatan inilah yang membuat banyak pihak meragukan apakah Mourinho masih memiliki sentuhan magis seperti dulu.

Pakar sepak bola Spanyol, Eduardo Alvarez, meyakini bahwa keputusan Perez memanggil Mourinho terinspirasi dari keberhasilan Carlo Ancelotti yang sukses di periode keduanya. Ancelotti saat itu melatih Everton dan dianggap sudah tidak berada di puncak kariernya, namun ketika kembali ke Real Madrid ia justru berhasil memenangkan Liga Champions. Alvarez menilai Real Madrid bukanlah klub yang berbasis manajer, melainkan berbasis pemain, sehingga pendekatan manajerial yang berorientasi pada pemain menjadi kunci keberhasilan.

Peringatan Keras dari Mantan Presiden Real Madrid

Ramon Calderon, yang memimpin Real Madrid periode 2006 hingga 2009, menyambut baik kembalinya Mourinho namun memberikan peringatan tegas. Ia mengingatkan bahwa pada periode pertamanya 13 tahun lalu, Mourinho terlalu banyak menunjukkan sikap protagonis dan kerap terlibat konflik dengan klub lawan, wasit, hingga media. Mantan presiden itu menilai Mourinho sering menyalahkan pihak lain atas kekalahan dan enggan mengambil tanggung jawab.

Calderon menegaskan bahwa Mourinho harus mengubah perilaku dan sikap para pemainnya dengan cara persuasi, bukan dengan paksaan. Ia harus menunjukkan bahwa metodenya adalah yang terbaik untuk seluruh tim, bukan hanya untuk kepentingan segelintir pemain. “Saya harap dia bisa berubah. Jika dia bersikeras mengulangi kesalahan yang sama, itu akan menjadi masalah,” ujar Calderon.

Periode pertama Mourinho di Madrid memang tidak bisa dipandang sebelah mata. Setelah membawa Inter Milan meraih treble winner pada 2009, ia berhasil mempersembahkan gelar La Liga, Copa del Rey, dan tiga kali berturut-turut membawa Madrid ke semifinal Liga Champions. Namun periode tersebut juga diwarnai persaingan sengit, ketegangan di ruang ganti, dan hubungan yang sangat fluktuatif dengan media Spanyol.

Apakah Mourinho Benar-Benar Berubah?

Jurnalis sepak bola Portugal, Duarte Monteiro, yang mengikuti langsung perjalanan Mourinho bersama Benfica musim lalu, meyakini bahwa jawabannya adalah tidak. Menurut Monteiro, karakter dan kepribadian Mourinho tidak berubah sama sekali, justru dunia di sekitarnya yang berubah. Pemain muda saat ini, para jurnalis, dan lingkungan sepak bola modern dinilainya tidak lagi seantusias dulu dalam menerima sosok Mourinho.

Monteiro menggambarkan gaya bermain Benfica musim lalu sebagai sesuatu yang “tidak terlalu menarik” karena Mourinho menerapkan pendekatan konservatif dengan prioritas berbeda antara kompetisi domestik dan Eropa. Meski demikian, ada beberapa momen gemilang, termasuk kemenangan 4-2 atas Real Madrid di fase grup Liga Champions sebelum akhirnya Benfica tersingkir di babak play-off. Hasil-hasil itu menunjukkan bahwa Mourinho masih mampu bersaing di level tertinggi, meski dengan gaya yang jauh dari kata menghibur.

Namun di balik hasil tersebut, Monteiro mencatat bahwa sifat lama Mourinho masih sering muncul ke permukaan. Ia menilai Mourinho setidaknya dua hingga tiga kali menunjukkan sikap agresif secara terbuka kepada sekelompok pemainnya. “Tidak semua pemain Benfica bersamanya musim lalu,” tegas Monteiro, yang mengindikasikan adanya perpecahan di dalam ruang ganti.

Kenangan Robert Huth: Keras, Tapi Selalu Adil

Robert Huth, mantan bek Chelsea yang membantu Mourinho meraih gelar Premier League berturut-turut pada 2005 dan 2006, memiliki pengalaman langsung merasakan metode kepelatihan sang manajer. Huth mengaku terkesan tetapi juga sedikit ketakutan saat berinteraksi dengan Mourinho. “Interaksi saya dengannya sangat brutal. Kalau dilihat kembali, intinya sederhana: jika kamu tidak tampil baik, kamu pergi,” kenang Huth.

Meski terdengar kasar, Huth menilai pendekatan tersebut justru tepat bagi pemain muda yang sedang mencoba membangun karier. Menurutnya, Mourinho sangat keras tetapi selalu adil dan jujur dalam berkomunikasi. Ketika seorang pemain tidak dimainkan, Huth mengaku selalu tahu persis alasannya, karena sang manajer tidak pernah meninggalkan pemainnya dalam ketidakpastian.

Di sisi lain, Mourinho juga dikenal sebagai sosok yang sangat peduli pada kehidupan pribadi para pemainnya. Jika ada pemain yang mengalami masalah keluarga atau persoalan di luar lapangan yang bisa memengaruhi performa, Mourinho selalu hadir memberikan dukungan. “Dia selalu orang yang menjunjung tinggi keluarga. Para pemain mengembangkan hubungan yang sangat manusiawi dengannya,” tambah Huth.

Bellingham Akan Bersinar, Tapi Bagaimana dengan Mbappe dan Vinicius?

Ruang ganti Real Madrid saat ini dipenuhi pemain bintang seperti Kylian Mbappe, Vinicius Junior, dan Jude Bellingham. Metode Mourinho selama ini sangat bergantung pada hubungan kuat dengan tokoh-tokoh kunci di tim serta komitmen total dari seluruh pemain. Menghadapi skuad sebesar ini akan menjadi ujian tersendiri bagi sang manajer dalam mengelola ego dan ekspektasi para pemainnya.

Huth yakin Bellingham akan sangat cocok dengan gaya kepelatihan Mourinho. “Saya pikir Bellingham akan sangat menyukai Jose. Dia akan berkembang pesat di bawah asuhannya,” ujar Huth. Namun ia menyimpan kekhawatiran soal Mbappe dan Vinicius, terutama karena ketika sesuatu tidak berjalan sesuai keinginan mereka, kabar negatif sering bocor ke media. “Bellingham adalah tipe pemain yang memberikan segalanya di setiap pertandingan. Jose menyukai hal semacam itu,” tambahnya.

Calderon pun mengingatkan bahwa ruang ganti yang penuh bintang bisa menjadi berkah sekaligus kutukan. “Ruang ganti penuh dengan bintang, dia memiliki skuad yang luar biasa. Tapi itu bisa menjadi masalah jika tidak dikelola dengan baik,” katanya. Kemampuan Mourinho dalam mengelola para superstar ini akan sangat menentukan sukses atau gagalnya periode keduanya di Bernabeu.

Dari Porto ke Bernabeu: Dua Tantangan yang Berbeda

Pada tugas pertamanya sebagai manajer di Porto, Mourinho sangat termotivasi untuk membuktikan kemampuannya di level tertinggi. Ia mengambil alih tim di pertengahan musim 2001-02 dan dengan percaya diri mengatakan akan menjadikan Porto juara pada musim berikutnya. Janji itu terbukti dengan keberhasilan meraih gelar Liga Portugal dan Piala UEFA pada 2003, lalu mempertahankan gelar liga serta menjuarai Liga Champions di musim berikutnya.

Monteiro mengakui bahwa versi Mourinho yang penuh ambisi itu mustahil diciptakan kembali. “Apa yang dilakukan Mourinho di Porto adalah pekerjaan sekali seumur hidup. Perbedaan besarnya adalah saat itu dia perlu membuktikan sesuatu. Sekarang dia hanya perlu membuktikan sesuatu kepada dirinya sendiri, dan terkadang itu tidak baik baginya,” jelas Monteiro.

Di usia 63 tahun, Mourinho sebenarnya tidak perlu lagi membuktikan apa pun dalam hal reputasi. Namun Real Madrid membutuhkan sesuatu yang berbeda dari sekadar nama besar. Tantangan terbesarnya kini bukan lagi soal taktik atau karisma, melainkan kemampuan untuk beradaptasi dengan generasi pemain yang berbeda dan membangun kembali kepercayaan yang sempat hilang.

Adaptasi adalah Kunci Kesuksesan

Mourinho masih memiliki pengetahuan sepak bola yang luar biasa, seperti yang diakui Huth. Namun untuk sukses di periode keduanya bersama Real Madrid, ia harus mampu meyakinkan para pemain bintangnya untuk percaya sepenuhnya kepadanya, sebagaimana para pemain Porto, Chelsea, dan Inter Milan pernah melakukannya. Tanpa kemampuan beradaptasi itu, kembalinya The Special One ke Bernabeu bisa berakhir dengan kekecewaan.

Real Madrid bukanlah klub yang mudah untuk ditangani, apalagi dengan tekanan publik yang sangat besar dan skuad penuh bintang yang menuntut hasil instan. Pertanyaan tentang apakah Mourinho masih mampu mencapai puncak kejayaannya hanya akan terjawab seiring berjalannya musim. Satu hal yang pasti: semua mata kini tertuju pada Bernabeu untuk menyaksikan apakah kisah lama dapat terulang atau justru menjadi akhir dari sebuah era.